Leander Eron terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi tepat pukul lima pagi. Biasanya, hal pertama yang ia pikrkan setelah membuka mata adalah kepanikan logistik tentang jadwal rapat hariannya, target kuartalan, atau tumpukan dokumen keuangan yang harus ia periksa. Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Tubuhnya terasa lebih ringan, seolah-olah beban tak kasat mata seberat puluhan kilogram telah diangkat dari pundaknya.
Eron bangkit dari tempat tidur, meregangkan otot-ototnya, lalu melangkah ke sudut ruangan di mana lemari kaca khususnya berada. Matanya langsung tertuju pada satu slot kosong di barisan piringan hitam miliknya. Slot tempat album antik Chet Baker Sings pernah bersemayam.
Biasanya, melihat ada barang yang hilang atau tidak berada di tempat yang seharusnya, akan memicu kecemasan akut dalam diri Eron si perfeksionis. Namun kali ini, tidak ada rasa sesak. Tidak ada rasa kehilangan. Sebaliknya, sebuah kehangatan perlahan merayap naik dari dada, menjalar ke tenggorokan, dan berakhir di sudut bibirnya.
Secara perlahan dan tanpa paksaan, kedua sudut bibir Eron tertarik ke atas. Ia tersenyum. Bukan senyum sopan khas korporat yang biasa ia gunakan di depan klien, melainkan senyuman yang tulus, ringan, dan sedikit konyol. Ia menatap slot kosong itu dan menyadari bahwa melepaskan sesuatu, ternyata tidak semenakutkan itu.
Ketenangan pagi itu langsung pecah saat suara bising yang sangat akrab terdengar dari arah luar jendela kamarnya. Suara cempreng khas Rawabelong milik Nyak Rodiah sedang bersahut-sahutan dengan suara lembut namun tajam milik Ibu Andi Tenri di depan gerbang pagar. Rupanya, medan perang harian telah bergeser ke area gerobak tukang sayur keliling, tempat paling sakral untuk penyebaran intelijen domestik di Cluster Cendana.
"Eh, Bu Tenri, Nyak bukannya mau pelit ye," suara Nyak Rodiah terdengar nyaring di antara deru motor lewat. Ia sedang sibuk menunjuk-nunjuk bungkusan tempe dengan pisau tukang sayur. "Tapi itu piringan hitam si Eron harganya kagak maen-maen. Lu nanya deh ama tukang musik di Blok M, itu barang antik! Nyak ngeri si Rhea kagak ngarti cara miaranya, ntar malah dipake buat tatakan gelas kopi susu atau piring gorengan!"
Ibu Tenri yang sedang memilah ikat kangkung dengan jemarinya yang lentik, tersenyum tenang namun matanya berkilat kompetitif. "Aduh, Bu Rodiah. Ndak usah khawatir berlebihan begitu. Rhea itu lulusan desain komunikasi visual, dia sangat mengerti nilai estetika barang seni. Di kamarnya saja ada pemutar piringan hitam otomatis yang dipesan langsung dari Jepang. Justru saya yang bingung, kenapa Eron tiba-tiba begitu perhatian? Jangan-jangan, anak kita ini ada main di belakang kita?"
Nyak Rodiah hampir saja menjatuhkan bungkusan tempe yang sedang dipegangnya. "Eh, main ape nih maksudnye?! Anak Nyak mah lurus-lurus aje ye! Kaga ada sejarahnye silsilah kami maen belakang, kecuali pas lagi ronda malem!"
Rhea, yang mengintip dari balik tirai dapur lantai bawah sambil memegang cangkir kopi, hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Gosip ini sudah menyebar ke tukang sayur tercepat di komplek. Berarti, dalam hitungan jam, seluruh komplek akan mengira bahwa Eron sedang mencoba melamar Rhea dengan mahar piringan hitam antik.
Rhea melirik ke arah meja belajarnya di lantai atas. Di sana, album Chet Baker itu diletakkan di tempat paling bersih dan aman. Semalam, Rhea bahkan sengaja memutar piringan hitam tersebut menggunakan turntable klasiknya. Suara terompet Chet Baker yang mendayu-dayu memenuhi kamarnya yang sunyi, dan untuk pertama kalinya, Rhea merasa bisa melihat sisi lain dari Eron, sisi yang rapuh, sepi, dan membutuhkan kehangatan di balik topeng CFOnya yang dingin.
"Gila, gue beneran baper sama klien sendiri," bisik Rhea dengan frustrasi. Ia buru-buru merogoh saku celananya, memeriksa ponsel rahasia Oracle R. Belum ada pesan baru dari SunWalker, namun dadanya sudah berdegup kencang hanya karena memikirkan pria itu.
Sore harinya, langit Jakarta mendadak berubah menjadi abu-abu gelap yang pekat. Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering di sepanjang jalan Sudirman sebelum akhirnya menumpahkan hujan deras yang luar biasa lebat disertai petir yang menyambar-nyambar.
Eron turun dari lobi kantornya dengan payung hitam lipat yang kecil. Karena mobilnya masih "dikarantina" sesuai instruksi Oracle, ia terpaksa berjalan menuju stasiun MRT terdekat di tengah badai. Setibanya di stasiun MRT Fatmawati, hujan rupanya belum juga reda. Air mengalir deras di tangga stasiun seperti air terjun kecil, membuat para komuter menumpuk di lobi bawah karena enggan basah kuyup.
Eron memutuskan untuk tetap pulang menggunakan MRT hingga stasiun terdekat dari kompleknya, lalu berjalan kaki dengan payung kecilnya. Bagaimanapun, Oracle menyuruhnya untuk meruntuhkan kenyamanan materialnya, dan ia berkomitmen penuh untuk itu.
Saat Eron baru saja melangkah keluar dari area stasiun dekat komplek perumahan mereka, ia melihat siluet seorang perempuan yang sangat ia kenal sedang berdiri gelisah di bawah halte bus yang bocor di beberapa sisi.