Matahari pagi menyembul di balik kubah perak Masjid Al-Furqan, menaburkan berkas keemasan di atas ubin marmer selasar yang basah oleh sisa embun fajar. Di sudut mading kaca markas santri, derap langkah bergegas melintas cepat. Ustaz Wildan, sekretaris Dewan Kehormatan Ma'had, menempelkan selembar maklumat resmi bersegel merah tembaga dengan paku payung perak. Denting logam itu menarik perhatian santri yang tengah melintas membawa tumpukan kitab kuning.
"Lihat itu! Ada surat keputusan darurat yang baru turun langsung dari ndalem kiai!" seru Farhan dengan mata membulat sempurna.
"Jangan saling dorong! Biar kubaca dulu tajuk utamanya dengan saksama," sahut Ilham seraya merapatkan kacamata tebalnya ke kaca mading. "Ini kabar yang sangat menggemparkan seluruh santri kita semua!"
Dari kejauhan lorong madrasah, Gamila yang mendekap tiga jilid kamus bersama materi halaqah mendadak mematung. Kerumunan santri yang kian riuh di batas asrama itu memantik api penasaran di dadanya. Langkah kakinya terayun cepat menghampiri santriwati yang mulai berbisik gempar.
"Ada kehebohan apa sebenarnya di sini, Ukhti Salma? Mengapa lorong depan kantor pimpinan tiba-tiba ramai sekali seperti ada sidak mendadak dari majelis asatidz?" tanya Gamila penasaran dengan napas terengah-engah memburu.
Salma menoleh cepat dengan wajah pasi, jemarinya bergetar menunjuk ke arah papan maklumat mahoni. "Gamila, ini kabar yang mengguncang seisi ma'had kita! Surat panggilan resmi dari Pak Fardhan baru diumumkan di mading utama! Dua nama itu... yang selama dua pekan kemarin dilarang menginjakkan kaki di tanah asrama pusat!"
"Maksudmu... Gazhi dan Daffa dipanggil lagi?!" jerit Gamila tertahan, hampir menjatuhkan kitab tebal di dekapannya.
"Tepat sekali dugaanmu! Mereka berdua diperintahkan kembali menghadap pagi ini! Jam sembilan tepat harus sudah berada di ruang pimpinan!" jawab Salma dengan suara bergetar setengah histeris. "Seluruh pengurus dewan disiplin sudah bersiap menyambut kedatangan mereka berdua!"
Gamila tertegun kaku di lantai selasar, kedua pupil matanya melebar menahan rasa kaget yang menghunjam ulu hatinya. "Demi apa?! Bukankah masa pengasingan dan hukuman kerja sosial mereka di pos perbukitan selatan seharusnya berlangsung dua bulan penuh? Kenapa Pak Fardhan memanggil mereka pulang secepat ini tanpa aba-aba?"
"Tidak ada yang tahu kepastiannya! Namun beredar desas-desus liar bahwa dewan penasihat menemukan bukti rekaman baru terkait insiden gudang logistik tempo hari," timpal Nasywa menyela dengan raut muka tegang. "Bisa jadi nasib kelanjutan masa depan mereka berdua akan diputuskan hari ini juga!"
"Astaghfirullahal'adzim! Ini pertanda baik atau justru awal prahara yang lebih mengerikan?!" pekik Gamila seraya memutar tumitnya tergesa.
"Hei, Gamila! Mau kabur ke mana kamu sambil lari tunggang langgang begitu?!" teriak Salma terperanjat melihat sahabatnya langsung tancap gas.
"Aku harus menemui Zhafira sekarang juga! Zhafi sama sekali belum mendengar kabar menggemparkan ini! Kalau sampai dia tahu dari mulut orang lain, dia pasti syok berat!" sahut Gamila lantang tanpa sudi menoleh lagi.
Gamila berlari kencang menyusuri lorong paviliun melati, mengabaikan teguran santriwati lain yang heran menyaksikan gamisnya berkibar. Langkah kakinya melambat ketika mendekati serambi perpustakaan timur yang dinaungi rerimbunan bougenvil merah menyala. Di sudut meja rotan bundar yang menghadap kolam teratai, seorang dara bergamis biru duduk anggun dengan cangkir teh melati mengepul wangi.
Zhafira sedang khusyuk menyalin bait syair ketika derap langkah Gamila memecah keheningan pagi yang damai itu. Gamila menghempaskan badannya ke kursi di hadapan Zhafira, mengatur napasnya yang kembang kempis.
