
Pingitan dan Desir Rindu Syar'i
Masa Pingitan Menjelang Akad, Kemegahan Taman Surgawi, dan Janji Suci di Hadapan Wali
°˖✧✿✧˖°
Kicau burung wallet di bibir jendela jati tua menyambut embun fajar yang masih menggantung pekat di langit kota Surabaya. Jarum jam dinding antik di kediaman keluarga Arga baru saja berdenting lima kali. Namun, bagi Arga Dirgantara, detik-detik itu berdetak dua kali lebih lecut dari biasanya. Dua hari lagi adalah hari paling bersejarah dalam poros hidupnya, hari sakral di mana amanah agung dari seorang ayah bernama Ustadz Zhafran Al-Quthuz akan berpindah ke pundaknya. Sejak matahari terbenam kemarin petang, pintu kamarnya dan pintu kamar Kirana di ujung kota telah resmi terkunci oleh tradisi pingitan yang berakar kuat pada ketundukan syariat Islam.
"Bismillah, Arga. Jangan menyentuh gawai canggih itu lagi, Nak. Serahkan ponselmu sekarang kepada Umi, sebagaimana kesepakatan keluarga besar kita kemarin malam demi kemurnian hati menjelang akad."
Umi Samaira melangkah masuk ke dalam kamar tidur Arga dengan langkah teduh berbalut gamis kelabu lembut. Senyum seorang ibu yang membesarkannya dengan untaian doa malam merekah menenteramkan kalbu, namun sorot matanya tegas menuntut komitmen penuh sebelum kalimat ijab kabul berdentang sakral di hadapan saksi.
"Bahkan sekadar mengirim pesan singkat untuk menanyakan kabar kesehatannya lewat perantara Mbak Hania pun tidak diperkenankan, Umi? Hati Arga terasa seperti layang-layang putus yang tersentak hembusan angin kencang subuh ini. Rasa debar ini sungguh menguji kesabaran jiwa seorang lelaki."
"Tidak boleh, Putraku. Ketahuilah bahwa pingitan ini bukan kurungan penjara yang menyiksa raga, melainkan madrasah pensucian rindu. Dua hari penuh engkau dan Kirana harus membasuh hati dari nafsu ketergantungan manusiawi. Biarkan lantunan doamu di sepertiga malam yang menjadi juru bicara paling fasih menembus langit Arasy tanpa perantara sinyal seluler fana."
Arga menarik napas panjang, meresapi aroma minyak wangi kasturi kijang yang sengaja dibakar di sudut kamarnya. Dengan jemari yang bergetar halus, ia meletakkan ponsel pintarnya di atas nampan perak berukir kaligrafi yang disodorkan sang ibunda. Layar ponsel yang menampilkan kontak bernama Calon Bidadari Impian itu menggelap seketika, memutuskan komunikasi dunia fana secara mutlak demi menjaga kekhusyukan batin seorang calon nakhoda keluarga yang bertakwa.
"Arga ikhlas dan pasrah, Umi. Demi menjaga kemurnian akad yang tinggal menghitung puluhan jam lagi. Namun bagaimana perkembangan persiapan dekorasi gedung yang kemarin sempat tertunda perihal pembagian hijabnya? Apakah Daffa sudah berada di lokasi convention hall untuk memastikan tata letaknya sesuai syariat?"
"Adikmu Daffa dan tim wedding organizer syar'i Kang Salman sudah bekerja tanpa lelah sejak dini hari tadi. Pak Zhafran sendiri yang mengawasi tiap inci detailnya agar tidak ada satu pun celah campur baur tamu ikhwan dan akhwat. Nah, teguklah wedang jahe hangat ini, lalu mulailah tilawah Juz Tiga Puluh untuk mendinginkan dadamu."
Sementara itu, di kediaman Pak Zhafran yang berjarak belasan kilometer di kawasan asri Gayungsari, Kirana Humaira sedang duduk termenung di depan meja rias kayu jati berukir kuntum melati. Cermin kaca oval di hadapannya memantulkan wajah teduhnya yang polos tanpa polesan riasan kosmetik kimiawi, melainkan hanya basuhan air wudu subuh yang menyisakan kesegaran abadi. Di pangkuannya, sebuah mushaf bersampul beludru hijau toska terbuka pada lembaran suci Surah Ar-Rahman yang menyejukkan relung kalbu yang gelisah.
"Mengapa ayat kelima belas kau baca berulang-ulang dengan getaran suara yang menahan tangis, Kirana? Apakah ada keraguan yang menyelinap ke sudut sanubarimu menjelang hari agung besok lusa, Putriku tersayang?"
"Bukan ragu karena bimbang, Ibu tercinta. Hati Kirana justru berdesir dahsyat karena menyadari betapa sakralnya perjanjian berat yang akan diikat oleh Mas Arga di hadapan Allah. Rasa rindu ini begitu aneh dan menghujam... hadir tanpa kami pernah bersentuhan kulit, mekar subur tanpa pernah kami saling pandang mata secara leluasa."
