Dua Sujud Satu Muara

Amrullah Ibrahim
Chapter #119

Cincin Warisan dan Restu Mutlak

Gemuruh angin senja merayapi kisi-kisi jendela kayu jati di kediaman keluarga Zhafran. Udara Maghrib yang mulai turun berbaur harum melati basah dan sedap malam yang diletakkan Ibu Ghoniyah di serambi utama. Di balik pintu kamar berkusen lengkung, Kirana duduk tegak di bibir ranjang dengan jemari saling meremas erat. Napasnya terdengar tipis, menahan debar yang sejak siang menghantam rongga dadanya tanpa jeda. Di cermin rias, bayangan dirinya yang berbalut gamis sutra broken white dengan khimar panjang tampak hening, menyimpan sejuta untaian doa ke hadirat Ilahi Rabbi yang Maha Pengasih.

"Kirana, tenangkan hatimu, Sayang. Perbanyaklah istighfar dan zikir petang," bisik Ibu Ghoniyah lembut seraya mengusap pundak putrinya dengan kehangatan seorang ibu. "Pintu gerbang depan baru saja dibuka mang Ujang. Rombongan keluarga besar Fardhan sudah tiba di pelataran halaman rumah kita."

Kirana menatap manik mata ibunya dengan binar berkabut. "Ibu... apakah Ayah benar-benar sudah ikhlas membuka pintu untuk Mas Arga? Kirana sangat takut bila perselisihan keluarga itu kembali mengaburkan hati Ayah saat duduk di ruang tamu nanti."

"Ayahmu memang lelaki berprinsip keras bagai karang, Nak," tutur Ibu Ghoniyah seraya merapikan khimar Kirana. "Namun semalam suntuk, Ibu melihat sendiri bagaimana beliau bersujud dalam tahajudnya. Hatimu dan masa depanmu tidak pernah lepas dari munajatnya. Percayalah pada takdir Allah. Arga datang membawa adab luhur, dan kita wajib menyambutnya dengan kemuliaan serupa."

"Apakah Mas Arga benar-benar siap menghadapi ketegasan Ayah, Bu?" tanya Kirana lirih bergetar. "Ayah sangat teguh dalam menguji calon imam bagi anak perempuannya."

"Arga pemuda beriman yang bertanggung jawab, Kirana," sahut Ibu Ghoniyah tersenyum menguatkan. "Keluarganya tidak akan datang sejauh ini jika hatinya masih diliputi keraguan. Pasrahkan segalanya kepada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia."

"Semoga Allah melapangkan dada Ayah malam ini dan memudahkan seluruh urusan kita semua," bisik Kirana tertunduk seraya mengusap dadanya yang berdebar kencang.

Di ruang tamu berlantai marmer krem, derap langkah kaki terdengar mantap. Arga Fardhan melangkah masuk mengenakan batik parang barong arang dan emas gelap. Wajahnya tegas, bersih, memancarkan wibawa pemuda yang terlatih menundukkan pandangan. Di samping kirinya, melangkah Ibu Samaira dengan gamis ungu anggun bersulam sutra halus.

Pak Zhafran yang duduk di sofa jati berkopiah hitam menatap tajam ke arah pintu masuk. Wajahnya mengeras sejenak sebelum bibirnya berucap dengan wibawa mendalam. "Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, keluarga besar Fardhan. Silakan duduk di tempat yang telah kami sediakan untuk para tamu kehormatan."

"Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Pak Zhafran, Bu Ghoniyah," jawab Arga tenang seraya meletakkan telapak tangan kanan di dada kiri tanpa mengulurkan jabat tangan yang melanggar batas mahram. "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah meridhai langkah kaki kami hingga sampai di kediaman Bapak yang penuh berkah ini."

"Kami sangat bersyukur atas sambutan hangat Bapak sekeluarga pada malam yang mulia ini," sambung Arga santun tertunduk penuh rasa takzim.

"Terima kasih telah menerima silaturahmi hangat kami dengan tangan terbuka," imbuh Ibu Samaira tersenyum teduh.

Setelah secangkir teh melati hangat disuguhkan, Ibu Samaira menghela napas panjang seraya menatap Pak Zhafran. Di sinilah peristiwa pemicu itu bermula. Dari dalam tas beludru hitam yang dibawanya, tangan lembut Ibu Samaira perlahan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan persegi beludru merah marun tua dengan ukiran kuningan kuno yang sakral.

"Pak Zhafran dan Mbak Ghoniyah yang kami muliakan," ucap Ibu Samaira dengan suara bergetar haru. "Kedatangan kami petang ini bukanlah untuk mengungkit luka masa lalu yang retak oleh praduga duniawi. Putra saya, Arga, telah lama mematri niat sucinya di hadapan Allah. Dan sebagai pembuka jalan menuju ridha-Nya, kami membawa pusaka terpenting keluarga besar Fardhan ke hadapan Bapak dan Ibu sekalian untuk mengikat janji suci ini."

