[partImg:[0]]
Hawa sejuk pagi merambati lantai marmer putih Masjid Agung Al-Furqan tatkala derit pintu jati berukir perlahan dirapatkan demi menjaga kesenyapan suasana yang amat sakral. Di atas bentangan permadani beludru hijau zamrud beraroma wewangian gaharu, Arga Dewantara duduk bersimpuh dengan napas tertata rapi. Busana beskap sutra putih gading berkerah tinggi khas bangsawan modern berpadu selaras dengan songkok hitam yang membingkai paras tegasnya. Jemari kanannya yang dulu terbiasa mencengkeram perkakas kasar di proyek Surabaya kini bertaut tenang di atas lutut, menyembunyikan getar debar dada yang bergemuruh dahsyat. Di hadapannya, Pak Zhafran duduk bersila dengan surban putih tersampir di
"Sudah mantap lahir dan batin menghadap Allah untuk memikul amanah besar ini, Nak Arga?" bisik Pak Zhafran dengan nada kebapakan yang teramat lembut menggetarkan sanubari calon menantunya. "Menjadi nakhoda bagi putri kesayangan Abah bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan menuntun jiwa bersama-sama hingga ke surga-Nya."
"Dengan memohon rida Allah Ta'ala serta doa restu tulus Abah, bismillah hamba telah siap sepenuhnya lahir dan batin," jawab Arga mantap, menatap lurus manik mata sang wali tanpa secuil pun keraguan tersisa di hatinya. "Segala amanah suci ini akan hamba pikul dengan segenap tarikan napas kehormatan jiwa."
Kepala Kantor Urusan Agama segera merapikan lembar berkas akta nikah di atas meja kayu cendana berukir kaligrafi indah. Kacamata berbingkai perak miliknya diturunkan sedikit ke cuping hidung sembari melayangkan pandangan ke para saksi keluarga terhormat. Keheningan merayap pekat hingga detak jam dinding antik terdengar bagai dentuman takdir. Seluruh pasang mata hadirin terpaku lurus ke arah dua insan yang kini bersiap mengikat janji suci di hadapan langit Ilahi.
"Sebelum ijab kita laksanakan, mari kita luruskan niat di lubuk kalbu. Pernikahan ini adalah mitsaqan ghalizha, ikatan agung yang disaksikan langsung oleh para malaikat pembawa berkah rahmat," ujar penghulu membuka prosesi dengan penuh wibawa.
"Bismillah, niat kami murni lillahi ta'ala demi menggenapkan separuh agama serta membina keluarga sakinah mawaddah warahmah selamanya," sahut Arga menundukkan kepala penuh takzim.
"Alhamdulillah, seluruh rukun syar'i telah terpenuhi sempurna tanpa cela. Silakan Abah Zhafran menjabat tangan ananda Arga untuk mengikrarkan kalimat ijab suci," titah penghulu seraya tersenyum tenang meneduhkan suasana masjid.
Pak Zhafran mengulurkan tangan kanannya yang kokoh. Pertemuan telapak tangan mereka menghantarkan getaran tanggung jawab luar biasa, sebuah peralihan mandat penjagaan kehormatan dari seorang ayah kandung kepada seorang imam rumah tangga yang baru.
"Bismillahir-rahmanir-rahim. Ya Arga Dirgantara bin Fardhan Al-Ghifari," ucap Pak Zhafran dengan suara bergetar menahan luapan tangis haru yang mulai berkaca-kaca di sudut pelupuk matanya.
"Labbaik, saya Abah," sahut Arga lantang dengan tatapan mata menyala penuh keteguhan jiwa ksatria sejati.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Kirana Humaira, dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan seratus gram logam mulia murni, dibayar tunai!" tegas Pak Zhafran menghentakkan genggamannya.
Waktu seakan berhenti berputar pada detik penentu itu. Arga menarik napas panjang melalui rongga dadanya, menghimpun seluruh tekad dan ketulusan cinta yang telah ia tempa melalui debu jalanan, lalu melepaskannya dalam satu tarikan napas menggelegar lantang tanpa jeda sekejap pun:
"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Humaira binti Zhafran Al-Quthuz dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!" suara bariton Arga berkumandang tegas menyapu seluruh penjuru kubah masjid tanpa keraguan sedikit pun.
"Bagaimana para saksi yang terhormat? Sah?" seru penghulu seraya menoleh cepat ke arah para saksi di kanan dan kirinya.
"Sah! Sah! Alhamdulillah sah!" sahut para saksi serempak dengan binar mata basah oleh tetesan air mata haru yang membuncah riang.
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin!" gemuruh suara hadirin seketika pecah memenuhi ruangan masjid mengiringi puji syukur membahana.
Tangis bahagia tak terbendung membasahi pipi keluarga besar. Pak Zhafran merengkuh tubuh menantunya dalam dekapan erat seraya terisak pelan di bahu bidang Arga. Beban menjaga permata kesayangan tuntas diserahkan. Arga meneteskan air
"Jaga putri kecil Abah dengan segenap imanmu, Arga... sayangi dia seperti Abah menjaganya selama ini," bisik Pak Zhafran terisak haru di telinga menantunya.
