Malam telah larut di Cluster Cendana. Jarum jam dinding di kamar Eron menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Suara jangkrik di luar rumah bersahut-sahutan dengan embusan angin malam yang menerpa gorden abu-abu kamarnya. Namun, sang CFO masih belum juga bisa memejamkan mata.
Eron berbaring terlentang di atas kasur king size nya, menatap langit-langit kamar yang sunyi. Di sudut ruangan, meja kerjanya terlihat sangat rapi, tidak ada dokumen yang berserakan, tidak ada laptop yang menyala. Semuanya terstruktur dengan sempurna. Namun, di dalam kepalanya, struktur itu telah runtuh total. Pikirannya terus-menerus memutar kembali kejadian di Pasar Subuh Kebayoran Lama tadi fajar.
Ia mengingat bagaimana tangan mungil Rhea menarik lengan jaketnya dengan cepat saat gerobak sayur hampir menabraknya. Ia mengingat bagaimana wajah Rhea yang tanpa riasan terlihat begitu segar di bawah lampu neon pasar yang temaram. Dan yang paling mengganggu tidurnya adalah senyuman Rhea saat memegang kantong kangkung, memperlihatkan lesung pipit tipis yang selama ini tidak pernah Eron sadari keberadaannya.
"Kenapa gue jadi begini?" gumam Eron, mengusap wajahnya dengan frustrasi.
Ia berguling ke samping, meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk mengadukan kekacauan otaknya ini kepada satu-satunya entitas yang ia anggap memegang kunci atas kesehatan spiritualnya: Oracle R. Eron membuka aplikasi chat rahasia itu, lalu mulai mengetik dengan jemari yang terasa agak ragu.
SunWalker: “Oracle, saya rasa sistem energi saya sedang mengalami anomali yang sangat parah hari ini. Saya tidak bisa tidur karena pikiran saya terus-menerus menampilkan citra visual dari tetangga yang paling saya benci itu.”
Ia terdiam sejenak, menatap layar, sebelum akhirnya menambahkan detail yang lebih jujur.
SunWalker: “Tadi subuh, kami dipaksa pergi ke pasar tradisional bersama oleh ibu kami. Di tengah kekacauan pasar, dia terlihat sangat... hidup. Dia menawar harga daging dengan sangat luwes, membantu saya menghindari gerobak, dan bahkan memberikan nasihat tentang 'tidak menjadi kaku seperti penggaris besi'. Kalimatnya terdengar sangat bijak, hampir mirip dengan apa yang sering Anda katakan kepada saya. Kenapa saya jadi merasa dia sangat menarik? Apakah ini hanya efek samping dari energi stagnan yang baru saja lepas?”
Eron menekan tombol kirim, lalu mengembuskan napas panjang. Ia meletakkan ponselnya di atas dada, menunggu balasan dengan jantung yang berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. .Sementara itu, tepat di balik tembok bata setebal dua puluh sentimeter yang memisahkan kamar mereka, Rhea sedang duduk meringkuk di atas kursi kerjanya yang empuk. Kamarnya hanya diterangi oleh lampu meja belajar berwarna kuning hangat. Di pangkuannya, sebuah stoples berisi keripik pisang cokelat khas Makassar pemberian ibunya terabaikan begitu saja.
Bzzz.