Benang Merah Takdir yang Sempurna
Penerimaan restu secara mutlak dari kedua orang tua dan momen romantis islami antara Arga dan Kirana.
°˖✧✿✧˖°
Lampu gantung kristal berukuran raksasa di langit-langit ruangan privat itu memancarkan ribuan bias cahaya yang menari-nari di atas permukaan meja makan berlapis porselen putih. Suasana di dalam restoran eksklusif lantai dua belas Hotel Bintang Lima Grand Batavia itu mendadak berubah menjadi sunyi senyap, diselimuti oleh kehangatan emosional yang teramat pekat. Ibu Ghoniyah dengan lembut merangkul pundak putrinya, mengusap punggung tangan Kirana yang masih terasa dingin akibat sisa-sisa kejutan yang luar biasa dahsyat. Suasana makan malam yang semula diprediksi oleh kedua keluarga besar sebagai arena pertempuran restu yang menegangkan dan penuh perdebatan sengit, kini bergeser drastis menjadi sebuah perayaan rasa syukur yang luar biasa mendalam.
"Ibu..." bisik Kirana pelan, suaranya terdengar begitu rapuh namun sarat akan kelegaan yang tak terkira. "Apakah semua ini benar-benar nyata? Aku tidak sedang bermimpi, kan?"
"Iya, Nak. Ini nyata," jawab Ibu Ghoniyah lembut sambil tersenyum hangat, air matanya sendiri perlahan menetes membasahi pipinya yang mulai berkerut dimakan usia. "Allah telah mempertemukanmu dengan jawaban dari segala doa yang selama ini kamu panjatkan di sepertiga malam dalam kesunyian."
Kirana mengusap sisa-sisa air mata di pipinya menggunakan ujung khimarnya yang berwarna pastel. Ingatannya melayang sekilas pada malam-malam panjang di kamarnya di Surabaya, ketika ia bersujud dalam sunyi, memohon kepada Sang Pencipta agar diberikan kekuatan untuk menerima takdir perjodohan bisnis ini, sekaligus memohon agar ia tidak dipisahkan dari bayang-bayang pria pekerja keras yang diam-diam telah merebut hatinya. Dan kini, di hadapan meja perjamuan megah di ibu kota ini, doa-doa itu terjawab dengan cara yang paling ajaib dan tak terduga oleh nalar manusia.
"Bagaimana mungkin semesta mempermainkan kita sedemikian rupa, Mas?" gumam Kirana lirih, menengadahkan wajahnya untuk menatap lurus ke arah Arga yang berdiri tidak jauh dari sisinya.
Arga membalas tatapan itu dengan binar mata yang memancarkan janji masa depan yang kokoh. "Semesta tidak sedang mempermainkan kita, Kirana. Semesta sedang merajut benang merahnya dengan sangat teliti, membuktikan bahwa ketulusan niat tidak akan pernah salah alamat."
°˖✧✿✧˖°
Surat perpisahan yang sempat ditulis oleh Kirana dengan tangan gemetar di atas meja kamar hotel tadi pagi—sebuah surat pilu yang ia tujukan untuk merelakan kepergian sang buruh logistik bernama Rian—kini terasa bagaikan sebuah lelucon takdir yang sangat indah. Semua rasa sakit, air mata, dan ketakutan yang sempat menghimpit dadanya selama berminggu-minggu menguap begitu saja tanpa bekas, tergantikan oleh rasa syukur yang membuncah memenuhi relung jiwanya.
Untuk Mas Rian,
Entah dari mana aku harus memulai surat ini, sementara jariku masih gemetar hebat dan air mataku tak kunjung berhenti menetes di atas kertas putih ini. Maafkan aku... maafkan segala keterbatasan dan kelemahanku sebagai seorang anak perempuan.
Pagi ini, Jakarta menyambutku dengan langit kelabu yang seolah mengerti betapa hancurnya isi dadaku. Orang tuaku telah membawaku ke tempat ini, mempertemukan keluargaku dengan sebuah nama asing—seorang pria dari keluarga terpandang yang telah dipersiapkan untuk menjadi pendamping hidupku. Aku tidak punya kuasa untuk menolak. Bakti kepada Ayah dan Ibu adalah garis batas yang tidak boleh aku langgar, meski itu berarti aku harus mengorbankan separuh dari jiwa dan hatiku.
Mas Rian... Ingatkah kamu saat kita berdiri di bawah terik matahari proyek Surabaya? Di antara debu dan tumpukan semen itu, kamu mengajarkanku arti ketulusan yang sesungguhnya. Kamu adalah rumah tempat aku merasa aman, tempat di mana lelahku seketika sirna hanya dengan senyumanmu. Tapi hari ini, takdir memaksa kita untuk berjalan di arah yang berlawanan. Kita terpisahkan oleh jurang status sosial dan takdir yang tidak berpihak pada kita.
Surat ini kuciptakan bukan untuk menuntutmu mengejarku, karena aku tahu kita tidak memiliki sayap untuk menembus dinding tebal keluarga kami. Surat ini adalah bentuk ikhlasku. Aku merelakanmu, merelakan segala kenangan indah kita di Surabaya, dan membiarkan diriku terikat pada janji suci yang bukan untukmu.
Jika di dunia ini kita tidak disatukan dalam satu pelaminan, maka aku akan terus mendoakan kebahagiaanmu dari kejauhan. Terima kasih pernah menjadi pelindung terbaikku, lelaki berhati tulus yang kusebut sebagai rumah.
Selamat tinggal, Rianku.
Dari Surabaya dengan segenap sisa air mata, Kirana