"Zhafira! Demi langit dan bumi, letakkan penamu sekarang juga dan pasang telingamu baik-baik!" cerocos Gamila dengan nada melengking dan tatapan liar. "Dengarkan kabar besar ini!"
Zhafira meletakkan kalam bambunya secara perlahan, memandang sahabat karibnya itu dengan senyuman teduh, kendati alisnya bertaut heran. "Ucapkan salam terlebih dahulu, Gamila sayang. Minumlah seteguk air teh ini agar hatimu kembali dingin. Mengapa wajahmu pucat pasi persis orang yang dikejar serigala begini?"
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang dan santai seperti dirimu, Zhafi! Ini menyangkut kehormatan Tiga Sekawan kita!" semprot Gamila gemas seraya menggebrak meja hingga cangkir beradu gemerincing. "Gazhi dan Daffa... mereka berdua dipanggil pulang pagi ini oleh Pak Fardhan ke ruang sidang kehormatan asrama pusat!"
"Apa katamu barusan, Mila? Tolong jangan pernah bergurau mengenai perkara genting ini," desis Zhafira lirih, jemarinya membeku kaku di atas meja kayu.
°˖✧✿✧˖°
Cangkir porselen putih bertoreh sulur melati di jemari Zhafira berguncang pelan, menumpahkan tetes teh hangat ke atas naskah kaligrafi yang belum kering. Zhafira menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga meredam debaran di dadanya yang mendadak berdegup kencang laksana genderang perang.
"Aku bersumpah demi langit dan bumi, Zhafi! Aku melihat sendiri selembar maklumat resmi itu dengan kedua mataku!" seru Gamila bersikeras, menyandarkan kedua sikunya ke atas meja sambil menatap tajam mata Zhafira. "Gazhi Pratama dan Daffa Al-Ghifari diwajibkan menghadap ke meja kerja Pak Fardhan pukul sembilan pagi ini tanpa boleh diwakilkan oleh siapa pun! Seluruh pengurus santri sudah gempar membicarakannya sekarang!"
Zhafira menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan, tatapannya menerawang ke arah air kolam yang beriak pelan tertiup angin bukit. Pikirannya melayang kembali ke malam kelabu dua pekan silam, ketika Gazhi berdiri di bawah pohon trembesi tua dengan senyum getir seraya berkata bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
"Tetapi mengapa harus secepat ini, Gamila? Masa skorsing mereka baru berjalan empat belas hari dari total enam puluh hari yang dijatuhkan majelis kehormatan," bisik Zhafira pelan, suaranya sarat kecemasan mendalam yang ia sembunyikan. "Apakah ada perkembangan baru yang luput dari perhatian kita selama ini?"
"Itu dia yang membuat kepalaku hampir pecah memikirkannya!" sahut Gamila seraya memegangi pelipisnya dengan mimik frustrasi. "Mungkinkah ada pihak jahat yang merekayasa bukti tambahan untuk mendepak mereka berdua selamanya dari pesantren ini? Kamu ingat kan betapa sengitnya kubu Ustaz Mansyur mendesak pemecatan mereka waktu sidang pertama dulu? Mereka tidak akan tinggal diam begitu saja melihat Tiga Sekawan kembali berjaya!"
"Jangan berprasangka buruk dulu sebelum kita mengetahui fakta sebenarnya," tegur Zhafira menjaga ketenangannya, kendati jemarinya terasa sedingin es. "Pak Fardhan bukan pendidik yang mudah dihasut oleh intrik murahan. Beliau pasti memiliki pertimbangan matang di balik keputusan mendadak ini. Kita harus bersabar menanti kabar resmi dengan hati yang jernih."
"Mudah bagimu berkata demikian, Zhafi! Tetapi bagaimana jika nasib buruk menimpa mereka berdua?!" pekik Gamila cemas. Ucapan Gamila terputus seketika saat telinganya menangkap raungan knalpot motor tua yang sangat akrab di telinga mereka dari arah gerbang selatan kompleks pesantren.
"Suara deru mesin motor itu... bukankah itu motor Honda tua milik Daffa?!" gumam Gamila dengan mata membelalak lebar seraya bangkit berdiri menyentak pagar balkon. "Mereka sudah sampai di sini!"
Zhafira ikut bangkit perlahan, meremas selendangnya kuat-kuat. Di pelataran batu utama, tampak dua pemuda tegap turun dari sepeda motor berdebu tebal itu. Gazhi Pratama dan Daffa Al-Ghifari telah menjejakkan kaki kembali di bumi Al-Furqan.