Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #109

Langkah Gemetar Menuju Ballroom

Udara di dalam private dining room lantai dua belas Hotel Bintang Lima Grand Batavia terasa jauh lebih padat daripada oksigen yang semestinya dihirup oleh paru-paru manusia. Ruangan eksklusif itu didekorasi secara megah namun bersahaja, memadukan sentuhan modern kontemporer dengan ornamen-ornamen islami yang elegan. Rangkaian bunga sedap malam dan mawar putih segar tersusun rapi di setiap sudut meja makan panjang berlapiskan taplak linen impor berwarna gading, menyebarkan wewangian lembut yang sayangnya gagal meredakan ketegangan di dalam ruangan.

Di sisi timur meja panjang tersebut, keluarga besar Zhafran telah duduk menempati kursi mereka sejak lima belas menit yang lalu. Pak Zhafran, seorang pengusaha senior bertubuh tegap dengan garis wajah tegas dan sorot mata penuh otoritas, tampak sibuk merapikan lipatan serbet di pangkuannya. Di sebelah kanannya, sang istri—Ibu Ghoniyah—memakai busana muslimah berwarna pastel dengan kerudung senada yang tertata rapi. Namun, kecemasan paling nyata terpancar dari sosok gadis yang duduk tepat diapit oleh kedua orang tuanya: Kirana Humaira.

Kirana menundukkan kepalanya sedemikian rupa hingga pandangannya hanya terpaku pada piring porselen putih bersepuh emas di hadapannya. Ia tidak berani mendongak sama sekali, seolah gerakan sekecil apa pun akan memecahkan cangkang kerapuhan yang melindungi hatinya saat ini. Jemari lentiknya gemetar hebat di bawah meja, mencengkeram erat tali tas tangan kecil miliknya. Di dalam tas kulit berwarna hitam itu, terselip sebuah selembar surat perpisahannya untuk Rian—sebuah pengorbanan bisu yang harus ia bayar dengan kematian perlahan atas perasaannya sendiri.

"Kirana, tegakkan sedikit kepalamu, Nak," bisik Ibu Aisyah lembut namun tegas, menyentuh punggung tangan anaknya yang terasa dingin seperti es. "Keluarga Fardhan adalah mitra terhormat ayahmu. Tunjukkan sikap yang anggun dan santun malam ini. Jangan membuat ayahmu kehilangan muka di hadapan rekan bisnis terpentingnya."

"Iya, Ibu..." jawab Kirana dengan suara yang nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara dengung halus pendingin ruangan.

"Jangan khawatir, Ghoniyah. Putri kita anak yang penurut. Aku tahu dia mengerti betapa besar taruhan dari perjodohan strategis ini bagi kelangsungan perusahaan holding kita," timpal Pak Zhafran dengan nada suara bariton yang tenang, penuh keyakinan mutlak bahwa segala sesuatunya berada di bawah kendali penuh kekuasaannya. "Fardhan adalah sahabat lama yang tahu betul bagaimana cara memegang komitmen bisnis dan keluarga."

Kirana hanya bisa menelan ludahnya yang terasa tercekat di kerongkongan. Bagi ayahnya, pertemuan malam ini adalah bentuk perluasan dinasti bisnis dan penyatuan kekuatan korporasi raksasa. Namun bagi Kirana, pintu kayu besar di ujung ruangan sana tidak lain adalah gerbang algojo yang siap mencincang sisa-sisa kebebasan hidupnya. Ia merasa seperti domba kecil yang digiring ke altar pengorbanan tanpa memiliki hak untuk melayangkan protes, karena di pundaknya melekat beban bakti dan rasa hutang budi yang teramat besar kepada kedua orang tuanya.

°˖✧✿✧˖°

Beberapa meter di luar pintu kayu besar berukir emas tersebut, suasana koridor hotel tidak kalah mencekamnya. Lorong berkarpet tebal berwarna merah marun itu meredam setiap bunyi langkah kaki rombongan keluarga Fardhan yang baru saja keluar dari lift eksekutif. Setelah perjalanan panjang yang diisi oleh keheningan kaku di dalam mobil mewah, ketegangan kini mencapai puncaknya di ambang pintu masuk.

