Suasana di dalam ruangan privat restoran hotel bintang lima itu terasa begitu senyap, seolah dunia di luar dinding kedap suara tersebut berhenti berputar demi menyisakan ruang bagi detak jantung yang berpacu kencang di dada masing-masing orang. Lampu kristal raksasa yang tergantung megah di langit-langit memantulkan pendar cahaya kekuningan yang elegan, jatuh tepat di atas meja makan panjang berbalut taplak linen putih bersih. Aroma wangi parfum mewah berpadu dengan harumnya hidangan pembuka yang baru saja disajikan, menciptakan atmosfer yang seharusnya tenang, namun justru terasa sangat menyesakkan bagi Arga dan Kirana.
"Kirana, Nak... ayo, angkat wajahmu. Jangan terus-menerus menunduk begitu," ucap Ibu Ghoniyah dengan nada lembut yang menyiratkan teguran halus sekaligus kasih sayang seorang ibu.
Kirana menarik napas dalam-dalam, berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa menipis secara drastis. Jemarinya yang dingin saling meremas di atas pangkuan, mencengkeram kain gamisnya dengan kuat untuk meredam gemetar yang menjalar hingga ke ujung kuku. Di dalam benaknya, sebuah rencana besar telah disusun rapi. Selama perjalanan panjang dari Surabaya ke Jakarta, ia sudah bertekad bulat. Pertemuan malam ini, yang diinisiasi oleh kedua orang tua mereka dalam rangka taaruf dan perjodohan bisnis keluarga, harus diakhiri dengan sebuah penolakan yang terhormat.
Ia tidak ingin hidup dalam ikatan pernikahan tanpa cinta, apalagi dipaksa menerima seorang pria asing pilihan keluarga demi melanggengkan kerjasama perusahaan. Kirana mengangkat dagunya, menegakkan punggungnya dengan anggun, bersiap menatap wajah pria di seberangnya. Ia berniat menyampaikan penolakan itu dengan sopan namun tegas, agar keluarganya tahu bahwa ia memiliki kendali atas masa depannya sendiri.
Di sisi seberang meja, Arga merasakan gejolak emosi yang tidak kalah hebatnya. Mengenakan setelan jas formal berwarna navy yang pas di badan, pemuda itu mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan seorang wanita yang selama ini menjadi satu-satunya alasan mengapa ia selalu menolak berbagai tawaran perjodohan dari sang ayah. Kirana—gadis cerdas asal Surabaya yang pernah bekerja bersamanya di lapangan proyek—adalah satu-satunya nama yang bertahta di hatinya. Arga bertekad, apa pun yang terjadi malam ini, ia harus menolak perjodohan paksa tersebut. Ia ingin menjaga kesetiaannya pada Kirana, meskipun ia sendiri tidak tahu di mana keberadaan gadis itu sekarang setelah proyek mereka selesai beberapa bulan lalu.
"Arga, sambutlah calon istrimu dengan tatapan hangat. Jangan kaku begitu," tukas Ayah Fardhan dengan suara berat yang penuh wibawa, memecah lamunan sang putra.
Mendengar instruksi sang ayah, Arga memantapkan hatinya. Ia mengangkat pandangannya secara perlahan, berniat menatap mata gadis yang duduk di ujung meja dengan ekspresi sedingin mungkin, agar sang gadis merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk menolak perjodohan ini terlebih dahulu.
°˖✧✿✧˖°
Mata mereka berdua bergerak serentak. Dalam sepersekian detik yang terasa begitu abadi, tatapan Arga dan Kirana akhirnya bertemu tepat di bawah kilauan cahaya terang dari lampu kristal ballroom.
Detik itu juga, waktu seakan berhenti berputar. Segala suara bising dari percakapan para orang tua di sekitar mereka lenyap seketika, menyisakan keheningan pekat yang mendengung di telinga keduanya. Napas Arga tercekat di kerongkongan. Matanya yang semula menyiratkan ketegasan dan penolakan mendadak melebar selebar-lebarnya. Seluruh otot di wajahnya mengeras, sementara otaknya menolak percaya pada apa yang sedang ditangkap oleh retinanya saat ini.
Gadis berbusana muslimah dengan balutan jilbab syar'i dan cadar hitam yang menutupi separuh wajah itu bukanlah wanita asing pilihan biro biro jodoh elit seperti yang ia bayangkan. Sepasang mata bulat dengan bulu mata lentik dan sorot penuh ketegasan itu... mata itu adalah mata yang sama yang selama berbulan-bulan menatapnya tajam di bawah terik matahari Surabaya.
"Ya Allah..." gumam Arga tanpa sadar, suaranya tercekat di tenggorokan, begitu lirih hingga nyaris tak terdengar.
Di sisi lain, Kirana membeku bagaikan patung es. Mulutnya sedikit terbuka, membentuk huruf 'O' kecil di balik kain cadar yang dikenakannya. Tas tangan kecil yang semula ia pegang erat-erat terlepas dari genggamannya, jatuh begitu saja ke atas pangkuan akibat jemarinya yang mendadak kehilangan seluruh tenaga.
Pemuda necis berjas mahal di hadapannya bukanlah eksekutif arogan dari Jakarta yang tidak ia kenal. Pria berahang kokoh dengan mata tajam yang kini menatapnya dengan penuh ketidakpercayaan itu adalah Rian—pria berkaus oblong lusuh dan helm safety yang selama ini diam-diam ia rindukan, pria yang selalu menemaninya berdebat soal dokumen logistik di bawah terik debu proyek, dan pria yang selama ini bayangannya selalu menghantui malam-malam sepinya!
Tidak mungkin... batin Kirana menjerit histeris. Ini pasti mimpi buruk. Rian si pengawas lapangan yang sederhana itu... dia adalah Arga Dirgantara? Pewaris tunggal perusahaan konstruksi raksasa ini?
°˖✧✿✧˖°
Suasana di meja makan mendadak berubah menjadi panggung sandiwara tanpa dialog. Keduanya terjebak dalam pusaran kejut yang teramat dahsyat, menatap satu sama lain dengan tatapan kosong yang sarat akan pertanyaan tak kasat mata.
"Ada apa, Arga? Kenapa kamu malah melongo seperti itu melihat Kirana?" tanya Ibu Ghoniyah dengan nada heran, merasa ada yang tidak beres dengan ekspresi putrinya dan pemuda di hadapannya.
"Tidak... tidak apa-apa, Bu," jawab Arga terbata-bata. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyadarkan dirinya dari halusinasi visual yang tengah ia alami. Namun, sosok wanita di hadapannya tidak kunjung memudar. Itu benar-benar Kirana. Gadis yang selama ini dikiranya hanya seorang staf lapangan biasa, ternyata adalah anak dari mitra bisnis terkemuka ayah mereka.
Kirana sendiri masih terpaku di tempat duduknya. Jantungnya berdetak liar, memompa darah begitu cepat hingga ia bisa merasakan denyutannya di pelipis. Seluruh rencana penolakan terhormat yang telah ia susun dengan susah payah selama di pesawat mendadak menguap begitu saja, terbawa angin entah ke mana. Otaknya lumpuh total. Bagaimana ia bisa menolak pria ini, sementara pria inilah yang selama berbulan-bulan mengisi hari-hari kerjanya, pria yang diam-diam telah mengukir tempat khusus di relung hatinya yang paling dalam?