Deru mesin mobil mewah berkapasitas besar itu menyatu dengan dengung pendingin ruangan yang bekerja ekstra keras. Di luar kaca jendela yang digelapkan oleh lapisan film gelap, ibu kota berdenyut dalam ritme yang melelahkan. Kemacetan Jakarta sore hari menjelang malam merayap lambat di sepanjang jalan protokol. Deretan lampu kendaraan dari arah berlawanan memantulkan bias cahaya merah dan putih yang menyapu wajah Arga sekilas-sekilas, menciptakan ilusi garis waktu yang terputus-putus.
Suasana di dalam kabin mobil terasa jauh lebih dingin daripada suhu yang ditunjukkan pada panel digital di dasbor. Tidak ada musik instrumen yang biasanya diputar untuk meredakan ketegangan. Yang terdengar hanyalah gesekan kertas dari dokumen-dokumen penting yang dibolak-balik oleh tangan sang ayah, Fardhan, di kursi depan.
"Pastikan semua berkas kerja sama investasi tahap kedua ini sudah ditandatangani sebelum kita tiba di lobi hotel," suara Fardhan memecah keheningan kabin, berat dan tanpa kompromi. Matanya tidak lepas dari lembaran kertas di tangan.
"Sudah Ayah periksa semuanya sejak di rumah tadi. Tidak ada yang terlewat," jawab Arga datar dari kursi belakang, suaranya terdengar hampa, nyaris tenggelam oleh suara deru ban yang bergesekan dengan aspal basah sisa hujan.
Ibu Samaira yang duduk di samping Fardhan tidak mengatakan apa-apa. Jemarinya yang mengenakan cincin berlian tampak mengeratkan genggaman pada tas tangan kulit bermerek miliknya. Buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang terlalu kuat. Sesekali ia melirik ke arah Arga melalui pantulan kaca spion tengah, lalu menghela napas panjang dengan berat.
"Samaira, jangan terlalu tegang begitu. Perjalanan ini hanya formalitas untuk menyatukan dua kekuatan bisnis besar. Semuanya sudah diatur sejak berbulan-bulan lalu," ujar Fardhan tanpa mengalihkan pandangan dari berkasnya.
"Aku hanya... merasa ada yang mengganjal, Fardhan. Ini menyangkut masa depan anak kita," jawab Samaira dengan suara bergetar halus. "Apakah kita benar-benar tidak bisa mendiskusikannya sekali lagi di dalam perjalanan ini?"
"Diskusi apa lagi? Semua keputusan sudah bulat. Kehormatan keluarga kita dipertaruhkan di pertemuan malam ini," tegas Fardhan, menutup dokumennya dengan bunyi debam pelan yang sarat akan tekanan mutlak di dalam mobil.
°˖✧✿✧˖°
Kendaraan merayap maju beberapa meter sebelum kembali berhenti total di dekat persimpangan lampu merah yang padat. Klakson kendaraan bermotor bersahutan di luar sana, menciptakan simfoni kekacauan khas metropolitan yang kontras dengan kebisuan absolut di dalam kabin mobil keluarga Fardhan.
Arga menarik napas dalam-dalam di kursi belakang, mencoba mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa kian menipis di tengah sempitnya ruang mobil. Di dalam benaknya, sebuah rencana besar telah dirumuskan secara matang selama perjalanan berjam-jam dari kediaman mereka. Ia tahu betul konsekuensi dari apa yang akan ia lakukan nanti begitu mereka sampai di hotel. Jika ia tetap diam, maka hidup Kirana—gadis sederhana di Surabaya yang diam-diam mengisi hatinya—akan dihancurkan oleh ambisi perjodohan bisnis orang tuanya.
"Arga, apa kamu mendengarkan apa yang Ayah katakan tadi tentang kesiapan di hotel nanti?" tanya Fardhan tiba-tiba, melirik sekilas ke spion tengah untuk melihat putranya.
"Aku mendengarkan, Ayah," jawab Arga tenang, memajukan sedikit duduknya. "Tentang bagaimana kita harus menjaga citra perusahaan dan memperluas jaringan melalui aliansi keluarga."
"Bagus kalau kamu paham. Jadi, bersikaplah kooperatif selama kita melangkah masuk ke hotel nanti. Jangan tunjukkan ekspresi bosan atau acuh tak acuh," pesan Fardhan dengan nada memerintah.
"Aku akan bersikap profesional, Ayah. Sangat profesional," balas Arga penuh penekanan pada kata terakhirnya, menyembunyikan maksud tersembunyi di balik kalimat itu.
Samaira menatap anaknya lewat pantulan kaca dengan tatapan penuh selidik. Ada sesuatu yang berbeda dari pancaran mata Arga selama perjalanan ini; bukan lagi kepatuhan yang biasa ia tunjukkan, melainkan sorot ketenangan seorang pemuda yang sedang menyiapkan keputusan besar.
"Arga, ibu mohon... ikuti saja alurnya demi kebaikan kita semua," bisik Samaira lirih dari kursi depan, menoleh ke belakang sekilas. "Jangan melakukan hal-hal nekat begitu kita sampai nanti."
"Bu, kebaikan seperti apa yang sedang kita bicarakan di dalam mobil ini?" tanya Arga balik dengan suara rendah namun tajam. "Apakah kebaikan itu harus mengorbankan kebahagiaan hidup seseorang secara sepihak?"
"Ini bukan soal kebahagiaan sesaat, ini soal tanggung jawab sosial dan masa depan keluarga besar kita!" potong Fardhan dengan nada meninggi di kursi pengemudi.