Malam itu, kotak martabak berukuran jumbo dengan logo emas duduk manis di atas meja makan rumah Eron, seolah-olah menjadi artefak suci yang siap dikorbankan. Eron tidak bisa tidur. Pikirannya berperang antara sisa-sisa logika CFOnya yang berteriak bahwa ini adalah tindakan paling bodoh abad ini, dengan keputusasaan seorang pria yang baru saja dicap "tidak punya jiwa".
Pukul enam pagi, Eron sudah rapi dengan kemeja biru muda yang disetrika licin sempurna. Ia memandangi kotak martabak di atas meja. Lemak mentega wisman yang merembes ke kertas pembungkusnya mengeluarkan aroma manis yang sanggup melumpuhkan iman siapapun, tapi bagi Eron, itu adalah aroma kekalahan.
"Demi Clarissa. Demi frekuensi. Demi jiwa," gumam Eron pelan, mencoba menyugesti dirinya sendiri seperti seorang gladiator yang akan masuk ke arena colosseum.
Ia menjinjing kotak martabak itu keluar. Di teras, Nyak Rodiah sudah siaga dengan daster barunya, motif ondel-ondel merah menyala. Tangannya memegang sapu lidi, matanya menatap tajam ke arah pagar rumah sebelah.
"Eron! Lu mau ngantor ape mau kondangan bawa-bawa besek begitu?" tanya Nyak Rodiah heran. Matanya langsung mengenali logo kedai martabak paling mahal di Jakarta tersebut. "Busyet, itu martabak yang antrenya kayak antre sembako? Buat siapa lu bawa pagi-pagi begini? Buat bos lu biar naik gaji lagi?"
Eron menarik napas dalam-dalam. "Bukan, Nyak. Ini... buat buang sial."
Nyak Rodiah melongo. "Buang sial pake martabak telor? Eh, itu martabak manis ye? Kaga ada sejarahnye buang sial pake keju parut ama cokelat lumer, Ron! Lu kate jin penunggu kantor lu doyan ginian?"
Eron tidak menjawab. Ia melangkah mantap menuju pagar. Di saat yang bersamaan, pintu rumah nomor 12 terbuka. Ibu Andi Tenri keluar dengan daster sutra yang senada dengan warna bunga krisan di tamannya. Ia terlihat sedang sibuk merapikan letak sandal-sandal di rak depan. Dan di belakangnya, Rhea muncul dengan kaos oblong kedodoran dan celana pendek, rambutnya dikuncir asal-asalan, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa "perang" dengan revisi desain hingga subuh tadi.
Langkah Eron terhenti tepat di batas pagar beton yang memisahkan kedua rumah tersebut.
Ibu Tenri mendongak, matanya yang tajam langsung menangkap keberadaan Eron, terutama, kotak martabak di tangannya. "Tabe, Eron. Pagi sekali sudah bertamu. Ada apa ya?"
Nyak Rodiah yang melihat anaknya mendekati pagar musuh bebuyutan langsung lari mendekat, sapu lidinya masih tergenggam erat. "Eron! Ngapain lu ke situ? Jangan kasih unjuk itu martabak, ntar mereka kepingin!"
Rhea, yang awalnya masih menguap, tiba-tiba tersentak. Bau martabak itu menyerang indra penciumannya dengan brutal. Sebagai pecinta kuliner yang sering lupa makan karena kerja, bau mentega mahal itu adalah godaan tingkat dewa. Ia menatap Eron dengan alis bertaut. "Mau pamer martabak jam tujuh pagi, Mas? Maaf ya, kita lagi nggak terima sumbangan sombong."
Eron tidak bereaksi pada sindiran Rhea. Ia teringat instruksi Oracle R: Jangan jelaskan apapun. Berikan, lalu segera pergi.
Eron menyodorkan kotak martabak itu melewati pagar. Tangannya sedikit gemetar, tapi wajahnya tetap datar seolah-olah ia sedang menyerahkan laporan audit tahunan yang membosankan.
"Buat lo," ucap Eron singkat, suaranya agak serak.
Rhea tertegun. Ia memandang kotak itu, lalu memandang wajah Eron, lalu beralih ke wajah ibunya, dan terakhir ke wajah Nyak Rodiah yang mulutnya terbuka lebar hingga lalat pun bisa masuk tanpa izin.
"Buat gue?" Rhea menunjuk dirinya sendiri. "Lo nggak salah? Ini bukan martabak yang isinya racun atau pencahar, kan?"