Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #116

Ketika Dua Dunia Bertubrukan

Dentang lembut lonceng jam dinding kuno berpadu dengan gesekan halus sendok perak di atas piring porselen putih gading. Di ruang privat bernuansa temaram dengan ukiran kayu jati keraton itu, aroma sedap malam bercampur kepulan uap hangat hidangan istimewa dan teh melati di atas meja panjang.

Di balik kemewahan ruangan yang dirancang sedemikian intim, Arga dan Kirana sempat merasakan debar jantung yang berdegup kencang. Suasana makan malam yang semula diprediksi akan menjadi arena pertempuran restu yang sarat ketegangan dan luka lama, kini perlahan bergeser ke arah yang sama sekali tidak mereka duga: sebuah perayaan rasa syukur yang luar biasa.

Kirana duduk di samping ibundanya, Ibu Ghoniyah. Jari-jemari lentik gadis itu meremas lembut ujung taplak meja berenda, berusaha menyembunyikan getaran halus di jemarinya. Di seberangnya, Arga duduk dengan punggung tegak, mengenakan kemeja batik tulis sutra motif parang gendreh bernuansa keemasan. Sorot mata Arga tampak tenang, menyimpan kesiagaan seorang kesatria yang siap membela kemuliaan wanita yang dicintainya.

"Ghoniyah, sahabat lamaku," sapa Ibu Samaira hangat, memecah keheningan yang sempat bergelayut canggung. "Apakah teh melati ini masih terasa sama seperti yang biasa kita nikmati berpuluh tahun lalu sewaktu kita masih mondok di pesantren putri dahulu?"

Ibu Ghoniyah tersenyum tipis seraya mengangguk perlahan. "Aromanya masih sama harumnya, Mbak Samaira. Namun kehangatan hati di ruangan ini jauh melampaui kehangatan teh di cangkir ini. Sejujurnya, saya sempat diliputi rasa takut yang amat besar saat melangkahkan kaki memasuki ruangan megah ini."

"Apa yang sebenarnya engkau takutkan dari seorang sahabat lama, Ghoniyah?" tanya Ibu Samaira dengan nada bicara yang begitu lembut, meruntuhkan seluruh kesan angkuh yang selama ini sempat menjadi prasangka keluarga. "Apakah engkau mengira aku akan menutup pintu silaturahmi ini selamanya?"

"Saya takut jika masa lalu dan kesederhanaan keluarga kami menjadi penghalang bagi kebahagiaan anak-anak kita," jawab Ibu Ghoniyah jujur. "Kami menyadari posisi kami, Mbak. Kirana hanyalah anak seorang pengusaha kecil sederhana, sementara keluarga besar Mas Fardhan Al-Ghifari dan Mbak Samaira adalah keluarga terpandang yang memiliki garis kehormatan panjang di kota ini."

Pak Fardhan Al-Ghifari berdeham pelan seraya meletakkan cangkirnya, lalu tersenyum bijaksana menatap kedua keluarga yang berkumpul. "Ibu Ghoniyah, janganlah memandang demikian. Kehormatan sebuah keluarga di sisi Allah tidak pernah diukur dari timbunan harta duniawi atau gelar kebangsawanan yang fana. Yang kami cari untuk mendampingi putra kami Arga adalah wanita yang memiliki kekayaan iman, kesucian akhlak, serta keteguhan budi pekerti."

"Dan seluruh sifat mulia itu ada di dalam diri putrimu, Kirana," potong Ibu Samaira dengan senyum yang merekah tulus di bibirnya.

Kirana yang menunduk terperangah pelan. Ia memberanikan diri bersuara lembut, "Ibu Samaira... benarkah demikian? Kirana merasa masih memiliki banyak kekurangan untuk dapat bersanding dengan Mas Arga."

"Kekuranganmu adalah ladang pahala bagi Arga untuk melengkapinya, Nak," sahut Ibu Samaira membelai lembut selendang Kirana. "Sebaliknya, kebaikan hatimulah yang selama ini menyadarkan kami akan arti ketulusan yang sejati. Kami telah mendengar betapa sabarnya engkau menghadapi fitnah dan prasangka tanpa pernah mendendam barang sedikit pun kepada siapa pun."

