Berawal dari seorang pria disudut pondok kecil, duduk dengan pulpen di tangannya dan kertas yang berserakan didepan meja yang beralaskan perlak sedang menulis banyak hal yang ada di dalam pikirannya. Namanya adhi Saputra Batubara. Kelahiran Jakarta, Tanggal 06 April 1996. Keturunan Batak berdarah jawa bukan puja kesuma.
tahun 2008 setelah kelulusannya dari sekolah dasar di daerah terpencil desa aek libung, kecamatan sayur Matinggi, kabupaten Sumatra utara. Ingin melanjutkan sekolahnya ke pesantren musthafawiyah purba baru.
Sekolah musthafawiyah purba baru yang merupakan salah satu pesantren tertua di indonesia yang banyak diminati siswa dari penjuru indonesia bahkan dunia yang mendaftarkan diri agar dapat menggali ilmu dan pengetahuan, keunggulan dan banyaknya lulusan yang terlihat berpengaruh dikalangan masyarakat maupun negara penyebab banyaknya siswa ingin mendaftarkan dirinya sebagai pelajar yang akan mengabdikan dirinya menuntut ilmu agama.
seketika tulisannya terhenti, goresan tinta dari pena yang digenggamnya pun mulai melonggar, mata yang sebelumnya cerah mulai memerah oleh rasa kantuk yang turus menggerogotinya hingga perlahan menutup pandangan dari tulisannya.
***
Di pagi hari masih remang-remang seorang pria dengan neneknya bersiap menunggu angkutan umum di pinggir jalan berniat berangkat ke pesantren musthafawiyah purba baru di depan rumahnya. Perjalanan panjang yang ingin di lalui menuju pesantren membutuhkan waktu 1 jam perjalanan dikarenakan cukup jauh jarak antara kampung dan sekolahan.
Beberapa kali salah mengayunkan tangan karena dikira angkutan umum ternyata mobil pribadi, namun usaha untuk berangkat mendaftar sekolah tidak akan berhenti hingga angkutan umum yang ditunggu berhenti didepan mereka.
Kemudian tidak lama setelahnya, sorot lampu dari kejauhan yang begitu cerah tiba-tiba menyilaukan mata dengan memperkirakan bahwa ini mungkin angkutan yang ditunggu dan kembali mengayunkan tangan, lantas aek mais yang ditunggu berhenti di depan keduanya.
Setelah berhenti, supir menyoraki dari dalam aek mais. "Maukemana?" "Saya dan nenek mau ke purba baru, apakah sampai kesana?" Adhi menjawabnya dengan tegas.
'Naiklah biar kita berangkat" ungkap supir aek mais menandakan angkutan umum tersebut sampai ke tempat yang ditujukan.
Setalah naik kedalam angkutan umum yang kebetulan masih lapang di dalamnya, langsung membaringkan badan ke tempat duduk dan mulai memejamkan mata dikarenakan takut mabuk kendaraan oleh perjalanan yang masih begitu jauh.
Terkadang Perjalanan yang terbilang jauh terutama didalam angkutan umum yang biasa baunya sumpek membuat perut kembung karena masuk angin ditambah pikiran kurang fokus karena mabuk kendaraan dan membuat pandangan sedikit linglung karenanya.
Perjalanan menuju mesuthafawiyah purba baru berlanjut, Sudah terasa lumayan lama di dalam angkutan umum akan tetapi belum juga sampai ketujuan bahkan adhi sudah berkali-kali terbangun dari tidurnya dengan melihat sekeliling dengan memperhatikan lokasi dan melihat beberapa rumah yang terlewatkan.
Pada akhirnya tujuan telah sampai dipusat pesantren Musthafawiyah Purba Baru. Gedung sekolah lama dan baru sudah terlihat di mata dengan jelas.
Karena belum begitu kenal dengan lokasi yang baru di datanginya pertama kali lantas menanyakan kepada supir.
”Pak, apa benar ini sudah sampai di musthafawiyah purba baru, ujar Adhi.
”benar, kalian mau turun di mana ?” Jawab supir menegaskan.
"Turun di tempat pendaftarannya pak", ucap Adhi.
”biasanya penumpang saya yang sekolah disini turunnya di mana lokasi pondoknya berasa tapi kalian turunnya di pusat nya aja. Jawab supir Angkot dengan memelankan laju kendaraannya.