Fardhan berjalan di barisan paling depan dengan postur tegap, menampilkan topeng karisma seorang pemimpin korporasi besar yang tidak pernah mengenal kata gagal. Di belakangnya, Samaira melangkah dengan langkah ragu-ragu, wajahnya menyuratkan kekhawatiran mendalam yang tidak bisa disembunyikan lagi di balik pulasan riasan wajahnya. Sementara itu, Arga mengekor di posisi paling belakang dengan kepala sedikit mendongak, menatap lekat-lekat ukiran kayu mewah pada pintu ganda di hadapan mereka.

"Arga, rapikan letak kerah jasmu sekali lagi," bisik Fardhan tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar tajam dan penuh tuntutan kesempurnaan. "Ingat, malam ini kamu sedang membawa nama besar keluarga besar kita. Jangan coba-coba menunjukkan ekspresi membangkang seperti yang kamu lakukan di dalam mobil tadi."

Arga menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dadanya dengan udara berpendingin koridor hotel yang terasa hambar. Tangannya terulur perlahan untuk membetulkan letak kerah jas hitam berpotongan Italia yang melekat di tubuh atletisnya. Di balik ketenangan wajahnya yang dingin, badai besar sedang berkecamuk hebat di dalam kepalanya.

"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Ayah," jawab Arga datar, namun ada getar ketegasan yang sengaja ia biarkan lolos dalam intonasi suaranya.

Samaira yang mendengarkan percakapan itu dari tengah langsung merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mempercepat langkahnya sejajar dengan sang suami, lalu berbisik cemas, "Fardhan, kumohon... perhatikan anak kita. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam sana. Suasana hati Arga sejak dari rumah tadi tidak menunjukkan tanda-tanda kooperatif."

"Samaira, hentikan kecemasan yang tidak beralasan itu!" potong Fardhan dengan nada rendah namun penuh penekanan yang menghentikan langkah sang istri seketika. "Semua ini sudah diatur secara matang. Zhafran dan aku sudah menyepakati garis besar aliansi ini sejak bulan lalu. Tidak ada ruang bagi anak muda untuk merusak reputasi kita hanya karena drama percintaan kekanak-kanakan."

Arga mendengarkan perdebatan kecil kedua orang tuanya dengan senyum sinis yang terukir tipis di sudut bibirnya. Aliansi bisnis. Kata itu terdengar begitu menjijikkan di telinganya. Bagi Fardhan dan Pak Zhafran, anak-anak mereka tidak lebih dari sekadar bidak catur yang bisa digeser sesuka hati di atas papan geopolitik korporasi demi meraup keuntungan finansial yang lebih besar. Mereka sama sekali tidak peduli bahwa di sisi lain pintu kayu itu, seorang gadis tak bersalah juga sedang mengalami siksaan psikologis yang sama persis dengan apa yang ia rasakan.

°˖✧✿✧˖°

Kedua belah pihak yang terpisah oleh sekat kayu tipis itu kini sama-sama terjebak dalam ilusi kepatuhan semu. Di dalam ruangan, Kirana kembali meraba tas tangannya, memastikan lembaran surat perpisahan untuk Rian tidak kusut terlipat. Ia membayangkan wajah Rian—pria sederhana yang mencintainya apa adanya—dan perih yang teramat sangat langsung menghujam ulu hatinya. Bagaimana nanti reaksi Rian saat tahu dirinya telah dijual demi sebuah tanda tangan di atas akta nota kesepahaman bisnis? Pertanyaan itu berputar-putar tanpa henti, menciptakan denyut pening yang luar biasa di pelipisnya.

"Kirana, sayang... apakah kamu mendengarkan Ibu?" suara lembut Ibu Aisyah membuyarkan lamunan panjang Kirana.

Lihat selengkapnya