"Semua kepedihan itu Kirana serahkan kepada Allah semata, Ibu," jawab Kirana dengan mata berkaca-kaca menahan haru. "Kirana hanya memohon agar setiap helai langkah kami senantiasa dibimbing oleh rida-Nya selalu dalam kebaikan serta keberkahan hidup."

Arga menatap ibunya dengan keterkejutan yang membuncah bahagia di dalam dada. "Ibu... apakah Ibu benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapan Ibu barusan?" tanya Arga memastikan dengan binar mata penuh harap.

"Tentu saja, Arga anakku," jawab Ibu Samaira seraya mengangguk anggun. "Apakah Ibu pernah bercanda untuk urusan masa depan dan kebahagiaan anak lelaki kebanggaan Ibu? Malam ini kita berkumpul bukan untuk berselisih paham, melainkan untuk merajut kembali tali persaudaraan dan menyambut takdir yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan penuh rida dan ketulusan jiwa."

Pak Zhafran Al-Quthuz menimpali seraya mengusap dadanya lega, "Alhamdulillah ya Allah. Sungguh, malam ini dada kami yang sempit dilapangkan oleh keluhuran budi keluarga Mas Fardhan Al-Ghifari dan Mbak Samaira."

"Ini adalah kehendak Allah yang menyatukan hati kita semua, Pak Subroto," pungkas Pak Hendra dengan anggukan mantap. "Mari kita sambut jalan lapang ini dengan penuh kesyukuran dan keikhlasan hati yang murni."

°˖✧✿✧˖°


Keheningan yang menyusul kemudian bukanlah keheningan yang mencekam karena rasa waswas, melainkan hening yang diselimuti oleh keharuan mendalam yang menyentuh sanubari setiap jiwa yang hadir di ruangan itu. Tetes air mata pertama akhirnya luruh membasahi pipi pualam Kirana. Pertahanan ketabahan yang dibangunnya selama berbulan-bulan runtuh seketika, bukan karena kepedihan luka, melainkan karena rasa syukur yang terlalu penuh untuk ditampung oleh relung dadanya yang sempit.


Ibu Samaira bangkit perlahan dari kursinya, melangkah dua langkah mendekati tempat duduk Kirana dan Ibu Ghoniyah. Gestur yang tidak terduga itu membuat seisi ruangan menahan napas sejenak.


"Kirana, putriku yang salihah," ucap Ibu Samaira dengan suara yang sarat keibuan, menatap wajah gadis berhijab itu lekat-lekat. "Malam ini, di hadapan kedua orang tuamu yang mulia, suamiku, dan anak lelakiku, aku ingin menegaskan satu hal penting: tidak ada lagi sekat pemisah, tidak ada lagi keraguan, dan tidak ada lagi syarat yang tertinggal. Aku dan suamiku memberikan restu kami secara mutlak untukmu dan Arga."


Kata-kata itu terdengar bagai denting lonceng kebebasan bagi dua hati yang sekian lama terpenjara dalam ketidakpastian takdir.


"Mbak Samaira... terima kasih banyak atas kebesaran hati ini," lirih Ibu Ghoniyah dengan suara parau bercampur haru yang membuncah. "Doa-doa sepertiga malam kami akhirnya dijawab oleh Allah dengan cara yang paling indah. Kami tidak memiliki harta berlimpah untuk dibanggakan, kami hanya menyerahkan putri kami yang insya Allah taat pada agamanya."


"Kesalehan dan kesabarannya jauh lebih bernilai dari permata mana pun di muka bumi ini, Ghoniyah," balas Ibu Samaira seraya tersenyum teduh dan menggenggam jemari sahabatnya itu. Ia kemudian menatap Arga yang terpaku haru di kursinya. "Arga, anakku tercinta. Apakah kamu sungguh mengerti apa artinya sebuah restu orang tua yang telah terucap dengan ikhlas lillahi ta'ala di hadapan seluruh majelis keluarga besar ini?"


Arga segera mengangguk penuh takzim, menundukkan kepalanya sejenak sebagai tanda penghormatan tertinggi. "Saya sangat mengerti, Ibu. Restu ini adalah pintu surga dan titipan amanah yang tidak akan pernah saya sia-siakan barang sedetik pun dalam hela napas saya."


"Apakah engkau siap menjaga kehormatan dan kebahagiaan Kirana lahir batin?" tanya Pak Subroto menegaskan dari seberang meja dengan tatapan seorang ayah yang menguji.


