Walaupun hanya seorang pemulung, wajah sangat lelaki itu membuat Sapta sedikit merinding. Ia memperhatikan keadaan sekitar. Aneh sekali, tak ada suatu tanda bahaya kecuali dari lorong yang pernah ia lalui.
Pemulung yang lain datang. Usianya agak muda dan tubuh sedikit berotot. Bentuk wajah juga tidak mengintimidasi seperti yang berada di sebelah. Lelaki itu membantu mengumpulkan sampah di tepi jalan.
“Bukankah kau yang semalam penyelamatkan anakku?” tanya lelaki yang berwajah lebih bersahaja.
“Yang tertindih muatan itu, ya?” tanya balik Sapta.
“Iya.”
“Aku hanya kebetulan saja merasa ada kehidupan. Mungkin itu sudah menjadi takdir kita.”
Suara orang yang mencari dirinya terdengar. Sapta beralih mendekat pada lelaki yang baru ditemui, dekat pada lelaki yang lebih muda karena tak yakin pada yang berada di sebelah.
“Aku butuh bantuan sedikit. Mereka mau mengambil uangku,” minta Sapta.
Para preman yang mengejar Sapta sampai di sana. Mereka berhenti dahulu karena ada orang lain. Sang ketualah yang maju ke depan tetapi tidak bisa langsung mengamankan Sapta.
“Jadi ini orang yang mau mengambil uangmu, Dik?” tanya orang yang berwajah sangat.
“Benar,” jawab Sapta.
“Karena kamu sudah menyelamatkan keponakanku, izinkan aku membalas kebaikanmu. Bukankah begitu, sadaraku?” Sang pemulung berwajah sangat menghadap pada orang yang dianggap saudara.
“Benar, Kangmas. Kita juga perlu membantu adik ini.”
“Jadi kalian menantang kami?” Sang ketua mengeluarkan sepasang pisau, diikuti preman yang lain. Berbagai jenis senjata tajam dipamerkan.
Mantera pembalik kembali dibaca Sapta. Sang pemimpin preman kesakitan dan terjatuh. Senjata yang digunakan terlepas dan ia berguling di lantai kotor. Preman lain hanya bisa lihat melongo.
“Santet apa yang kamu gunakan dan bagaimana caranya? Siapa dukunmu?” tanya sang ketua preman.
Sapta tak bisa menjawab pertanyaan tersebut karena sedang membaca mantera pembalik.