Suasana di dalam private dining room sebuah hotel berbintang lima di pusat ibu kota terasa begitu khidmat, namun bagi Arga, ruangan mewah tersebut mendadak berubah menjadi ruang hampa udara yang menipiskan pasokan oksigen di paru-parunya. Lampu kristal raksasa yang tergantung megah di langit-langit memantulkan pendar kemilau emas, menyinari meja makan panjang berbalut taplak putih bersih dengan tatanan porselen dan perak mewah di atasnya. Aroma mawar putih bercampur parfum ruangan berharga fantastis berhembus lembut dari sudut-sudut ruangan, menambah ketegangan yang merayap di setiap inci kulit Arga.
"Arga, majulah ke depan. Jangan membuat tamu-tamu terhormat kita menunggu lebih lama," titah Ayah Fardhan dengan suara bariton berat yang menginterupsi keheningan di kepala Arga.
Mendengar perintah sang ayah, Arga menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan gemuruh hebat di dadanya yang sudah bergejolak sejak ia memarkirkan mobil di area basement tadi. Dengan langkah pasti namun terasa kaku di bagian sendi-sendinya, ia mulai melangkah maju ke tengah ruangan, mendekati meja makan panjang tempat keluarga besar calon istrinya duduk menyambut kedatangannya. Setiap derap sepatu pantofelnya yang menghantam lantai marmer mengkilap terdengar begitu menggema di indra pendengarannya yang menegang.
Ia tiba di sisi kanan meja, tepat di hadapan dua sosok paruh baya yang menyambutnya dengan senyuman ramah. Dengan gerakan takzim yang sedikit kaku akibat rasa gugup yang melanda, Arga membungkuk sedikit dan mengulurkan tangan untuk menyalami Pak Zhafran, pria paruh baya berwibawa dengan setelan jas rapi, lalu beralih menyalami Ibu Ghoniyah yang memandangnya dengan binar mata penuh kasih keibuan.
"Selamat malam, Pak Zhafran, Bu Ghoniyah," ucap Arga dengan suara baritonnya yang tenang, meski batinnya bergolak hebat.
"Malam, Nak Arga. Wah, aslinya jauh lebih gagah daripada di foto ya, Pak," puji Ibu Ghoniyah sambil tersenyum ramah kepada suaminya.
Pak Zhafran mengangguk mantap, menepuk pelan pundak Arga. "Silakan tenang, Nak. Pertemuan malam ini adalah awal dari ikatan baik keluarga besar kita."
Namun, di balik keramahan itu, pikiran Arga mendadak kosong. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga besar, ia sengaja menghindari kontak mata dengan sosok gadis yang duduk di ujung meja seberangnya. Gadis itu mengenakan jilbab hitam dan cadar senada yang menutupi separuh wajahnya, membuatnya tampak begitu misterius di balik gemerlap cahaya lampu kristal. Arga merasa kikuk; ia tidak terbiasa dengan perjodohan lintas kota seperti ini, di mana ia harus menikahi seorang wanita pilihan orang tuanya tanpa pernah benar-benar mengenal latar belakang kesehariannya secara mendalam.
°˖✧✿✧˖°
Di sisi seberang meja, Kirana merasakan denyut jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Sejak detik pertama suara langkah kaki itu mendekat, ia merasa ada sesuatu yang bergetar hebat di dalam rongga dadanya. Dan ketika suara bariton pria itu mengucap salam menyapa kedua orang tuanya, seluruh saraf di tubuh Kirana mendadak tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.
Suara itu... batin Kirana berteriak dalam diam.
Suara bariton yang tegas namun berkarakter khas itu terasa sangat akrab di telinganya. Nada bicara, artikulasi, bahkan intonasi rendah saat pria itu menyebut nama orang tuanya, semuanya terpatri jelas dalam memori bawah sadar Kirana. Suara tersebut mirip sekali dengan suara Rian, seorang pengawas logistik proyek pembangunan infrastruktur raksasa yang selama berbulan-bulan selalu menemaninya berjibaku di bawah terik matahari Surabaya. Rian adalah rekan kerja yang cerdas, tegas, namun sering kali melontarkan candaan kecil untuk mencairkan suasana kerja yang melelahkan di lapangan.
Namun, detik berikutnya, Kirana segera menggelengkan kepalanya pelan di dalam hati, berusaha menepis delusi yang mulai merasuki akal sehatnya.
Tidak mungkin. Ini pasti hanya karena rindu, batinnya menyangkal keras. Rindu pada suasana proyek, rindu pada rutinitas lama, atau mungkin karena aku terlalu lelah menghadapi perjodohan mendadak ini sehingga pikiranku mulai mengada-ada.
Kirana menarik napas panjang di balik balutan cadar hitamnya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dunia ini begitu luas, dan kemiripan suara adalah hal yang lumrah terjadi. Rian si pengawas lapangan di Surabaya adalah seorang pekerja keras berkaus oblong dan helm safety, sementara pria yang berdiri di hadapan keluarganya malam ini adalah Arga—seorang eksekutif muda sukses dari Jakarta yang dipersiapkan keluarganya untuk menjadi imam masa depannya. Keduanya adalah dua dunia yang berbeda jauh.
Kendati demikian, rasa penasaran dan debaran aneh itu enggan surut. Tangan Kirana yang diletakkan di atas pangkuannya mengepal erat, mencengkeram kain gamisnya untuk meredam kegugupan yang kian menjadi-jadi. Ia merasa terjepit di antara rasa hormat kepada orang tua dan badai pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya.
°˖✧✿✧˖°
Keheningan kembali menyelimuti ruangan privat tersebut sesaat setelah perkenalan singkat selesai. Pak Zhafran dan Ayah Fardhan mulai membicarakan hal-hal ringan terkait kelancaran perjalanan keluarga Arga dari Jakarta ke kota ini, sementara Ibu Ghoniyah tampak memperhatikan gerak-gerik Arga dengan seksama.
Arga sendiri masih berdiri tegak dengan pandangan yang sesekali terarah ke piring makan di depannya atau ke arah dinding berlapis wallpaper motif klasik di sampingnya. Ia sama sekali belum berani menatap gadis di ujung meja. Baginya, menundukkan pandangan adalah bentuk penjagaan diri, sekaligus wujud rasa hormat sebelum akad benar-benar menghalalkan segalanya.
"Arga, silakan duduk di sebelah kiri Kirana. Kursi itu memang sengaja disiapkan untukmu," ujar Ibu Ghoniyah ramah, menunjuk kursi kosong di sebelah Kirana yang tertata rapi.