POV Eron
Bagi seorang CFO seperti Leander Eron, otak adalah sebuah sistem operasi yang efisien. Setiap folder memori harus diklasifikasikan dengan rapi, dan setiap keputusan hidup harus melewati analisis risiko yang ketat. Biasanya, folder bernama "Clarissa" menempati ruang penyimpanan paling besar di kepalanya, lengkap dengan rencana pernikahan, daftar katering, dan bayangan masa depan yang rapi. Namun, sejak pagi ini, sistem operasi di kepala Eron seolah-olah terserang bug yang sangat mengganggu.
Eron duduk di hadapan meja kerjanya yang luas di lantai 42. Di layar komputernya terpampang grafik analisis arus kas kuartal kedua, lengkap dengan tabel-tabel angka yang biasanya ia puja karena memberikan kepastian. Namun, sudah hampir setengah jam, kursor komputernya hanya berkedip-kedip pasif di sel E-14. Pikirannya sedang tidak ada di ruang rapat. Pikirannya melayang, berputar-putar di sekitar satu folder baru yang mendadak muncul tanpa izin di kepalanya. Folder itu tidak berlabel angka keuangan, melainkan berlabel nama tetangga sebelahnya: Rhea.
"Kenapa gue jadi kepikiran dia terus?" gumam Eron pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang ergonomis. Ia memijat pelipisnya yang mendadak pusing. Eron mencoba melakukan evaluasi logis untuk meredam kegelisahannya. Ia menutup matanya dan mencoba memanggil kembali bayangan Clarissa. Ia membayangkan wajah cantik sang mantan tunangan, suaranya yang lembut saat membahas pameran seni rupa, dan cara perempuan itu menatapnya dengan penuh ekspektasi.
“Kamu nggak punya soul, Ron. Hidup bersamamu seperti hidup di dalam sel spreadsheet Excel.”
Eron menarik napas panjang. Seharusnya ingatan itu membuatnya sedih atau setidaknya memicu keinginan kuat untuk memenangkan Clarissa kembali. Tapi, fokusnya mendadak buyar secara brutal. Ingatannya justru melompat ke kejadian kemarin sore di bawah halte bus yang bocor.
Ia malah mengingat bagaimana ujung hidung Rhea memerah karena kedinginan. Ia mengingat aroma air hujan yang bercampur dengan sampo bayi yang samar dari rambut Rhea yang basah, sangat berbeda dengan aroma parfum mewah Clarissa yang rumit dan berat. Ia mengingat bagaimana bahu mereka bersentuhan erat di bawah payung kecil yang bergoyang tertiup angin, dan bagaimana Rhea menatapnya dengan mata bulat yang tampak begitu terkejut saat ia meminta maaf.
"Nggak, nggak mungkin," desis Eron tiba-tiba sambil menegakkan punggungnya. Matanya membelalak kaget karena menyadari ke mana arah pikirannya berjalan. "Ini sangat tidak logis. Kenapa gue jadi membandingkan Clarissa dengan Rhea?"
Eron menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, seolah-olah mencoba mengusir virus aneh yang sedang merusak sistem berpikirnya.
"Dia itu Rhea. Tetangga rese yang hobi menyindir gue di depan gerbang. Cewek ceroboh yang suka pakai kaos oblong kedodoran bergambar band grunge belel. Gue cuma merasa bersalah atas masa lalu, makanya gue kepikiran terus setelah minta maaf kemarin. Ya, benar. Ini cuma efek psikologis dari pelepasan ego yang disarankan oleh Oracle. Reaksi kimiawi otak yang biasa terjadi saat kita berdamai dengan musuh lama. Tidak lebih." Eron mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan nada tegas. Meskipun Eron terus membentengi dirinya dengan penyangkalan tingkat dewa, jemarinya secara tidak sadar membuka ponselnya. Ia menatap ruang obrolan dengan Oracle R. Di sana tertera pesan terakhir dari sang Oracle yang semalam sempat membuatnya merasa sangat tenang.
“Anda tidak lagi membutuhkan mantan tunangan Anda untuk merasa 'hidup'. Anda sudah memiliki jiwa yang sangat indah itu di dalam diri Anda sendiri sejak awal.”