"Demi Allah, Abah, nyawa dan kehormatan Arga akan menjadi benteng pelindung bagi Kirana sampai ajal menjemput," ikrar Arga dengan getar suara sarat ketulusan jiwa yang teramat dalam.
°˖✧✿✧˖°
Pintu tabir kayu jati berukir dedaunan surga di sisi kanan mimbar perlahan terbuka lebar. Dari balik tirai sutra tipis yang tersingkap perlahan, sosok Kirana Azzahra melangkah anggun diapit oleh ibundanya tercinta, Bu Latifah, serta dua sahabat karibnya, Zhafira dan Gamila. Langkah kaki Kirana begitu tenang dan teratur, membias keanggunan seorang bidadari bumi yang senantiasa terjaga kesucian kehormatannya. Gaun pengantin muslimah putih bersih bertabur payet kristal swarovski membalut tubuhnya dengan santun nan bersahaja, memantulkan kilau cahaya lampu kristal gantung yang menari indah di atas lembaran bahan satin sutra premium. Hijab syar'i menjuntai lembut hingga ke dada, membingkai paras jelitanya yang merona merah muda menahan rasa haru. Aura kebahagiaan yang sempurna merekah dari senyuman manis di balik cadar transparan yang kini disingkapkan secara anggun.
"Tersenyumlah, Mutiara Al-Azhar tercinta... pangeran sejatimu kini telah resmi menjadi imam halalmu di hadapan rida Ilahi," bisik Zhafira seraya menggenggam lembut jemari Kirana yang berdebar halus penuh kehangatan.
"Hatiku berdegup kencang tak terhingga, Mbak Zhafira... rasanya bagai mimpi indah berdiri di atas rida-Nya hari ini," sahut Kirana dengan suara lirih yang sarat rasa haru membuncah di dalam dadanya.
Arga yang berdiri menyambut di ujung bentangan karpet beludru terpaku tanpa mampu berucap sepatah kata. Matanya yang tajam melembut seketika, sementara rongga dadanya bergolak hebat oleh rasa takjub luar biasa menyaksikan kecantikan bidadari surga yang kini sepenuhnya halal untuk ia tatap dan dampingi. Kirana berhenti tepat satu langkah di hadapannya, lalu menundukkan pandangan seraya meraih jemari kokoh suaminya untuk mencium punggung tangan Arga dengan penuh takzim. Arga meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas ubun-ubun kepala Kirana, melafalkan doa berkah pengantin dengan suara bariton yang teramat syahdu.
"Allahumma inni as'aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha 'alaih. Kirana, terima kasih telah sudi menerimaku apa adanya, sejak hari berdebu itu hingga pelaminan ini," ucap Arga lirih penuh getar cinta.
"Mas Arga... aku menerima segala takdirmu, bukan karena siapa namamu di Menteng, melainkan karena sujudmu yang tulus di hadapan Rabb-ku," balas Kirana menatap manik mata suaminya dengan genangan air mata bahagia.
"Alhamdulillah... peganglah janji suci ini sampai maut memisahkan kalian berdua, anak-anakku tersayang," tutur Bu Samaira dan Bu Ghoniyah merangkul keduanya penuh haru. dan kami berjanji akan senantiasa saling menguatkan dalam ketaatan menjaga kehormatan rumah tangga ini.
Arga menyematkan cincin emas bermahkotakan zamrud hijau ke jemari Kirana, disusul penyerahan mushaf Al-Qur'an dan sekotak logam mulia murni diiringi shalawat berkumandang syahdu memenuhi ruangan. yang senantiasa memancarkan keagungan cahaya iman dan ketulusan kalbu dalam setiap hembusan angin sepoi.
°˖✧✿✧˖°
Pukul sebelas siang, suasana beralih menuju kemegahan ballroom Grand Menteng Royale yang telah disulap bagai istana seribu satu malam bernuansa modern islami. Ribuan karangan bunga ucapan selamat berderet rapi dari gerbang utama hingga lobi marmer, memuat nama para tokoh nasional, menteri, pengusaha, hingga kyai terkemuka. Namun, sebelum kedua mempelai melangkah keluar menuju singgasana pelaminan, pintu ruang transit VIP terbuka perlahan. Dua pemuda berjas rapi melangkah masuk dengan senyuman lebar yang tak tertahan lagi. Gazhi dan Daffa, dua sahabat karib Arga yang mengetahui persis rahasia di balik peluh sang pewaris konglomerasi, berdiri menatap Arga dengan binar mata berkaca-kaca bangga.
"Ya ampun, Bro! Siapa sangka kuli proyek yang dulu makan nasi bungkus berlauk tempe orek di Tanjung Perak sekarang berubah jadi raja sehari yang begitu rupawan!" seru Gazhi setengah berkelakar seraya memeluk Arga erat-erat.