Angkutan umum perlahan berhenti, Keduanya lekas turun serta membayar ongkos ke supir.
Setelah turun dari angkutan umum dengan melihat pagi yang sudah mulai cerah, udara yang menyegarkan, memandang sekitar telah terlihat banyak siswa berjalan berlawanan arah dipinggiran jalan, memakai peci lengkap dengan koko dan kain yang dikenakan berjalan sembari membawa kitab di tangannya menuju ruang belajar masing-masing.
Adhi dan neneknya Sudah sampai di Mustahafawiyah Purba Baru namun masih bingung, Mau kemana dan Dimana tempat pendaftarannya. Keduanya berjalan perlahan menelusuri tempat dengan berharap menemukan gedung pendaftarannya.
Hingga ada sebuah gedung yang terlihat panjang dan lebar, banyak kerumunan orang yang terlihat keluar masuk dari gedung tersebut, ada terlihat seperti siswa yang berpakaian layaknya santri, ada juga orang tua dan anaknya yang berpakian biasa-biasa saja, lantas Adhi dan neneknya berjalan ke gedung itu.
di depan gedung terlihat beberapa siswi pesantren sedang membersihkan pekarangannya. Lantas adhi bertanya kepada mereka, "Kak tempat pendaftaran siswa baru ada dimana ya kak?" Sontak dijawab, "disini dek" sembari menunjukkan ke gedung tersebut, "silahkan saja masuk kedalam nanti ada petugas yang akan membantu". Adhi menjawab, "terima kasih kak", lalu mengajak nenek ke dalam ruangan pendaftaran untuk menemui salah satu petugas pendaftaran yang ada.
setelah masuk admin pendaftar langsung melontarkan sapa dengan ramahnya “assalamualaikum nenek, adik apa benar mau daftar sekolah disini” ungkap admin pendaftaran.
“iya kak, saya mau daftar, pendaftarannya disini ya kak ?” Jawab Adhi.
”baik, bentar ya biar kakak ambilkan berkas pendaftarannya” ujar admin.
”Oke kak” jawab Adhi.
Berkas biodata yang harus di isi diberikan oleh admin berikut dengan penjelasannya yang ringan dan mudah dimengerti.
“Baik adek, ini berkas pendaftarannya harap di isi dulu ya sesuai dengan di ijazahnya, kalau ada kendala atau yang tidak dimengerti langsung tanya ke kakak aja nanti”. Ujar santriwati yang mengurus administrasi.
”baik kak” jawaban dari Adhi yang telah mengerti mksudnya.
”nanti kalau udh selesai di isi semua langsung antar kesini, sekalian berkas yang diperlukan, biar org kakak kumpulka”. Ujar admin.
”iya kak” ungkap Adhi sembari tersenyum.
Setelah berkas pendaftaran telah selesai di isikan kemudian diserahkan dan dicek oleh para petugas pendaftaran siswa/siswi baru, Adhi saputra dan nenek langsung berniat mengarah pulang menunggu angkot kembali. Akan tetapi saat menunggu angkot ada patayat yang mengenali adhi dan nenek yang sekampung dengannya, bernama Rizky asri merupakan santriwati kelas 4 yang berasal dari simataniari, kec tantom, Tapsel, Sumut.
"Eh, adhi dan nenek sembari menyalami keduanya" ada keperluan apa orang nenek datang kesini ?" Bertanya meminta jawaban.
"Ini mau mendaftarkan si adhi sekolah disini" jawab nenek pelan.
"Apa semua sudah selesai adhi mengisi dan memberikan berkas yang diperlukan?" Ujar Rizky.
"Sudah kak, kata petugasnya tinggal menunggu masuk sekolah seminggu lagi dan nama akan terpampang di depan kelas." Ucap Adhi.
"Apa ini tinggal pulang ke kampung, jangan dulu kita ke asrama dulu terlebih dahulu sekalian melihat2 lokasi sekolah" ungkap Rizky seraya mengajak.
keduanya tidak diperbolehkan langsung pulang sebelum mengunjungi tempat asrama cewek terlebih dahulu, sambil mengobrol singkat sembari berjalan menaiki jenjang dengan senyuman di wajahnya membawakan barang dan berjalan menuju asrama putri agar bertemu dengan orang yang sekampung juga disana.
