Pintu rumah diketok jam 10 pagi. Bukan ketok sopan. Ketoknya buru-buru, kayak debt collector nagih utang.
Aku buka pintu.
Dan di depan, berdiri Lia. Mantan istriku.
Wangi parfumnya masih sama. Chanel No. 5. Dulu aku yang beliin pake bonus pertama kerja. Sekarang parfum itu dipake buat datang ke rumah kontrakan 3x4 meter.
Dia nggak sendirian. Di belakangnya ada mobil Alphard hitam. Sopirnya nunggu.
"Gue mau ketemu Dika," katanya datar. Nggak ada salam. Nggak ada "hai". Langsung to the point, kayak aku ini resepsionis hotel.
Aku minggir. "Masuk."
Lia masuk. Matanya nyapu ruangan. Dari tembok yang catnya ngelupas, kursi plastik retak, sampe meja yang cuma ada gelas belimbing isi air putih.
Dia nyengir. Sinis.
"Jadi di sini lo tinggal sama anak gue?"
Anak gue. Bukan anak kita.
Tusukan pertama.
Dika lari dari kamar pas denger suara mamanya. "Mama!"
Dia langsung meluk. Lia jongkok, meluk balik. Tapi matanya tetep nyalang ke aku.
"Mama kangen," kata Lia ke Dika. "Mama bawain mainan."
Dia ngeluarin kotak Lego gede dari tas branded-nya. Harga kotaknya mungkin seharga kontrakan aku sebulan.
Dika seneng banget. "Makasih, Ma!"