
Lelucon Semen di Meja Mertua
Pertemuan santai keluarga menjelang hari-H, di mana kisah penyamaran Arga menjadi bahan tawa hangat.
°˖✧✿✧˖°
Malam merayap turun perlahan di pekarangan rumah keluarga Zhafran Al-Quthuz, melarutkan sisa gerimis sore menjadi hawa sejuk menenangkan. Tiga hari menjelang akad nikah akbar antara trah Al-Ghifari dan keluarga besar Al-Quthuz, teras belakang berlantai terakota itu menyuguhkan keheningan bersahaja. Tidak ada dekorasi emas, tidak ada gaun kristal, apalagi pengawal berjas hitam. Yang tersaji hanyalah teko tembikar berisi teh melati hangat mengepul, sepiring pisang goreng tanduk berlumur gula aren, dan tawa renyah membubung lepas ke langit malam.
Di sudut meja kayu jati berpelitur tua, Arga duduk bersandar santai pada kursi rotan cokelat. Kemeja linen putih bersihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan kokoh yang kini bersih dari noda semen basah atau debu proyek. Tepat di sampingnya, Kirana bersandar lembut pada pundak prianya, sesekali menyuapkan potongan pisang goreng hangat ke bibir calon suaminya penuh kasih sayang.
"Makan lagi pisangnya, Mas," bisik Kirana lembut, matanya berbinar teduh di bawah sorot lampu teras. "Tiga hari lagi kamu harus berdiri menyalami ribuan tamu dari pagi sampai petang. Jangan sampai Mas Arga pingsan di pelaminan hanya gara-gara lupa sarapan."
Arga mengunyah renyahnya pisang itu sambil tersenyum geli. "Kamu tenang saja, Sayang. Menghadapi ribuan tamu korporat itu rasanya jauh lebih ringan dibanding dulu menggotong adukan pasir basah dari gerbang depan sampai ke sumur belakang rumah ini."
"Halah, sok kuat sekali calon pengantin kita ini!" sahut Yafiq, adik kandung Kirana yang duduk bersila di karpet permadani memangku toples keripik tempe pedas. Pemuda itu menyengir jahil ke arah calon kakak iparnya. "Tapi beneran lho, Mas Arga. Kalau diingat-ingat lagi waktu awal-awal main ke rumah ini dulu, muka Mas Arga itu beneran mirip buruh borongan harian yang baru saja diusir mandor proyek!"
Pak Al-Quthuz yang sedari tadi mengaduk kopi tubruk hitamnya langsung tertawa terbahak-bahak. Tawa pria paruh baya tegap itu membuat kumisnya bergetar pelan. Ia meletakkan sendok kecil ke piring tatakan cangkirnya dengan bunyi denting halus.
"Yafiq, jangan kurang ajar kamu sama calon kakak iparmu," tegur Pak Al-Quthuz pura-pura galak, kendati binar rasa geli di sepasang matanya tak sanggup ia sembunyikan. "Lagipula dulu kan Ayah tidak tahu kalau pemuda kurus bermotor butut knalpot bocor itu ternyata anak tunggal pengusaha properti nasional!"
"Bukan cuma motornya yang bocor parah, Yah," timpal Ibu Ghoniyah yang baru saja melangkah keluar dari dapur membawa sepoci air jahe hangat. Wanita berkebaya sederhana itu duduk seraya merapikan ujung selendangnya. "Celana jeans yang Mas Arga pakai waktu itu robek besar tepat di lutut kiri. Ibu sampai bisik-bisik ke Kirana di dapur, bertanya apakah teman prianya ini habis kena rampok di jalanan."
"Ibu..." rajuk Kirana dengan pipi merona merah muda, setengah malu setengah geli mengenang masa penyamaran itu. "Waktu itu kan Mas Arga memang sedang riset lapangan langsung di proyek perumahan subsidi. Dia tidak mau diistimewakan oleh mandor-mandornya."
"Riset sih riset, Mbak Kirana," potong Yafiq lagi seraya terpingkal kencang menepuk pahanya berulang kali. "Tapi masa iya celana jeans robeknya ditembel pakai lakban cokelat pembungkus kardus mie instan? Mas Arga, tolong jelaskan sejarah lakban legendaris itu sekarang di depan dewan juri keluarga!"
Gelak tawa serentak meledak riuh di sekeliling meja makan jati. Udara malam yang semula dingin mendadak terasa hangat oleh aroma teh dan keakraban tulus. Tepat saat tawa mereda, dari jalan aspal di luar komplek, terdengar raungan mesin diesel berat melintas pelan. Truk molen semen pengaduk beton berputar lambat di depan gang, memancarkan aroma basah semen cair terbawa angin malam.
