Aroma melati basah berpadu dengan wangi dupa cendana menyeruak lembut di ruang tengah yang beralaskan karpet beledu marun. Kirana duduk bersimpuh di sisi ranjang berhias kelambu renda, jemarinya yang dingin saling meremas di atas pangkuan kebaya songket merah muda. Napasnya masih tersengal pendek-pendek, sementara kedua bahunya yang ringkih sesekali terguncang oleh sisa isakan yang belum tuntas. Titik-titik air mata yang hangat luruh satu demi satu, membasahi bedak tipis di pipinya yang pias.
Tangan lembut berkerut halus menyentuh pipi Kirana, menyeka bulir bening itu dengan sudut sapu tangan sutra beraroma lavender. Ibu tersenyum teduh, tatapan matanya menyimpan telaga pengampunan dan kasih sayang yang teramat luas.
"Sudah, Nduk... Usap air matamu," bisik Ibu lembut, suaranya bergetar menahan haru yang sama besarnya. "Jangan biarkan air mata duka mengotori hari yang telah dipersiapkan Gusti Allah seindah ini."
Kirana mendongak dengan bibir bergetar hebat. "Ibu... apakah ini bukan mimpi? Katakan padaku bahwa saat aku memejamkan mata nanti, aku tidak akan terbangun di kamar hotel yang dingin dan sepi itu lagi."
"Ini nyata, Kirana. Sangat nyata, anakku," Ibu merengkuh pundak putrinya, membawa kepala Kirana bersandar pada dekapan hangat yang selama berminggu-minggu terasa begitu jauh tak tergapai. "Rengkuhlah rasa syukurmu. Jangan lagi ada ketakutan di dalam dadamu."
"Tapi bagaimana mungkin, Bu?" rintih Kirana seraya menatap pantulan dirinya di cermin rias yang buram oleh uap keharuan. "Baru tadi malam pintu rumah ini terkunci begitu rapat untuk Mas Arga. Baru tadi malam pula Bapak bersumpah tidak akan pernah merestui hubungan kami atas nama martabat trah keluarga. Bagaimana semua dinding batu itu bisa runtuh hanya dalam hitungan fajar?"
Ibu menghela napas panjang, tersenyum dengan mata berkaca-kaca sebelum berbisik, "Hati manusia berada di antara dua jari-jemari Sang Maha Pembolak-balik Hati, Kirana. Bila Dia menghendaki kelembutan pada batu karang yang paling keras sekalipun, karang itu akan luluh menjadi pasir yang bersujud."
Kirana terpekur. Pikirannya melayang mundur ke beberapa jam lalu—pada sunyinya sepertiga malam di kamar nomor empat ratus dua hotel pinggiran kota. Malam tadi, saat seluruh dunia terlelap dalam buaian mimpi, Kirana terjaga beralaskan sajadah lusuh yang lembap oleh air mata keputusasaan. Ia mengingat bagaimana ia menempelkan keningnya ke lantai dingin berulang kali, merintih tanpa suara hingga tenggorokannya tercekat perih.
"Ya Rabb..." gumam Kirana mengulang bisikan doanya sendiri di sepertiga malam itu. "Jika baktiku pada Ayah dan Ibu menuntut matinya cintaku pada Arga, berikanlah aku keikhlasan untuk binasa tanpa dendam. Namun jika cinta ini adalah titipan-Mu yang suci, bukakanlah pintu restu yang tertutup rapat tanpa harus melukai secuil pun kehormatan orang tuaku."
Kala itu, Kirana mengira doa tersebut hanyalah salam perpisahan bagi jiwanya yang sekarat. Ia pasrah menerima nasib sebagai anak berbakti yang harus mengubur asa sendiri. Namun apa yang terjadi menjelang pukul delapan pagi tadi membalikkan segalanya. Bapak sendiri yang mengetuk pintu kamarnya, bukan dengan amarah atau hardikan kaku, melainkan dengan tatapan mata seorang ayah yang baru saja disadarkan oleh ketulusan yang tak ternilai.
"Ibu tahu apa yang kau bisikkan di sajadah malammu, Kirana," potong Ibu seraya mengelus helai rambut putrinya yang tersemat rapi di balik sanggul modern. "Ibu juga seorang perempuan. Doa seorang wanita yang terluka demi menjaga kehormatan orang tuanya menembus tujuh lapis langit tanpa hijab."
"Ibu mendengar rintihanku dari kejauhan?" tanya Kirana pelan.
"Bukan Ibu yang mendengar, melainkan Tuhan yang mengetuk pintu sanubari Bapakmu," sahut Ibu menatap mata Kirana dengan keteguhan batin. "Bapakmu terbangun menjelang subuh dengan dada yang bergemuruh sesak. Beliau bermimpi melihatmu berdiri di tepi jurang berselimut kabut, namun tangan Arga-lah yang menahan tubuhmu dari kejatuhan, sementara tangan kami berdua justru sempat mendorongmu menjauh. Saat itulah Bapakmu menangis dan berkata, 'Ibu, kita hampir saja membunuh anak kita sendiri demi harga diri semu.'"
