Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #110

Detik-Detik Sebelum Tirai Terbuka

Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom hotel mewah itu memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Di ruangan yang dipenuhi oleh aroma parfum mahal dan alunan musik instrumental piano klasik tersebut, ketegangan seolah dapat diraba dengan tangan kosong. Para pelayan hotel berlalu-lalang membawa nampan berisi gelas-gelas kristal berisi minuman anggur mahal, sementara para tamu undangan dari kalangan elit bisnis mulai menempati meja bundar mereka masing-masing.

Di meja kehormatan yang terletak tepat di tengah ruangan, dua keluarga besar berdiri saling berhadapan. Suasana hangat mendadak mendominasi udara dingin ruangan ber-AC tersebut ketika Pak Zhafran langsung berdiri dari kursinya yang empuk dan menyambut pelukan hangat dari Ayah Fardhan dengan tawa bahagia yang menggema.

"Ah, Fardhan! Sahabat lamaku! Akhirnya hari yang kita impikan sejak anak-anak kita masih balita tiba juga!" seru Pak Zhafran penuh rasa haru, menepuk-nepuk punggung sahabatnya dengan erat.

Ayah Fardhan tersenyum lebar, senyuman kemenangan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik wibawa bisnisnya akhirnya terukir nyata di hadapan kolega lamanya. "Benar sekali, Zhafran. Pertemuan malam ini adalah bukti nyata bahwa ikatan antara keluarga kita tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun."

Di sisi lain, pemandangan emosional yang serupa juga terjadi di antara para nyonya besar. Ibu Ghoniyah dan Ibu Samaira Danendra saling berpelukan erat dengan mata yang berkaca-kaca, meneteskan air mata kebahagiaan sejati yang tampak begitu tulus di tengah gemerlapnya dunia korporasi yang penuh intrik.

°˖✧✿✧˖°

"Ya Allah, Ibu tidak menyangka anak-anak kita akhirnya benar-benar akan disatukan dalam ikatan suci," bisik Ibu Ghoniyah dengan suara bergetar haru, membelai lembut punggung Ibu Samaira yang mengenakan selendang sutra senada.

"Iya, Ghoniyah. Semoga ini menjadi berkah terbaik untuk masa depan keluarga besar kita," balas Ibu Samaira lembut, menyeka sudut matanya yang basah oleh air mata haru.

Namun, di balik kehebohan pelukan hangat dan senyum bahagia para orang tua tersebut, atmosfer di sudut meja justru terasa sangat berbeda drastis. Arga Danendra masih berdiri sedikit di belakang, terhalang oleh bayangan tubuh ayahnya dan pilar marmer besar di dekat pintu masuk ballroom. Matanya sengaja diarahkan ke lantai marmer yang berkilau, menjaga pandangannya agar tidak tersorot lampu secara langsung, sekaligus mati-matian menahan gelombang amarah batin yang bergejolak hebat di dadanya.

Setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan lambat. Jas hitam pengantin yang ia kenakan mendadak terasa semakin panas dan menyesakkan saluran pernapasannya. Arga mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana, menggigit bagian dalam bibirnya hingga terasa asin oleh darah segar yang perlahan merembes.

Sementara itu, beberapa langkah dari tempat Arga berdiri, Kirana duduk tenang di ujung meja kehormatan. Gadis itu tetap menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajah sembapnya di balik balutan jilbab syar'i hitam anggun yang menutupi bahunya. Sepanjang perjalanan menuju meja tadi, Kirana sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk melihat siapa tamu terhormat yang disambut oleh pimpinan perusahaannya, Pak Zhafran. Ia mengira pertemuan ini hanyalah jamuan formal biasa bagi para staf audit berprestasi dari Surabaya.

°˖✧✿✧˖°

Kesalahpahaman emosional di antara kedua belah pihak kini berada di titik jenuh tertinggi. Di satu sisi, para orang tua tenggelam dalam euforia perjodohan bisnis yang mereka anggap sebagai puncak kejayaan dinasti keluarga. Di sisi lain, dua orang anak muda yang menjadi korban utama dari sandiwara ini sama-sama menunduk dalam kesunyian batin mereka masing-masing, tidak menyadari bahwa orang yang paling mereka cintai di dunia ini sedang duduk dalam satu ruangan yang sama, hanya berjarak beberapa meter saja dipisahkan oleh meja bundar berhiaskan mawar putih.

"Duduklah, Samaira, Fardhan. Mari kita nikmati hidangan malam ini sebelum pengumuman resmi pertunangan disampaikan kepada seluruh tamu undangan," ucap Pak Zhafran ramah sambil mempersilakan tamu kehormatannya duduk kembali di kursi utama.

Ayah Fardhan mengangguk puas, lalu menarik kursinya tepat di sebelah kiri Pak Zhafran. Namun, sebelum ia duduk, matanya menangkap sosok Arga yang masih berdiri mematung di dekat bayangan pilar pintu masuk ballroom. Pria paruh baya itu menyipitkan matanya tajam, memberikan isyarat keras agar sang putra segera mendekat ke meja utama.

Arga menarik napas panjang, mengeraskan rahangnya, lalu melangkah maju secara perlahan dengan langkah berat bagaikan membawa beban seberat tonase jembatan beton. Suara sepatu pantofelnya bergesekan pelan dengan lantai marmer, menciptakan irama monoton yang mengiringi detik-detik kehancuran dunianya.

Di kursi ujung meja, Kirana masih menunduk merapikan lipatan serbet kain di atas pangkuannya. Ia sama sekali tidak terusik oleh suara langkah kaki di belakangnya, sibuk menenangkan debar jantungnya sendiri yang mendadak terasa tidak nyaman sejak ia memasuki ruangan megah tersebut.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya