Aroma sedap malam beradu dengan kepulan uap pindang iga garang asam yang tersaji di atas meja jati bundar berplitur gelap. Di ruang makan kediaman keluarga Zhafran malam itu, denting sendok perak yang beradu dengan porselen terdengar bagaikan ketukan metronom yang menghitung detik-detik kecanggungan. Enam cangkir teh melati masih mengepulkan kehangatan tipis, namun udara di sekelilingnya membeku oleh kesopanan formal yang terlalu dipaksakan.
Di sisi kiri meja, Ayah Fardhan duduk dengan punggung tegak sempurna. Kemeja batiknya licin tanpa cela, memancarkan wibawa khas pria yang telah menghabiskan puluhan tahun di meja perundingan korporat dan birokrasi kaku. Di sebelahnya, Ibu Samaira terus mengulum senyum menenangkan sambil sesekali menyentuh lengan sang suami, berusaha mencairkan ketegangan yang kentara di antara kedua keluarga.
Tepat di seberang mereka, Pak Zhafran menyandarkan punggungnya dengan senyum ramah di balik kumis tipisnya, didampingi Ibu Ghoniyah yang anggun dalam balutan gamis pastel. Dan di antara kedua pasang orang tua itu, duduk Kirana. Gadis itu menunduk begitu dalam seolah sulaman taplak meja adalah teka-teki paling rumit di dunia. Jemarinya meremas serbet makan di pangkuan, sementara rona merah padam menjalar tanpa ampun dari leher hingga daun telinganya.
Sementara itu, Arga duduk membeku di samping ibunya. Jas abu-abu arang yang dipakainya mendadak terasa mencekik leher. Tangannya yang biasa memegang sekop di proyek Surabaya kini basah oleh keringat dingin. Beberapa kali ia melirik Kirana, namun gadis itu sengaja buang muka, menyembunyikan keterkejutan yang masih membakar ubun-ubunnya semenjak pria itu melangkah masuk sepuluh menit lalu.
"Masakan Jeng Ghoniyah ini luar biasa nikmat," puji Ibu Samaira memecah keheningan dengan suara merdu. "Kuah garang asamnya benar-benar meresap, perpaduan belimbing wuluh dan rempahnya pas sekali di lidah. Daging iganya sangat empuk."
Ibu Ghoniyah tersenyum hangat, mengangguk santun seraya menuangkan teh melati. "Alhamdulillah kalau berkenan di lidah Jeng Samaira sekalian. Sengaja kami memasaknya khusus menyambut kedatangan calon besan dan Nak Arga yang baru pulang merantau dari Surabaya."
Mendengar kata 'merantau', Ayah Fardhan berdeham berat seraya meletakkan serbetnya. "Merantau yang tidak masuk akal, Jeng Ghoniyah. Dua bulan penuh anak ini menghilang tanpa kabar jelas. Hanya menitipkan pesan singkat bahwa ia sedang ekspansi mandiri. Kami pontang-panting mencarinya ke seantero kota."
"Bukan mandiri namanya kalau membuat orang tua jantungan setiap malam, Arga," tambah Ibu Samaira pelan, menatap putranya menegur penuh kasih. "Ibu sampai bernazar sedekah beras jika kamu pulang dalam keadaan selamat. Bersyukur kamu selamat sampai rumah."
Pak Zhafran tertawa kecil menengahi seraya melambaikan tangannya ramah. "Namanya anak muda, Kang Fardhan. Jiwa idealismenya sedang tinggi. Yang penting malam ini Nak Arga sudah duduk bersama kita dengan sehat walafiat."
Arga menghela napas panjang. Ia tahu, jika ia membiarkan perjamuan ini terus berjalan di bawah kepalsuan formalitas perjodohan buta, ia akan selamanya menjadi pengecut di hadapan gadis yang dicintainya dan kedua keluarga terhormat ini.
Perlahan, Arga meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring porselen. Ia menegakkan bahu, menatap lurus ke arah Pak Zhafran dan Ibu Ghoniyah, lalu menoleh pada kedua orang tuanya.
"Om Zhafran, Tante Ghoniyah... Ayah, Ibu," suara Arga mengalun mantap, berat namun sarat akan getar ketulusan. "Sebelum pembicaraan rencana lamaran keluarga ini berlanjut, ada satu kebenaran besar yang wajib saya pertanggungjawabkan malam ini."
Semua mata sontak memusatkan pandangan pada pemuda itu. Kirana bahkan menahan napasnya, mencengkeram jemari sendiri di balik meja.
"Pertanggungjawaban apa maksudmu, Arga?" tanya Ayah Fardhan dengan kening berkerut dalam. "Jangan membuat hal aneh yang mempermalukan ayah di sini."
"Bukan hal memalukan, Ayah," jawab Arga tenang seraya menatap Pak Zhafran. "Ini tentang dua bulan menghilangnya saya, dan tentang siapa saya sebenarnya di mata Kirana selama di Surabaya."
