Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #114

Terbongkarnya Misteri Penyamaran "Rian"

Suasana di dalam private dining room restoran hotel bintang lima itu sempat terbalut oleh keheningan yang sarat akan emosi, di mana isak tangis tertahan Kirana perlahan mereda menyisakan debar jantung yang masih memburu. Pendar cahaya kemilau dari lampu kristal raksasa yang tergantung megah di langit-langit ruangan seolah menjadi saksi bisu atas badai kejut yang baru saja menghantam dua keluarga besar tersebut. Ibu Ghoniyah masih mengelus lembut punggung putrinya dengan tatapan penuh kebingungan, sementara Ibu Samaira menatap putranya dengan sorot mata yang menuntut penjelasan.

Ayah Fardhan, pria paruh baya berwibawa dengan garis ketegasan yang jelas di wajahnya, mengerutkan dahi dalam-dalam. Ia memandang bergantian antara Arga yang berdiri tenang dan Kirana yang masih menunduk malu di balik cadarnya.

"Arga, Kirana, ada apa ini sebenarnya?" tanya Ayah Fardhan dengan suara berat yang memecah kesunyian, memotong atmosfer melankolis yang sempat mendominasi. "Kalian berdua bertingkah seolah-olah sudah saling mengenal sejak lama. Padahal, pertemuan malam ini adalah acara taaruf resmi pertama keluarga kita."

Mendengar pertanyaan langsung dari sang ayah, Arga menarik napas dalam-dalam. Ia merapikan sedikit kerah jas navy yang melekat di tubuh atletisnya, lalu melangkah pelan mendekati sisi kursi Kirana—tetap menjaga jarak aman yang sesuai dengan batasan syar'i. Setelah itu, pemuda itu berbalik badan sepenuhnya, menghadap langsung ke arah Ayah Fardhan, Pak Zhafran, serta kedua ibu yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Maafkan saya, Ayah, Om Zhafran, Ibu, dan Mama," ucap Arga memulai penjelasannya dengan nada suara yang tenang, terstruktur, namun menyiratkan ketegasan seorang pemimpin. "Sebelum malam ini, saya dan Kirana memang sudah saling mengenal dengan sangat baik. Bahkan, kami telah menghabiskan waktu berbulan-bulan bersama di lapangan."

Pak Zhafran mengangkat sebelah alisnya, sorot matanya yang tajam langsung menyelidik. "Berbulan-bulan bersama di lapangan? Maksudmu apa, Nak Arga? Bukankah kamu baru kembali dari menyelesaikan studi pascasarjana di luar negeri beberapa waktu lalu?"

"Betul, Om. Tapi sebelum saya resmi memegang posisi direksi di kantor pusat, saya meminta izin kepada Ayah untuk turun langsung, merasakan denyut nadi proyek kita yang paling vital," jawab Arga sambil melirik sekilas ke arah sang ayah.

Ayah Fardhan tertegun sejenak. Ingatannya langsung melayang pada permintaan putranya beberapa bulan lalu yang bersikeras ingin magang mandiri di lapangan sebelum menduduki kursi manajemen tinggi.

°˖✧✿✧˖°

"Dan di situlah cerita ini bermula," lanjut Arga dengan suara baritonnya yang menggema di dalam ruangan privat tersebut. Ia melipat kedua tangannya di dada, membiarkan ingatannya kembali menerawang pada terik matahari Kota Surabaya beberapa bulan silam. "Enam bulan lalu, saat proyek pembangunan perumahan skala besar milik perusahaan Om Zhafran mulai berjalan di bawah pengawasan grup kita, saya memutuskan untuk membaur."

Semua pasang mata di meja makan itu menatap Arga lekat-lekat, mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari mulut pemuda tersebut.

"Saya menanggalkan atribut saya sebagai lulusan S-2 manajemen bisnis, melepaskan jas formal dan sepatu pantofel saya, lalu mendaftarkan diri sebagai salah satu staf logistik lapangan," tutur Arga dengan senyuman tipis yang menyungging di sudut bibirnya. "Saya menggunakan nama panggilan biasa: Rian. Tanpa gelar kehormatan, tanpa fasilitas khusus, dan tanpa ada seorang pun di lokasi proyek yang tahu bahwa pemuda yang bertugas mencatat keluar-masuknya kantong semen itu adalah anak dari pemilik perusahaan."

Mendengar pengakuan blak-blakan itu, Ibu Samaira langsung terkesiap kecil. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sementara matanya membelalak tak percaya. "Ya Tuhan, Arga... jadi cerita tentang kamu menjadi buruh kasar di Surabaya itu bukan sekadar gurauan?" tanya Ibu Samaira dengan nada cemas bercampur takjub.

"Bukan, Mama. Itu benar-benar saya jalani," jawab Arga sambil tersenyum menenangkan sang ibu. Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Kirana yang kini mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kilas balik memori masa lalu di lokasi proyek. "Dan di proyek itulah takdir mempertemukan saya dengan Kirana."

Kirana menggigit bibir bawahnya di balik cadar hitam yang dikenakannya. Seluruh potongan teka-teki yang selama ini membingungkannya kini tersusun sempurna di dalam kepala. Pantas saja 'Rian' si pengawas logistik itu memiliki wawasan yang terlalu luas untuk ukuran seorang buruh biasa. Pantas saja pria itu sering kali mendebat argumen teknik sipilnya dengan standar manajerial tingkat tinggi yang sangat matang. Ternyata, sosok di hadapannya saat ini adalah Arga—pewaris sah perusahaan yang sengaja menyamar untuk menguji ketahanan mental dan operasional di lapangan!

"Jadi... pemuda bernama Rian yang selalu mendebat laporan opname harian saya, yang protes setiap kali jadwal pengiriman truk material terlambat, dan yang sering saya marahi karena dianggap kurang sigap... adalah kamu?" tanya Kirana dengan suara bergetar, memecah keheningan di antara mereka.

Arga mengangguk mantap, menatap lurus ke dalam mata bulat Kirana dengan binar penuh rasa bersalah sekaligus geli. "Ya, Kirana. Akulah Rian itu. Buruh logistik yang setiap hari kamuomeli di bawah terik matahari Surabaya."

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya