Dukun Milenial

Dian Armay
Chapter #4

Mantera Kepintaran

Di malam itu Sapta kedatangan tamu. Bukan orang biasa atau saudara sang kakek pemilik asrama. Tamu yang datang kali ini pernah dilihat Sapta. Sepasang orangtua penyuap sekolah datang ke tempat praktek alternatif itu.


“Mas, kami ke sini ada keperluan. Tolonglah anak kami dalam ujian masuk SMK,” kata sang suami.


“Ujian sekolah? Ada-ada saja mereka. Kalau tidak belajar mana bisa. Dasar para penyuap dan malas berusaha,” katanya di dalam batin.


Bisa saja Sapta menolah orang tersebut karena permintaan yang aneh tersebut. Ia berpura-pura membaca mantera sambil mencari suatu barang yang tidak ada di sana. Tentu saja itu bukan media yang diperlukan.


Sebuah ide pun tercetus. Ia mengambil sebuah pena, kalkulator, tabel panel kalender. Semuanya dijejerkan di atas sebuah meja.


“Bagaimana Mas? Apakah bisa?” tanya sang ayah.


“Apakah ada foto anakmu?” tanya balik Sapta. Tentu saja itu hanya sebuah modus dan pura-pura saja.


“Ada. Ini anakku, Sambodo Prasetyo.” Sang ibu mengeluarkan foto sang anak. Tanggal lahirnya sudah kusiapkan.


Sapta memperhatikan foto tersebut. Itulah orang sombong yang mengejeknya waktu di sekolah. Dendam ada di dalam hati, tetapi demi keprofesionalan kerja, ia bisa mengurungkan niat tersebut. Sapta fokus pada foto tersebut. Tentu saja ada niat terselubung tidak baik. “Bisa sih, tapi sulit. Aku tidak menjamin berhasil bisa menjadi juara satu,” katanya basa basi.


“Tidak apa-apa, Mas. Sambo itu memang pemalas dan suka tawuran. Bisa masuk saja sudah untung,” kata sang ayah.


Mantera membuat pintar tentu saja tidak ada. Hanya ada mantera yang membuat percaya diri. Sapta pun tidak membaca mantera itu karena dinilai berbahaya karena Sambo terlihat sombong, terlebih lagi dia sudah menghina Sapta dalam sekali bertemu. Mulut hanya bergerak tanpa satu pun mantera diucapkan. Sebotol air meniral diberikan kepada sanng tamu.


“Bagaimana cara menggunakannya, Mas. Diminumkan atau disiramkan?” tanya sang ibu.


Lihat selengkapnya