Mendengar penuturan itu, Kirana mendekap dada kirinya yang berdenyut ngilu namun hangat. Segala rasa perih, sesak napas yang mengimpit rongga dadanya selama berminggu-minggu, kini terbasuh tuntas oleh rida yang mengalir bagai telaga zamzam. Doa yang ia panjatkan dalam kepasrahan total di sepertiga malam itu telah dijawab oleh semesta dengan cara yang paling mustahil, melampaui segala perhitungan nalar manusia.
°˖✧✿✧˖°
Pintu geser kayu jati berukir sulur bunga perlahan berderit pelan, memecah keheningan sakral di ruangan rias tersebut. Kirana perlahan menegakkan punggungnya, dipandu oleh genggaman tangan Ibu yang hangat dan menenangkan. Di ambang pintu, seorang pria melangkah masuk dengan ketenangan yang luar biasa. Arga berdiri di sana—tubuh tegapnya berbalut beskap sutra berwarna perak keabuan yang dirancang senada dengan kebayanya.
Pandangan mereka bertubrukan di udara, mengunci satu sama lain dalam pusaran rasa yang sukar dilukiskan kata-kata. Tidak ada lagi gurat kecemasan di dahi Arga; yang tampak hanyalah binar mata yang jernih, penuh wibawa, dan memancarkan rasa takjub yang mendalam.
"Mas Arga..." gumam Kirana hampir tak bersuara, napasnya tertahan di pangkal tenggorokan.
Arga melangkah mendekat dua langkah, lalu membungkuk hormat menyalami tangan Ibu Ghoniyah ibunya Kirana terlebih dahulu sebelum duduk bersila di hadapan Kirana. Senyum tipis yang amat dirindukan Kirana tersungging di sudut bibirnya.
"Mengapa kau masih memandangku seperti sedang melihat hantu, Kirana?" tanya Arga, nada baritonnya terdengar begitu lembut, menghangatkan setiap sudut hati Kirana yang sempat membeku.
"Aku hanya... merasa duniaku berputar terlampau cepat," sahut Kirana dengan suara bergetar seraya menundukkan pandangan sesaat. "Pagi tadi, sebelum matahari menyentuh ufuk, aku masih yakin bahwa hari ini adalah hari pemakaman bagi perasaanku padamu."
Arga tersenyum masygul, tangannya merogoh saku dalam beskapnya dan mengeluarkan secarik kertas lipat berwarna gading yang tampak sedikit kusut di bagian tepinya. "Maksudmu... kau masih memikirkan kertas yang kau tinggalkan di atas nakas kamar hotel nomor empat ratus dua ini?"
Wajah Kirana seketika memerah jambu. Matanya membelalak kaget menatap surat itu. "Mas Arga... kau menemukan surat itu?"
"Tentu saja aku menemukannya," sahut Arga seraya menatap lembaran kertas itu dengan tatapan geli bercampur haru yang sarat makna. "Kamar hotelmu kau tinggalkan tanpa terkunci rapat. Kau menulis surat perpisahan sepanjang empat halaman dengan tinta yang luntur oleh tetesan air mata. Kau menulis bahwa takdir kita telah tamat, kau memintaku mencari perempuan lain yang direstui keluargamu, dan kau mendoakan kebahagiaanku dari kejauhan."
Kirana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena rasa malu yang teramat sangat. "Tolong jangan dibacakan lagi, Mas. Rasanya kini surat itu terdengar seperti lelucon paling konyol dan kekanak-kanakan di muka bumi."
"Bukan lelucon, Sayang," ujar Arga dengan nada yang mendadak berubah khidmat dan meneduhkan, membuat Kirana menurunkan tangannya kembali. "Surat perpisahanmu adalah prasasti ketulusanmu. Di saat orang lain mungkin memilih memberontak atau kawin lari, kau justru memilih menghancurkan hatimu sendiri demi baktimu pada orang tuamu. Justru karena surat itulah, aku bersumpah di depan Bapakmu subuh tadi bahwa aku tidak akan pernah melangkah pergi tanpa membawamu bersamaku."
°˖✧✿✧˖°
Kata-kata Arga menyentak kenangan pahit yang sempat merajai batin Kirana selama sebulan terakhir. Bayang-bayang kelam itu berkelebat laksana gulungan film usang di benaknya—tekanan mental yang membuat tubuhnya susut lima kilogram, malam-malam tanpa lelap yang diisi perdebatan sengit di meja makan, serta tatapan dingin sang ayah yang menudingnya sebagai anak pembangkang adat.
Kala itu, Kirana terperangkap dalam jurang batin yang menganga lebar. Di satu sisi, ia adalah putri sulung yang memikul kehormatan nama besar keluarga; di sisi lain, jiwanya telah tertaut mati pada integritas dan keikhlasan Arga.