Aku lupa kapan pastinya, tapi kira-kira sudah tujuh belas tahun lamanya. Ya, sudah selama itu.
Waktu itu, kalau tidak salah, umurku baru sembilan. Wajahnya pun sekarang aku tak ingat lagiādan sejujurnya, memang tak ingin kuingat-ingat. Dia pantas mendapatkannya.
Dia pergi tanpa berpamitan. Kata orang, dia menyeret koper besar setelah bertengkar hebat dengan almarhum Ayah. Aku sedang sekolah saat itu. Sulit sekali mengingat detailnya, tapi sudahlah. Untuk apa juga dipikirkan? Aku datang sekarang pun hanya sekadar menunaikan kewajiban. Bagaimana hidupnya setelah kejadian itu, bukan lagi urusanku.
Jangan salah paham, sumpah demi Tuhan, aku tak dendam. Aku hanya tidak peduli. Hidup kami juga aman-aman saja tanpanya. Maksudku, aku tidak bilang kami kaya atau berkecukupan, tapi yang jelas kami hidup. Dan dia mati sekarang.
Dia yang kumaksud adalah ibuku. Aneh rasanya mengucapkan kata itu. Ibu? Atau mungkin lebih pas Mamah? Umi? Bunda? Aku hampir tertawa setiap kali mencoba menyebutnya dengan salah satu dari itu. Aku tidak kenal dia. Aku hanya kebetulan menumpang di rahimnya. Sejujurnya, aku berterima kasih karena dia tidak menggugurkanku, tapi ya tetap saja, aneh menyebutnya 'Ibu'. Kata itu terasa terlalu penuh untuk seseorang yang bahkan tidak tinggal cukup lama untuk kuingat wajahnya. Daripada sebutan tadi, mungkin lebih tepat jika dia kusebut 'Induk'.
Aku memang baik hati, sebutan induk pun sebenarnya masih terlalu bagus. Kalian tahu, dari potongan film dokumenter yang sering terputar di televisi pajangan toko, konon induk pelikan rela mematuk dadanya sendiri agar darahnya bisa diminum anak-anaknya. Atau induk gajah yang enggan beranjak dari bangkai anaknya. Tapi dia? Dia menghilang entah ke mana, sementara aku masih hidup.
Pagi tadi sebenarnya dimulai dengan sangat biasa. Terlalu biasa hingga aku bisa melakukannya sambil memejamkan mata: berjongkok di antara rak, menata kaleng susu agar labelnya menghadap depan dengan presisi. Lalu, suara manajer toko memecah lamunanku. Dia memanggilku ke kantor dengan nada yang lebih manusiawi dari biasanya.
Di dalam ruangan sempit itu, dia menyampaikan kabar dari seseorang di kampung. Singkat saja: seseorang meninggal, dan aku diminta datang. Aku tertegun sejenak. Bukan karena sedih, tapi karena heran. Dari mana mereka tahu aku ada di sini? Lagipula, kalau memang sudah mati, kenapa tidak langsung dikuburkan saja? Untuk apa menungguku?
Manajer menatapku lama, entah apa yang dipikirkannya.
"Sudah, pergi saja," katanya sambil mengibaskan tangan seolah mengusir lalat. "Di sini masih banyak orang yang bisa pegang. Urus urusanmu."