Dukun Milenial

Dian Armay
Chapter #2

Tempat Baru

Kabar kecelakaan di jalan raya langsung tersebar di segala penjuru. Para warga mengerumuni tempat itu untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Petugas medis dan polisi yang menangani kasus itu kesulitan.


Kebetulan lokasi kecelakaan di tempat sang kakek biasanya duduk mencari pelanggan. Sari yang kesal dan marah atas perlakuan sang kakek. Kedua tangan menggepalkan jari sangat keras. Ia berlari sekencang mungkin ke tempat kejadiaan.


Di tempat itu, si gadis melihat seorang lelaki muda sedang menimpa kakeknya. Tanpa bertanya, ia langsung memegang lelaki itu dan melayangkan sebuah pukulan. “Apa yang kau lakukan pada kakekku?”


“Tunggu dulu.”


Sapta sang tertuduh terlanjur kena pukulan pada wajah. Walaupun dari tangan perempuan muda, itu cukup menyakitkan untuk tubuh selemah itu. Ia tak sempat menghindar, pukulan yang lain diterima. Beruntung, sang kakek telah bangkit dan menahan pukulan terakhir.


“Hentikan Sari. Bukan dia yang bersalah. Dialah yang menyelamatkanku. Jika tidak, kakekmu ini tertimba truk,” kata sang kakek.

“Oh, begitu ya. Maafkan aku yang tidak bertanya terlebih dahulu.” Sari pun menundukkan kepala karena malu.


Sapta seolah tak merespon permintaan maaf Sari. Lelaki itu memegang bagian wajah yang sakit sambil membacakan matera. Namun, nyeri itu tak kunjung reda. Sesuatu hal aneh dirasakan, sebuah kehidupan yang terancam. Ia mendatangi truk yang telah sedang diurus para polisi dan petugas medis, tetapi di bagian belakang. Kanan tangannya mengarah pada muatan yang tumpah.


“Jangan sentuh itu,” larang seorang polisi.

“Ada sesuatu di sini. Entah apa itu, aku kurang jelas. Tolong selamatkan nyawanya,” pinta Sapta.

“Ah, itu perasaanmu saja.”


Sapta malah mendapatkan pengusiran. Permintaan konyol tersebut tentu saja ditolak para polisi dan orang lain. Lelaki itu kembali ke tempat sang kakek dan cucunya duduk sambil memijat kaki sang kakek.


“Apakah permintaan maafku belum cukup, Mas? Aku tadi tidak tahu.” Sari mengulurkan tangan kanan.

“Bukan begitu, aku hanya saja merasakan ada yang sekarat. Aku tak tahu apa itu, tapi hidupnya tak akan lama.”


Sapta menyentuh tangan selembut sutra itu. Namun, ada hal yang aneh. Walaupun tak begitu kuat, aroma sebuah mantera diciumnya. Itu seperti sebuah mantera cinta, sesuatu yang belum pernah ia praktekkan. “Mbak cinta pada seseorang?” tanyanya.


“Bagaimana kau tahu?” Sari keheranan.

Lihat selengkapnya