Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #113

Tangis Haru di Balik Cadar

Suasana di dalam private dining room restoran hotel bintang lima itu mendadak sunyi senyap, seolah seluruh gravitasi di bumi ditarik ke tengah meja makan panjang yang bertahtakan piring-piring porselen mewah. Pendar cahaya kemilau dari lampu kristal raksasa di langit-langit seakan sengaja meredup, memfokuskan sorotannya pada dua insan yang kini saling melempar tatapan tak percaya. Udara di dalam ruangan terasa menipis, digantikan oleh gelombang emosi tak kasat mata yang menghantam dada siapa saja yang ada di sana.

"Ka-kamu..." kalimat Kirana tercekat rapat di tenggorokan, suaranya parau dan bergetar hebat di balik balutan cadar hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Detik itu juga, pertahanan diri yang telah ia bangun selama berminggu-minggu runtuh berkeping-keping. Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan di balik pelupuk matanya akhirnya tumpah ruah tanpa bisa dicegah. Bulir-bulir bening itu meluncur deras, membasahi pipinya dan meresap ke dalam kain cadar yang ia kenakan, menciptakan rasa sesak yang luar biasa di rongga dadanya.

Di seberang meja, Arga yang selama ini dikenal sebagai sosok eksekutif muda yang tegap, dingin, dan berwibawa mendadak kehilangan seluruh kemampuan bicaranya. Lidahnya terasa kelu, membeku di dalam rongga mulutnya. Pria berjas navy rapi itu terpaku di tempat duduknya, seolah ada beban tak kasat mata yang mendadak menghantam pundaknya begitu keras. Dadanya bergemuruh hebat, berdegup liar tidak beraturan oleh perpaduan rasa haru yang teramat sangat, kelegaan yang mendalam, serta kebahagiaan yang meledak-ledak di waktu yang bersamaan.

Pandangan mata Arga yang tajam kini melembut secara drastis. Genangan air mata yang hangat tampak nyata berkumpul di sudut matanya, mengancam untuk tumpah dari kelopak mata sang pangeran Menteng yang selama ini selalu tampil sempurna tanpa cela di hadapan publik. Ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan mempermainkannya dengan cara yang begitu indah dan mengharukan.

"Kirana..." panggil Arga lirih, nyaris seperti sebuah bisikan angin malam. Suara baritonnya yang biasanya tegas kini terdengar bergetar, sarat akan kerinduan yang selama ini ia pendam dalam-dalam di balik kesibukan proyek raksasa di Kota Pahlawan.

Pak Zhafran dan Ayah Fardhan yang duduk tidak jauh dari mereka saling berpandangan dengan kening berkerut. Mereka mengira reaksi emosional itu timbul akibat ketegangan atau rasa canggung yang berlebihan dari proses taaruf lintas kota ini. Namun, mereka sama sekali tidak mengetahui badai makna yang sedang berkecamuk di dalam jiwa kedua anak muda tersebut.

°˖✧✿✧˖°

Badai emosi itu semakin menjadi-jadi ketika akal sehat kedua belah pihak mencoba merangkai serpihan-serpihan teka-teki yang selama ini membingungkan hidup mereka. Selama berminggu-minggu sebelum malam ini, baik Arga maupun Kirana hidup dalam penderitaan batin yang luar biasa. Masing-masing dari mereka merasa tersiksa karena harus menolak perjodohan demi mempertahankan kesetiaan pada seseorang yang mereka anggap sebagai cinta sejati.

Arga dengan gigih menolak berbagai tawaran taaruf dari sang ayah karena hatinya sudah terkunci rapat untuk gadis galak penjaga dokumen logistik di Surabaya. Sebaliknya, Kirana juga bertekad bulat untuk melawan kehendak orang tuanya demi menjaga kenangan tentang Rian—si pengawas lapangan sederhana yang selalu menemaninya berdebat di bawah terik matahari debu proyek.

Namun, detik ini juga, kesalahpahaman besar itu runtuh berkeping-keping hanya dalam kurun waktu satu detik.

Ternyata, musuh bubuyutan yang setiap hari mereka tentang di lapangan, sosok yang mereka benci sekaligus rindukan, dan orang yang mereka jadikan alasan untuk menolak perjodohan paksa... adalah orang yang sama persis! Mereka selama ini saling menyiksa diri, saling merindukan dalam diam, dan saling menolak perjodohan demi mempertahankan satu sama lain tanpa pernah tahu bahwa takdir sedang mempertemukan mereka dalam balutan skenario yang paling menakjubkan.

"Ya Allah..." gumam Kirana di dalam hatinya, merutuki kebodohannya sendiri sekaligus memuji kebesaran Sang Pencipta. Skenario semesta ini terlalu megah untuk dicerna oleh akal manusia yang sempit.

Jiwa puitis Arga langsung bergaung keras di dalam kepalanya. Ia teringat bagaimana rumitnya jalan yang ia tempuh selama enam bulan terakhir di Surabaya. Semua lelah, debu proyek, perdebatan sengit mengenai keterlambatan material, hingga tatapan tajam di balik tumpukan blueprint bangunan, ternyata adalah cara Allah SWT merajut takdir hidupnya dengan wanita yang paling tepat.

Kirana tidak sanggup lagi menahan beban emosi yang menghimpit dadanya. Ia mengangkat kedua tangannya, menutup rapat wajahnya yang basah oleh air mata di balik cadar hitamnya. Tubuhnya bergetar hebat, dan isak tangis yang tertahan mulai meluncur dari bibirnya. Ia menangis sejadi-jadinya, bukan karena sedih atau terpaksa, melainkan karena rasa syukur yang teramat dalam.

°˖✧✿✧˖°

Isak tangis Kirana yang mendadak pecah membuat suasana di meja makan panjang itu berubah panik dalam sekejap. Ibu Samaira dan Ibu Ghoniyah yang duduk berdampingan langsung terperanjat dari kursi mereka, terkejut melihat perubahan drastis pada diri calon pengantin wanita yang mendadak menangis histeris di tengah acara jamuan makan malam.

"Ya ampun, Kirana! Nak, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" seru Ibu Ghoniyah dengan nada panik, segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah cepat menghampiri sang putri.

Lihat selengkapnya