***
Sesampainya di asrama putri, banyak sekali putri yang melakukan aktivitasnya masing-masing, ada yang sedang masak, ngobrol, tiduran, menjemur, hingga menghapal, suara keriuahan terdengar tak henti-hentinya.
suasana tersebut menjadi pandangan pertama yang dilihat serta merasa aneh karena hanya sendiri seorang pria yang ada disana.
Senior cewek dari kampung lekas menyuruh adek kelasnya agar segera memasak untuk makan bersama di lokasi asrama patayat. junior pun bergegas mempersiapkan makanan atas arahan seniornya.
Sembari menunggu patayat memasak agar makan bersama. Adhi dan sang nenek kerap diajak Mengobrol tentang aturan, hapalan dan perbincangan keluaraga, semua berkumpul mengelilingi untuk berbagi cerita.
Hingga nasi dan lauknya sudah matang, Makanan dan minuman dihidangkan ditengah lingkaran yang dibuat kemudian makan bersama, sesaat sesudah 3 kali suapan, terdengar suara patayat dari luar ruangan berteriak sekencang mungkin hingga terdengar ke berbagai arah, semua keluar menyaksikan apa yang terjadi, ternyata ada patayat yang kesurupan saat itu.
Seorang patayat yang kesurupan berteriak sambil mengejar orang yang ada didekatnya sehingga banyak yang menjauh darinya, beberapa senior dari patayat datang untuk memeganginya dengan kuat serta menyuruh junior untuk memanggil ibunda agar patayat yang kerasukan segera terobati.
Serentak keramaian berkumpul mengelilingi yang kerasukan, bahkan makanan yang baru 3 suapan ditinggal demi melihat orang yang kerasukan tersebut yang berteriak dengan kencang dan berkata "Sini kalian yang mau melawan, kalian para pengganggu" berulang-ulang dilontarkan oleh sosok yang memasuki tubuh patayat tadi.
Tidak lama berselang ibunda bermarga chaniago sebagai penanggung jawab asrama putri hadir mendekat, lekas membacakan doa kedahinya yang tangan dan badannya dipegangi dengan erat oleh senior yang berada didekatnya agar tidak lepas dan membangkang.
Selepas itu ibunda bertanya "siapa gerangan anda? Kenapa memasuki tubuh putri saya". jawaban sok kuat dari makhluk yg memasuki tubuh patayat menjawab "aku penguasa di daerah ini, nama saya sarah banyak mereka membuang sampah sembarangan tanpa izin, bahkan banyak yang tidak memiliki sopan santun, dan mandi setelah magrib padahal jam waktu kami saat itu, bukan hanya itu, banyak dari mereka yang mandi kadang menyenggol anak kami hingga tersungkur, saya tidak suka".
Ibunda menjawab "Jika itu benar, kami tidak memperingatkan mereka sebelumnya, saya sebagai ibunda mereka disini meminta maaf dan akan saya buat aturan baru agar tidak adanya permasalahan"
sarah berteriak kencang "apa kamu dapat menjaminnya". saya tidak menjamin, saya usahakan dengan membuat peraturan baru agar seperti yang kamu sebutkan tidak terjadi lagi, jadi sekarang anda lekas keluar dari tubuh putri ini". Jawaban ibunda dengan tegas.
Patayat yang kena rasuki benama sanaya meruapakan patayat kelas 3, yang masih polos dan tak tahu apa-apa. Lantas setelah itu, sanaya pun sadarkan diri setelah dibantu ibunda dengan olesan bawang putih dan bacaan yang membantu mengeluarkan jin yang ada ditubuhnya. Hingga senior yang memeganginya melepaskan pegangan dan dia diantarkan ke kamarnya untuk diistirahatkan.
Patayat dan depel telah berkumpul disana sebelumnya, setelah semuanya selesai lalu membubarkan kerumunan patayat yang telah mengelilingi sedari tadi. Ibunda memberitahukan kepada para devel patayat agar berkumpul untuk memusyawarahkan peraturan terbaru yang akan ditetapkan bagi seluruh kawasan asrama.
Setelah bubar dari melihat orang yang kerasukan, semua kembali ke kegiatannya masing-masing, adhi dan neneknya kembali makan bersama dengan patayat yang sekampung dengan mereka. Hingga menyelesaikan makanannya bersama.
Tak lama setelahnya Adhi dan neneknya meminta izin pulang dikarenakan masih mau ke panyabungan menjenguk ibu yang baru melahirkan.
kemudian permintaan pulang ditanggapi “Adhi buru2 kali pulangnya menginap aja di asrama semalam. Ujar salah seorang patayat.
