Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #107

Pakaian Pengantin yang Terasa Kafan

Matahari sore perlahan meredup di ufuk barat Jakarta, menyisakan bias jingga kemerahan yang menembus celah jendela kaca besar kamar utama keluarga Danendra di Menteng. Di dalam ruangan bernuansa klasik Eropa itu, dua orang pelayan pria berpakaian rapi berdiri kaku menunggu instruksi. Di hadapan cermin besar berbingkai ukiran emas, Arga Danendra berdiri tegak bagaikan manekin hidup. Tubuhnya dipakaikan setelan jas pengantin pria berwarna hitam arang rancangan desainer kenamaan Italia, lengkap dengan dasi kupu-kupu beludru gelap yang melingkar sempurna di lehernya.

"Tolong rapikan sedikit bagian kerah sebelah kanannya, jangan sampai terlihat kaku," instruksi Ibu Samaira dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan seorang ibu yang sedang merangkai takdir putranya.

Arga sama sekali tidak melirik pantulan bayangannya di cermin. Tatapannya kosong, terpaku lurus pada lantai marmer putih yang mengkilap. Setiap kali pelayan menyentuh tubuhnya untuk merapikan letak jas mewah tersebut, Arga merasakan sesak yang teramat sangat di dalam dadanya. Pakaian mahal itu sama sekali tidak memancarkan aura kebahagiaan seorang pengantin baru; sebaliknya, bahan kain wol berkualitas tinggi tersebut terasa begitu berat, menekan pundaknya bagaikan timah panas yang siap meremukkan tulang rusuknya.

"Ibu, apakah semua sandiwara ini benar-benar harus dilakukan?" suara Arga terdengar serak, parau, dan dingin tanpa nyawa saat ia akhirnya membuka mulut memecah kesunyian kamar.

°˖✧✿✧˖°

Ibu Samaira menghela napas berat, melangkah mendekati putranya lalu merapikan lipatan saputangan sutra di saku dada jas Arga. "Arga, mengertilah. Ini demi kebaikan masa depanmu dan kelangsungan perusahaan keluarga kita. Kirana Humaira adalah gadis dari latar belakang terhormat yang sangat cocok bersanding denganmu."

Arga tersenyum sinis, senyuman pahit yang tidak sampai ke matanya. "Kehormatan? Kekayaan? Kalian mengukur segalanya dengan angka dan saham, tanpa peduli apakah jiwa di dalam raga ini masih bernapas atau sudah mati sejak lama," balas Arga tajam, membuat tangan ibunya terhenti di udara.

Di tempat terpisah, berjarak beberapa kilometer dari kawasan Menteng, suasana duka yang serupa namun dalam senyap sedang menyelimuti kamar suite mewah di hotel bintang lima tempat Kirana menginap. Di depan meja rias yang dikelilingi lampu-lampu putih terang, Kirana duduk diam membisu. Seorang perias profesional berwajah ramah tengah dengan telaten memoleskan bedak tipis dan perona pipi di wajah gadis itu, mempersiapkannya untuk jamuan makan malam resmi sebagai staf audit perwakilan Surabaya.

"Mbak Kirana, riasannya sudah selesai. Masya Allah, wajah Anda terlihat sangat anggun dan memesona dengan gaun malam bernuansa abu-abu mutiara ini," puji sang perias tulus sambil merapikan selendang sifon yang menutup anggun jilbab syar'i Kirana.

Kirana menatap pantulan dirinya di cermin kaca. Gaun malam panjang berpotongan elegan itu membalut tubuhnya dengan sempurna, dipadu dengan detail bordir perak yang mewah di bagian pergelangan tangan. Namun, di balik riasan sempurna yang menutupi lelah di wajahnya, mata Kirana menyuratkan kehampaan yang tak bertepi. Wajahnya sekaku es. Tidak ada senyum, tidak ada binar kebahagiaan.

"Terima kasih banyak," ucap Kirana pelan, suaranya begitu datar hingga membuat sang perias mengernyitkan dahi kebingungan merasakan atmosfer dingin di sekeliling gadis itu.

°˖✧✿✧˖°

Paralel kesedihan itu terus berlanjut di dua tempat yang terpisah jarak namun diikat oleh takdir yang kejam. Baik Arga maupun Kirana sama-sama berdiri di hadapan cermin perhiasan masing-masing, mengenakan pakaian terbaik yang dipersiapkan oleh lingkungan sekitar mereka untuk sebuah malam penentuan yang sangat mereka benci.

Di kamar Menteng, Arga menundukkan pandangannya, menatap manset lengan kemejanya yang berkilau karena hiasan batu permata imitasi. Pikirannya langsung melayang jauh kembali ke masa-masa beberapa pekan lalu di Surabaya. Ingatannya berputar pada kaos katun murah berwarna abu-abu kusam yang penuh dengan noda debu semen dan peluh keringat di area proyek konstruksi.

Saat itu, Arga sama sekali tidak mengenakan jas mewah berharga puluhan juta rupiah. Ia hanya mengenakan pakaian sederhana, memegang sekop besar, berdiri di bawah terik matahari demi melindungi Kirana dari serpihan kayu yang berjatuhan. Meskipun pakaian kerjanya kotor dan berbau debu proyek, masa-masa itu justru terasa jauh lebih terhormat, jauh lebih hidup, karena di sanalah ia bisa menggenggam tangan wanita yang dicintainya dengan penuh ketulusan.

"Kau tempat berhibur dalam kesedihan..." gumam Arga lirih mengulang bait puisi lama di dalam hatinya. "...kau tempat berteduh dalam keletihan."

Dan kini, di ruangan ber-AC dingin dengan wewangian parfum mahal yang menusuk hidung, pakaian pengantin berdesain megah ini justru terasa sangat kontras dengan kehampaan mutlak di dadanya. Pakaian formal itu sama sekali bukan busana pernikahan yang ia impikan; jas mewah itu terasa bagaikan sehelai kain kafan yang dipakaikan secara paksa untuk mengubur hidup-hidup cinta sejatinya kepada Kirana.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya