Pagi di Cluster Cendana bukanlah sekadar pergantian waktu dari gelap ke terang, melainkan fajar dimulainya sebuah kompetisi tak kasat mata. Bagi Leander Eron, suara mesin espresso otomatisnya yang mendesis halus di dapur bersih bergaya minimalis itu adalah satu-satunya hal yang masuk akal di dunia ini. Hidup Eron adalah sebuah garis lurus yang presisi. Segala sesuatunya harus terukur, dari mulai kadar kafein dalam cangkirnya hingga jadwal keberangkatannya yang tidak boleh meleset lebih dari dua menit.
Namun, tepat di luar jendela rumahnya yang kokoh dengan aksen beton ekspos, sebuah "badai" lokal sudah mulai berkecamuk.
"Eron! Lu manasin mobil ape mau bikin hajatan? Asepnya ampe masuk ke sela-sela jendela Nyak nih!" seru Nyak Rodiah dari balik pagar. Perempuan asli Rawabelong itu berdiri dengan gagah, mengenakan daster batik motif mega mendung yang warnanya sudah agak pudar namun keberaniannya tetap membara. Tangannya sibuk menyemprot tanaman lidah mertua dengan selang air, dengan tekanan yang sengaja ia arahkan sedikit terlalu dekat ke arah garasi Eron.
Eron, yang baru saja selesai merapikan simpul dasi Windsor nya di depan cermin, hanya bisa memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. "Nyak, ini mobil baru. Emisinya sudah standar Euro 5. Tidak ada asap, hanya uap air," jawab Eron dengan nada datar yang sudah terlatih menghadapi drama ibunya selama tiga dekade.
"Bodo amat mau Euro ape Dollar! Intinya hidung Nyak gatel! Tuh, liat tetangga sebelah, udah keluar bawa koran. Malu dikit napa, jabatan lu kan CFO, Chief Finance Officer, masa kelakuan masih kayak supir ngetem di lampu merah Palmerah!" bisik Nyak Rodiah, meskipun volume 'bisiknya' masih bisa didengar hingga tiga blok ke depan.
Tepat pada detik itu, gerbang rumah nomor 12 yang memiliki aksen kayu hitam elegan dengan ukiran geometris, terbuka dengan perlahan dan ritmis. Ibu Andi Tenri melangkah keluar. Ia adalah manifestasi dari keanggunan wanita Bugis di tengah kerasnya Jakarta. Kaftan sutranya berkibar tertiup angin pagi, rambutnya disanggul rendah dengan rapi dan seulas senyum tipis yang sarat akan makna tersungging di bibirnya.
"Tabe, Bu Rodiah. Selamat pagi sekali kita' hari ini," sapa Ibu Tenri dengan nada yang begitu tenang namun mengandung frekuensi yang sanggup menggetarkan nyali lawan bicaranya. Matanya yang tajam langsung beralih ke arah Eron yang sedang menenteng tas kerja kulit asli Italia. "Eron, pagi-pagi sudah rapi sekali. Mau ke kantor ya? Anak saya, Rhea, tadi malam baru bisa memejamkan mata jam tiga pagi. Kasihan sekali, katanya sedang mengurus finalisasi kontrak dengan agensi kreatif di Singapura. Saya suruh dia istirahat, tapi dia bilang 'Siri', Ma. Kalau tanggung jawab belum selesai, pantang bagi dia untuk berhenti."
Nyak Rodiah langsung mematikan keran airnya dengan sekali putar. Tubuhnya tegak seketika, radar kompetisinya menyala merah menyala. "Oh, si Rhea kerja ampe jam tiga? Rajin bener ya. Anak Nyak mah jam sembilan malem udah di rumah, Bu Tenri. Maklum, jabatannya kan udah tinggi banget, jadi tugasnya cuma perintah-perintah doang lewat HP, bukan ngerjain teknis yang bikin mata panda ampe begadang. Kasihan ya kalau masih harus kerja lembur gitu, berarti jabatannya belum 'nyantai' banget."
Eron memalingkan wajah, pura-pura sibuk memeriksa ban mobilnya. CFO bukan berarti pengangguran terselubung yang hanya duduk manis, Nyak, batinnya miris.
Di lantai dua rumah sebelah, di balik gorden yang sengaja hanya dibuka selebar satu inci, Rhea Calista menyaksikan seluruh drama itu sambil mengunyah sisa biskuit gandum dari dalam kaleng. Wajahnya masih sembap, dan rambutnya diikat asal-asalan menyerupai sarang burung. Ucapan ibunya soal "kontrak Singapura" adalah sebuah fiksi tingkat tinggi yang luar biasa. Kenyataannya, Rhea begadang hingga jam tiga pagi karena dikejar tenggat waktu revisi desain logo untuk sebuah kedai kopi di Depok yang pemiliknya hobi berganti konsep setiap kali melihat tren baru di TikTok.
"Singapura matamu, Ma," gumam Rhea dengan suara serak. Ia menatap Eron yang kini sedang masuk ke dalam SUV hitamnya yang mengilat. Eron selalu terlihat sempurna, baju yang disetrika tanpa cela, rambut klimis dengan pomade mahal, dan ekspresi wajah seserius patung pahlawan di persimpangan jalan. Rhea membencinya. Ia membenci betapa Eron selalu dijadikan standar "anak idaman" oleh Nyak Rodiah, yang secara otomatis memicu Ibu Tenri untuk menekan Rhea menjadi sepuluh kali lebih produktif setiap harinya.
Bagi Eron, hidup adalah tentang struktur, logika, dan proyeksi masa depan. Namun, sore itu di kantornya yang terletak di lantai 42 sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, seluruh logikanya seakan terbentur tembok beton.