”lain kali saja kak karena saya sendiri berjenis kelamin laki-laki sendirian takutnya jadi masalah untuk orang kakak disini, kami langsung pulang saja. Kebetulan ibu masih di rumah sakit baru selesai persalinan. Kami berencana kesana terlebih dahulu sebelum balik kerumah”. Ucap Adhi menegaskan.
"Oo.. ada adek ni adhi sekarang, bolehlah nanti kakak gendong adiknya?" Dengan nada gemes dan bercanda.
"Iya.. iya.. nanti kalau udh libur datang aja ke rumah, aku kasih kakak seharian yang gendong”. jawaban adhi dengan lugas.
Kemudian turun dari asrama menuju loket yang telah tersedia halte bis disana, adhi dan nenek ditemani beberapa senior dan junior patayat sampai keduanya berangkat menaiki angkot lintas panyabungan karena memang masih harus singgah di rumah sakit madina.
Diangkot sambil mendegarkan musik band yang diputar didalam angkot panyabungan, membaringkan badan ke bagian belakang angkot karena telah tenang sudah selesai mengurus segala urusan mengenai pendaftaran hanya tinggal menunggu penguman ruangan yang akan masuk nantinya.
Hingga angkot sudah mendekati rumah sakit dan siap-siap turun, adhi dan nenek turun tepat di depan rumah sakit, setelahnya berjalan kedalam menuju ruang bersalin sesuai dengan yang diberi tahukan sebelumnya.
Sesampainya dirumah sakit madina, langsung diarahkan ke runagan ibu dan adik berada dan memasuki ruangan tersebut. Dengan senyuman adhi disambut dan disuruh untuk menggendong adiknya akan tetapi adhi tidak berani mengambil resiko hingga akhirnya nenek yang menggendongnya, adhi hanya senyum manis melihat adeknya dan sesekali mencubiti dan mengajaknya bercanda dengan mencubit pipinya pelan, suasana yang begitu bahagia karena kehadiran seorang anggota baru dalam keluarga
Setelahnya dipertanyakan tentang sekolah "sekolah gimana, sudah didafatar ?” Ucap ibu bertanya.
“Sudah Bu, meski awalnya sempat kebingungan dimana tempat pendaftarannya hingga kami bertemu seorang petugas dan mengarahkan kami ke bagian administrasinya”. Jawab Adhi.
"Berarti semua sudah selesai, gak ada lagi yang harus diurus bukan ?" Ditanyakan oleh bapak.
"tidak ada lagi, musthafawiyah dan tsanawiyah sudah didaftarkan tinggal menunggu masuk atau nama di pampang didepan ruang kelas minggu depan", ujar adhi.
”syukurlah kalau semuanya sudah kelar, rajin2 belajarnya nanti” ujar ibu.
”baik bu”, jawab Adhi.
“Pesan dari ibu, dunia ini ibaratkan dua wajah pagi yang bersinar bagai kebahagiaan dan kepedihan, suka dan duka, kesenangan dan penderitaan, kamu harus memiliki kemauan, kegigihan dan tekat yang kuat bila bertemu masalah kamu harus menghadapinya dengan pikiran yang tenang dan bijak”. Ucap ibu.
”iya Bu, saya akan usahakan yang terbaik hingga sampai hari kelulusan nanti” ujar Adhi sambil tersenyum.
”kelak kamu akan menjadi sandaran untuk keluarga dan mendoakan semuanya, meski nanti ada saatnya kamu menemui jalan buntu dan salah arah. Pada saat itu tiba ibu hanya meminta dan berdoa kelak kamu bisa kembali ke arah awalmu kembali” ucap ibu berharap.
“Iya bu saya akan ingat pesan dari ibu”. Ucap Adhi.
”baiklah”. Ujar Ibu sambil mengelus kepala Adhi.
"Bagaiamana dengan kondisi ibu sekarang, apakah sudah selesai, kenapa kita belum pulang kerumah" ujar adhi bertanya.
"ibu operasi caesar dan masih belum diperbolehkan pulang sama dokter, kita bisa pulang setelah minggu depan". Jawab bapak.
”Mm.. gitu yah, masih lama berarti”, ucap Adhi.
seminggu di rumah sakit menjalani perawatan hingga akhirnya waktu untuk pulang telah tiba. Dokter telah memberi izin keluarga untuk pulang.