Pak Zhafran meletakkan cangkirnya dengan heran bercampur geli. "Maksudmu bagaimana, Nak Arga? Bukankah kalian baru pertama kali bertemu tatap muka malam ini?"
Arga menggeleng perlahan, tersenyum tipis sarat arti. "Tidak, Om. Kami sudah saling mengenal selama enam puluh hari di proyek depo logistik Tanjung Perak. Hanya saja... Kirana tidak mengenali saya sebagai Arga Fardhan Dirgantara. Di sana, nama saya adalah Rian. Rian, staf logistik lapangan yang mengurus distribusi sak semen, pasir, dan batu bata."
°˖✧✿✧˖°
Hening seketika menyergap ruang makan seluas empat puluh meter persegi itu. Jarum jam dinding antik di sudut ruangan seolah terdengar berdetak membentur dinding dengan gema yang sangat nyaring.
Ibu Ghoniyah mengerjapkan matanya berulang kali, separuh bingung separuh tak percaya. Ayah Fardhan tertegun kaku, sendok sup di tangannya menggantung di udara beberapa sentimeter di atas mangkuk porselen. Namun, reaksi paling dahsyat dan tak terduga datang dari Pak Zhafran.
Pria pemilik kontraktor raksasa itu terdiam tiga detik penuh, menatap Arga dari ujung rambut klimisnya hingga ke jas abu-abunya. Lalu, tanpa aba-aba, seulas senyum lebar terkoyak di bibirnya sebelum akhirnya meledak menjadi tawa yang sangat renyah, lepas, dan menggelegar ke seluruh penjuru rumah.
"BWAHAHAHAHAHA!"
Tawa Pak Zhafran menyapu seluruh ketegangan di udara bagaikan angin badai mengempaskan kabut tebal. Bahunya berguncang hebat, kedua telapak tangannya menepuk meja makan hingga cangkir teh melati berdenting riang.
"Astaghfirullah, Mas Zhafran! Istighfar! Jangan tertawa sekeras itu di depan besan, memalukan!" tegur Ibu Ghoniyah seraya mencubit kencang lengan suaminya, meski bibirnya sendiri tak sanggup menahan senyum geli yang merekah.
"Bagaimana aku bisa menahan tawa, Ghoniyah!" seru Pak Zhafran seraya menyeka sudut matanya yang basah oleh air mata geli. Ia langsung berpaling ke samping, menatap Ayah Fardhan lalu menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan keras dan akrab.
"Fardhan, demi Allah..! Jadi pemuda puitis yang diceritakan Kirana sampai menangis semalaman di kamar itu adalah kamu, Arga?!" goda Pak Zhafran seraya menunjuk Arga dengan telunjuknya yang bergetar menahan tawa. "Fardhan, kamu tahu tidak?! Anak-anak kita ini sutradara sandiwara tingkat dewa!"
Wajah Kirana seketika berubah merah padam sewarna delima ranum yang siap meledak. Gadis mandiri itu menutup separuh wajahnya dengan kedua telapak tangan, merintih tertahan. "Papa! Tolong hentikan, jangan buka rahasia Kirana di depan calon mertua!"
"Kenapa harus ditutupi lagi, Sayang?" goda Pak Zhafran tanpa ampun, tawanya masih tersisa dalam deru napasnya yang terengah-engah. "Tiga pekan lalu kamu pulang dari Surabaya dengan mata bengkak seperti panda! Kamu mengurung diri di kamar dua hari penuh sambil memeluk guling! Kamu bilang ke Mama ada staf logistik bernama Rian yang sangat bersahaja, rajin puasa Senin-Kamis, santun bicaranya, pandai mengutip bait Maulana Rumi, tapi mendadak lenyap tanpa kabar dan tidak meninggalkan nomor telepon! Kamu menangis karena patah hati sebelum dijodohkan!"
"Papa, sudah, ampun! Kirana mau pingsan rasanya karena malu sekali!" rengek Kirana dengan suara teredam bantal serbet makannya. "Jangan diceritakan semuanya, Pa!"
Deru tawa Pak Zhafran kembali membahana menggetarkan kaca lemari pajangan, menular cepat ke seluruh ruangan hingga suasana yang semula beku mencair menjadi pesta tawa keluarga yang sangat meriah.
°˖✧✿✧˖°
Ayah Fardhan yang biasanya kaku dan berwibawa tinggi kini ikut tertawa menggeleng-gelengkan kepala. Beliau berseru tak habis pikir di depan sahabatnya, "Sungguh di luar nalar sehatku! Anakku yang lulusan S-2 Turki rela memegang sekop dan semen di Surabaya hanya untuk melarikan diri dari perjodohan yang ternyata membawanya ke pelukan gadis yang sama!"