Suara gemuruh drum baja semen itu seakan menjadi genderang penabuh memori yang mengunci perhatian semua orang di teras.
Pak Al-Quthuz menoleh ke gerbang luar, mendengarkan deru drum baja di kejauhan, lalu kembali menatap Arga penuh selidik jenaka. "Dengar suara molen semen itu, Arga?"
"Dengar jelas sekali, Ayah," sahut Arga tersenyum pasrah sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal sedikit pun malam ini.
"Nah, mantap!" seru Pak Al-Quthuz menepuk meja pelan, membuat cangkir-cangkir kopi berdenting riang gembira. "Kalau kamu masih hafal suara molen itu, tandanya kamu belum lupa hukuman sak semen pertama yang Ayah berikan dua tahun lalu, kan?"
°˖✧✿✧˖°
Senyum lebar di wajah Pak Al-Quthuz merekah seutuhnya, menandai dimulainya persidangan kenangan konyol yang dinanti-nantikan keluarga. Semua orang mematung antusias mendengarkan sejarah pertemuan pertama yang selalu sukses mengocok perut. Malam kian hangat oleh binar mata mereka yang saling bertatapan penuh rasa sayang mendalam.
"Dua tahun lalu," buka Pak Al-Quthuz seraya mengacungkan telunjuknya ke udara dengan wibawa mantan komandan, "hari Minggu pagi jam sembilan, gerbang rumah diketuk kencang. Waktu Ayah buka pintu, yang berdiri bukan calon menantu berdasi rapi, melainkan pemuda dekil berkaos oblong lusuh Semen Tiga Roda raksasa. Leher kaosnya sudah molor miring ke bahu kiri!"
"Ayah, jangan dideskripsikan sedetail itu!" sela Kirana menutup wajah dengan kedua tangan, meski sela jarinya tetap terbuka lebar untuk mengintip ekspresi salah tingkah Arga. Pipinya merona merah padam dipanggang rasa malu.
"Harus detail, Kirana!" sanggah Pak Al-Quthuz dengan mata berbinar jenaka. "Kalian tahu isi kepala Ayah saat itu? Waktu itu Ayah memang sedang memesan kuli harian untuk meninggikan tembok selokan pagar samping. Pas Ayah lihat Arga berdiri menenteng helm kusam berpeluh deras, Ayah langsung membatin gembira: 'Wah, akhirnya mandor Subur mengirim kuli borongan pengganti yang berotot kekar!'"
Yafiq sampai tersedak keripik tempe mendengar penuturan sang ayah. "Terus, Mas Arga langsung Ayah suruh kerja bakti tanpa ampun?"
"Tentu saja!" seru Pak Al-Quthuz tanpa rasa bersalah. "Ayah tidak pakai tanya nama lagi. Ayah langsung berkacak pinggang dan membentak tegas: 'Hei, Mas! Kenapa baru datang jam segini? Tuh pasir di depan gerbang sudah kehujanan. Cepat ambil cangkul di samping sumur, campur adukan semennya sekarang!'"
Ibu Ghoniyah menyeka sudut matanya yang berair karena geli. "Dan kalian tahu hal paling ajaib dari pagi itu? Mas Arga ini sama sekali tidak membantah sepatah kata pun!"
Arga tertawa lepas seraya menggenggam jemari Kirana di sampingnya. "Bagaimana mau membantah, Bu? Waktu itu Kirana mendadak muncul dari balik tirai ruang tamu sambil melotot panik memberi kode gerakan tangan orang tercekik. Kirana berbisik pelan tanpa suara: 'Mas Arga, tolong nurut saja dulu, Ayah pensiunan tentara galak, jangan bikin darah tingginya kumat!'"
"Habisnya aku panik sekali, Mas!" bela Kirana bersungut manja menggemaskan, menatap Arga dengan binar berkilau. "Mas Arga tiba-tiba datang tanpa kabar memakai pakaian proyek lapangan, sementara Ayah sedang naik pitam karena mandor renovasi kabur membawa lari uang material semen!"
"Jadilah calon bos besar konglomerasi properti nasional mendadak banting setir menjadi buruh aduk semen demi membuktikan cinta sejati," simpul Yafiq seraya membungkuk hormat teatrikal mengundang gelak tawa yang sangat riuh seisi meja teras belakang.
°˖✧✿✧˖°