Dukun Milenial

Dian Armay
Chapter #1

Tempat Pilihan

Setahun putus sekolah bukan berarti tak bisa belajar. Sapta, anak yang dikenal cerdas tapi lemah masih bisa belajar lewat jalur lain, yaitu mempelajari jalur yang diwariskan dari sang kakek. Syarat berat, puasa di puncak gunung selama sebulan pun dilakukan dengan tekun. Buku kuno dan perhitungan klasik pun bisa dikuasai hanya dalam hitungan setengah tahun. Ia sudah menguasai segala ilmu yang dimiliki sang kakek, bahkan lebih.


Ditinggal ibu menjadi tenaga kerja migran serta ayah yang menanggung hutang warisan yang banyak membuat lelaki itu harus mandiri dengan keterbatasan yang dimiliki. Ia bekerja sebagai praktisi di usia yang masih belia untuk ukuran yang lain. Berkat koneksi dari sang kakek, ia dengan mudah terkenal. Apalagi hubungan dengan para guru dan ia murid kesayangan, namanya semakin mudah dikenal dan terkenal.


Sudah enam bulan ia menjadi praktisi. Uang yang dikumpulkan sudah cukup untuk masuk ke sekolah yang diinginkan. Ia langsung menemui sang ayah yang sedang duduk usai bekerja.

“Bapak, uangku sudah cukup aku mau sekolah,” kata Sapta.


“Sekolah dimana? Mungkin Bapak bisa bantu biayai kamu,” tanya sang ayah.


“Nggak usah, uangku sudah bisa buat bayar sekolah dan juga buat makan. Aku mau sekolah di SMK Kamulyan, jurusan elektro,” jawab Sapta.


“Kamu sudah siap di sana? Bagaimana dengan penempatannya? Apa kau bisa hidup sendiri?”


Pertanyaan sang ayah itu membuat Sapta berpikir ulang. Tambah lama dipikirkan ia merasa sedih. Sebuah mantera hendak dibacakan, tetapi ia mengurungkan diri. Sang anak ingin semua berjalan secara alami.


“Jika sudah dapat informasi, bilang ke bapak. Bapak akan mendukungmu. Jika uangnya kurang bilang juga.” Sang ayah menepuk pundak Sapta.


Walaupun masih sedih, Sapta mengucapkan terima kasih dalam keheningan.


Waktu pendaftaran telah tiba. Lelaki muda itu butuh dua bus umum untuk sampai di sekolah Kamulyan. Di sana sangat ramai. Banyak pelamar dari angkatan setahun setelah Sapta lulus. Namun, ia tak ada jalan mundur. Sapta membawa berkah kelulusan di tempat pendaftaran pertama.


Berkas dicek oleh seorang petugas. Tahun kelahiran serta kelulusan membuat petugas itu curiga. “Kamu putus sekolah setahun? Ada apa?” tanyanya.


Lihat selengkapnya