Bu Ghoniyah duduk di sisi ranjang putrinya, merapikan selendang katun lembut yang menutupi pundak Kirana. Tangan sang ibu yang hangat membelai punggung tangan putrinya yang terasa dingin oleh hembusan hawa sejuk pagi dan getaran batin anak gadis yang bersiap melepas masa lajang demi mengabdi pada imam.
"Itulah keberkahan mahabbah yang dipagari rasa malu dan syariat, Kirana. Desir rindu yang menyesak di dadamu sekarang adalah tabungan kenikmatan cinta halal setelah kalimat sakral itu berkumandang sah di hadapan para saksi dan malaikat pencatat amal kebajikan."
"Kirana."
°˖✧✿✧˖°
Mentari pagi beranjak naik memandikan pelataran Grand Emerald Ballroom, gedung termegah di pusat kota yang disewa untuk menghelat perhelatan sakral keluarga besar Arga dan Kirana. Bau semerbak bunga sedap malam, mawar putih Holland, serta kesegaran daun eucalyptus menyeruak memenuhi seluruh lorong utama. Di dalam aula berdaya tampung dua ribu undangan, konsep taman surgawi atau Jannatul Ma'wa mulai menampakkan kemegahan arsitektur yang memukau setiap pasang mata yang memandang keindahannya.
"Kang Salman, tolong periksa kembali partisi ukir kayu jati di sisi kanan lorong utama. Apakah tingginya sudah genap dua koma dua meter sesuai instruksi Ustadz Zhafran?"
"Sudah sangat presisi, Mas Daffa. Ketinggian dua koma dua meter ini dipadukan dengan anyaman kisi-kisi kayu arabesque berlubang mikro. Pandangan ikhwan dan akhwat benar-benar terhalang sempurna tanpa menghambat sirkulasi pendingin udara gedung."
Daffa menyusuri karpet tebal bernuansa hijau zamrud yang terhampar di sepanjang selasar ikhwan. Di kedua sisi karpet, berjejer pilar-pilar putih gading bergaya Andalusia yang dihiasi lengkungan kaligrafi ayat-ayat sakinah bertatahkan foil emas timbul. Tak ada petikan gitar atau dentuman drum yang melanggar adab; yang terdengar syahdu bergema hanyalah lantunan selawat Nahdliyyah dan bait Thola'al Badru Alayna dalam aransemen acapella lembut nan menyejukkan sanubari para pekerja dekorasi.
"Assalamu'alaikum, Daffa. Bagaimana kesiapan gerbang masuk terpisah untuk rombongan tamu keluarga dari luar kota? Apakah alurnya sudah jelas agar tidak terjadi penumpukan di pintu lobi utama?"
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, Om Zhafran. Semuanya sudah kami atur rapi. Tamu pria langsung diarahkan ke sayap barat melalui selasar gerbang babussalam, sedangkan tamu wanita masuk melalui sayap timur gerbang raudhah yang tertutup rapat."
"Alhamdulillah. Ingatlah, kemewahan pernikahan ini bukan untuk dipamerkan, melainkan sebagai syiar bahwa aturan syariat Islam bisa bersanding serasi dengan estetika tinggi."
Pak Zhafran mengusap janggut tipisnya sembari menatap miniatur air mancur marmer Carara di tengah pelataran panggung utama. Gemericik air jernih yang membasahi batu-batu alam hitam memberikan ketenteraman batin yang sangat kontras dengan hiruk pikuk persiapan teknis di sekitarnya. dalam keheningan jiwa yang penuh ketundukan dengan keikhlasan batin yang mendalam menatap masa depan yang diridai Ilahi seraya memanjatkan puji syukur kepada Allah di bawah naungan rahmat dan.
"Dan kami pastikan tidak ada lagu komersial yang diputar, Pak Zhafran. Seluruh daftar audio berisi bait pujian kepada Rasulullah SAW dan qasidah burdah yang dilantunkan para qari berkarakter suara syahdu meneduhkan qalbu." dalam keheningan jiwa yang penuh ketundukan dengan keikhlasan batin yang mendalam menatap masa depan yang diridai Ilahi seraya memanjatkan puji syukur kepada Allah di bawah naungan rahmat dan maghfirah-Nya dengan getaran."
°˖✧✿✧˖°
Namun, ketenangan dekorasi itu seketika terusik saat rombongan kurir kargo tiba di gerbang barat membawa kotak-kotak kaca raksasa berisi instalasi panggung pelaminan utama. Perdebatan sengit muncul ketika konsultan desainer panggung hendak menyatukan latar belakang pelaminan menjadi satu hamparan terbuka tanpa partisi di atas panggung kehormatan.