"Demi Allah Yang Maha Menyaksikan, saya siap mempertaruhkan segenap jiwa dan raga saya untuk memuliakannya, Bapa," jawab Arga tegas tanpa ragu.


"Alhamdulillahirabbil'alamin," gumam Pak Hendra dan Pak Subroto serempak dengan nada khusyuk, mengamini ikrar tulus yang baru saja terpatri kokoh di antara dua keluarga besar yang kini telah melebur menjadi satu keluarga dalam naungan takdir ilahi.


°˖✧✿✧˖°


Kirana perlahan mengambil selembar saputangan sutra berenda putih dari dalam tas tangannya yang diletakkan di pangkuan. Dengan gerakan yang teramat anggun dan penuh kesantunan, Kirana perlahan mengusap sisa air matanya yang masih menetes di sudut-sudut matanya yang berkilau terkena pantulan hangat cahaya lampu tembaga. Dadanya yang semula sesak oleh debar ketakutan kini dipenuhi oleh kelegaan yang begitu sejuk, laksana tanah tandus yang disiram gerimis rahmat setelah kemarau panjang yang melelahkan.


Setelah merapikan helai hijabnya, Kirana memberanikan diri mengangkat pandangannya. Di seberang meja perjamuan, Arga masih duduk tegak seraya memandang ke arahnya. Pandangan mereka bertemu di udara ruangan yang kini terasa begitu tenang dan damai. Kirana menatap Arga dengan pandangan yang kini penuh dengan rasa hormat dan rida yang lahir dari ketulusan iman.


Arga membalas tatapan itu dengan binar mata yang mengunci janji masa depan—sebuah tatapan yang menyiratkan komitmen kokoh seorang nahkoda yang siap mengarungi samudra kehidupan bersama makmum terbaiknya. Senyum tipis yang sarat ketenangan terbit di sudut bibir Arga.


"Mas Arga," panggil Kirana lirih namun sarat keteguhan rasa cinta. "Terima kasih atas segala keteguhan hatimu untuk tidak pernah melepaskan genggaman doa di saat keadaan tampak mustahil. Jika bukan karena kesabaran Mas Arga menuntun dalam kesenyapan, mungkin Kirana sudah lama tersesat dalam keputusasaan yang melemahkan iman."


"Bukan kekuatanku semata, Kirana," jawab Arga lembut menenangkan sanubari. "Doamu di sepertiga malamlah yang mengetuk pintu langit hingga hati orang tua kita dilembutkan oleh Sang Maha Pemilik Hati. Aku hanyalah seorang hamba yang berusaha memantaskan diri untuk mendampingi wanita semulia dirimu. Bukankah Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada orang yang bersabar?"


"Engkau benar, Mas Arga," bisik Kirana tersipu dengan rona merah di kedua pipinya. "Kesabaran ini terasa manis karena berakar pada kepatuhan kepada syariat-Nya. Aku berjanji menjaga amanah baktiku padamu kelak dalam ketaatan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."


"Dan aku berjanji di hadapan Allah akan menjadi pemimpin yang membimbing langkahmu menuju rida-Nya dan surga-Nya," sambung Arga dengan tatapan tulus yang memancarkan keteguhan janji suci. "Aku tidak akan pernah membiarkan air matamu menetes karena duka lagi di sepanjang perjalanan hidup kita berdua kelak nanti."


"Mendengar ketulusan ikrarmu, jiwa Kirana merasa tenang dan terlindungi seutuhnya," balas Kirana seraya tersenyum teduh menatap masa depan yang kini terbentang cerah di hadapan mereka berdua.


"Kalian berdua adalah cermin kesabaran bagi kami yang tua ini," timpal Ibu Ghoniyah membelai lembut tangan putrinya. "Melihat kalian saling menghormati sebelum ikatan suci terjalin resmi, membuat hati ibu merasa sangat tenteram. Ibu tahu pasti, Kirana berada di tangan lelaki yang takut kepada Tuhannya."


"Saya bersaksi demi nama Allah, Ibu," sahut Arga mantap, meletakkan tangan kanannya di dada kirinya sebagai wujud sumpah nurani. "Saya akan menjaga Kirana sebagaimana Bapa dan Ibu telah merawat dan memuliakannya dengan penuh cinta sejak ia lahir ke dunia fana ini."

Lihat selengkapnya