"Kotak pusaka ini telah kami simpan dengan penuh kehormatan selama puluhan tahun demi menanti wanita yang benar-benar diridhai Allah untuk putra kami," lanjut Ibu Samaira seraya meletakkan kotak beludru merah marun itu tepat di tengah meja jati berpahat teratai, memicu debar hening yang menyengat seisi ruangan. "Kami berharap niat tulus ini disambut dengan kebaikan."

"Insya Allah, niat baik yang didasari ketakwaan akan selalu menemukan jalan kemuliaan," sahut Pak Zhafran pelan namun sarat ketegasan.

°˖✧✿✧˖°

Kotak beludru merah marun itu seolah menyedot seluruh gravitasi udara di ruang tamu. Pak Zhafran memandang benda pusaka itu tanpa berkedip dengan sorot dingin dan menguji.

"Arga Fardhan," suara berat Pak Zhafran memecah kesunyian yang mencekam. "Apakah kotak pusaka peninggalan kakekmu ini sengaja kau bawa untuk menyilaukan mata seorang ayah, atau sekadar tameng nama besar keluargamu agar kami gentar menolak lamaranmu?"

Suasana mendadak membeku sejenak. Arga menarik napas dalam seraya menundukkan pandangan dengan adab sempurna di hadapan calon mertuanya.

"Demi Allah Yang Maha Mengetahui setiap bisikan dada, Pak Zhafran," jawab Arga rendah namun sarat keyakinan kokoh. "Saya tidak datang membawa kebanggaan nasab atau kemilau harta fana. Cincin di dalam kotak ini adalah amanah kehormatan tiga generasi wanita shalihah di keluarga kami. Jika Bapak mengizinkan, saya ingin meletakkannya sebagai ikrar suci untuk memuliakan Kirana, menjaganya lebih dari jiwa saya sendiri, dan membimbingnya menggapai ridha Allah hingga ke surga."

"Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua nama besar yang terpandang, Arga," potong Pak Zhafran tajam. "Pernikahan adalah pemindahan tanggung jawab akhirat dari pundak seorang ayah ke pundak seorang suami. Apakah kau sungguh sanggup menanggung dosa anak perempuanku bila kelak lalai membimbingnya di jalan syariat?"

"Insya Allah, dengan segenap pertolongan dan taufik dari Allah, saya bersumpah siap menanggung amanah berat itu lahir dan batin, Pak Zhafran," sahut Arga mantap. "Setiap langkah Kirana akan menjadi hisab yang saya pertanggungjawabkan di hadapan Rabbul ‘Alamin."

"Apakah kau berjanji tidak akan pernah merendahkannya di depan keluargamu?" selidik Pak Zhafran lagi dengan pandangan menusuk sanubari.

"Saya berjanji atas nama Allah, memuliakan Kirana adalah bagian ketaatan iman saya yang tidak akan saya khianati sedikit pun sampai akhir hayat," tegas Arga tulus dan berani menatap lantai dengan takzim.

"Kami sekeluarga bersaksi atas ketulusan Arga lahir dan batin di hadapan Allah," tambah Ibu Samaira meyakinkan.

Pak Zhafran terdiam beberapa jenak, helaan napasnya terdengar berat membelah keheningan. Perlahan, gurat ketegangan di dahinya mengendur.

"Buka kotaknya sekarang, Ibu Samaira," perintah Pak Zhafran tenang dan berwibawa.

Ibu Samaira mengangguk takzim. Jemari lentiknya menyentuh kancing kuningan kuno. Bunyi klik halus terdengar saat penutupnya terangkat perlahan. Di atas bantalan satin putih gading yang lembut, sebuah cincin emas putih bertakhta berlian solitaire berpotongan klasik memancarkan kilau murni nan memukau di bawah cahaya senja.

"Inilah cincin warisan keluarga Fardhan, tanda pengikat resmi menuju pelaminan yang suci," tutur Ibu Samaira haru menatap kilau perhiasan itu.

"Benda pusaka ini sungguh indah dan sarat kehormatan leluhur," puji Pak Zhafran lirih seraya mengangguk pelan.

°˖✧✿✧˖°

Keheningan yang khidmat itu pecah oleh isyarat lembut dari Pak Zhafran kepada istrinya. "Ibu Ghoniyah, panggil putri kita keluar. Biarkan Kirana mendengar dan menyaksikan sendiri ikrar kesungguhan ini di hadapan para saksi."

"Baik, Pak. Saya jemput Kirana ke dalam bilik sekarang," jawab Ibu Ghoniyah seraya beranjak menuju kamar.

Beberapa saat kemudian, tirai sutra tersibak perlahan. Kirana melangkah keluar dengan anggun dan tenang didampingi sang ibu. Kepalanya tertunduk santun, memancarkan pesona kesalehan wanita yang terjaga dari pandangan liar. Gamis sutra broken white yang dikenakannya menjuntai rapi menutupi aurat secara sempurna, sementara jemarinya masih bertaut menahan gejolak debar di dada.

Begitu sosok Kirana terlihat di ambang ruangan, Arga sontak memalingkan wajah dan menundukkan pandangan ke arah karpet permadani. Tindakan ghadhul bashar yang spontan dan penuh adab itu diamati lekat oleh Pak Zhafran dengan saksama.

Lihat selengkapnya