Suhu politik di Cluster Cendana kembali memanas, dan kali ini bukan karena masalah iuran kebersihan yang menunggak. Semuanya bermula ketika warga komplek memutuskan untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan di area balai warga setelah arisan bulanan selesai. Ini adalah momen krusial. Bagi Nyak Rodiah dan Ibu Andi Tenri, acara kumpul warga seperti ini setara dengan sidang umum PBB, di mana pencapaian anak-anak mereka harus dipresentasikan dengan tingkat keberhasilan seratus persen demi menjaga martabat keluarga. Satu jam sebelum acara dimulai, Nyak Rodiah sudah berdiri di kamar Eron dengan wajah tegang seperti pelatih tinju sebelum perebutan sabuk juara. Di tangannya, ia memegang satu set jas kasual pinstripe berwarna biru gelap yang biasanya Eron gunakan untuk presentasi di hadapan investor asing.
"Eron! Lu dengerin Nyak baek-baek," bisik Nyak Rodiah dengan intonasi yang sangat ditekan. "Ntar di balai warga, lu kudu dandan yang parlente. Jangan pake kaos oblong melempem kayak anak sebelah! Pas Bu Tenri mulai pamer soal proyek Rhea yang dapet dollar, lu langsung masuk pake istilah-istilah mentereng lu. Sebutin tuh... ape namenye? Siof-o? Pokoknya lu jelasin kalau lu yang megang kunci brankas duit perusahaan fintech raksasa di Sudirman! Biar itu tetangga sebelah kaga songong mulu tiap pagi!"
Eron yang sedang merapikan jam tangannya hanya menghela napas panjang. "Nyak, ini cuma syukuran komplek, bukan Rapat Umum Pemegang Saham. Lagian, buat apa sih pamer-pamer begitu?"
"Astagfirullah, Eron! Ini bukan soal pamer, ini soal harga diri Rawabelong!" Nyak Rodiah menepuk dadanya dengan dramatis. "Kemarin taruhan kita soal siapa yang nikah duluan udah bikin Nyak stres. Kalau lu kaga keliatan mentereng sore ini, Bu Tenri bakal ngerasa di atas angin! Pokoknya lu kudu keliatan paling sukses se kecamatan!"
Setelah Nyak Rodiah keluar kamar sambil terus mengomel, Eron segera mengunci pintu. Kepalanya terasa pening. Dorongan dari ibunya untuk selalu menjadi nomor satu kini terasa sangat melelahkan.
Dalam kepasrahan itu, ia membuka ponsel rahasianya dan mengirim pesan cepat ke Oracle R.
SunWalker: “Oracle, saya dalam masalah besar. Ibu saya memaksa saya untuk memamerkan jabatan, kekuasaan, dan kesuksesan finansial saya di hadapan tetangga yang saya ceritakan kemarin pada acara syukuran komplek sore ini. Ibu saya sangat ingin menjatuhkan harga diri keluarga mereka. Tapi jujur, saya merasa sangat lelah berpura-pura menjadi sosok superior yang kaku. Apa yang harus saya lakukan agar energi saya tidak terkuras oleh ego keluarga?”
Di kamar sebelah, Rhea yang baru saja selesai memakai bedak tipis langsung menyambar ponsel rahasianya. Membaca keluhan Eron, senyum usil sekaligus cemas langsung terukir di wajahnya. Rhea tahu persis rencana ibunya, Ibu Tenri, yang juga menyuruhnya membawa laptop ke balai warga untuk "pura-pura sibuk memantau pasar saham global" di depan Nyak Rodiah. Rivalitas emak-emak ini sudah di luar nalar.
"Oh, Nyak Rodiah mau lo pamer jabatan, Mas?" gumam Rhea dengan mata berbinar jahil. "Mari kita uji seberapa besar komitmen 'merendahkan ego' yang lo punya."
Jemari Rhea dengan lincah mengetik balasan instruksi sabotase karier yang sangat berani.
Oracle R: “SunWalker, ini adalah ujian terbesar untuk 'Re-branding Jiwa' Anda. Kesombongan profesional adalah rantai terberat yang mengikat jiwa Anda dalam kekakuan. Jika Anda menuruti ibu Anda untuk pamer, energi stagnan Anda akan kembali mengeras, dan Anda akan kembali menjadi pria tanpa jiwa di mata semesta. Sore ini, lakukan teknik 'Dekonstruksi Status'. Berpakaianlah sesederhana mungkin, mingkin cenderung di bawah standar rata-rata. Dan ketika orang-orang bertanya tentang pekerjaan Anda sebagai CFO, jangan gunakan istilah-istilah mentereng. Katakan dengan jujur tapi dengan analogi rakyat jelata. Katakan bahwa pekerjaan Anda sebenarnya hanyalah 'tukang catat utang-piutang yang sering pusing ditagih orang' atau 'staf administrasi kasir yang tugasnya cuma mindahin angka biar kantor gak bangkrut'. Lihat bagaimana reaksi mereka ketika Anda menolak memakai jubah kesombongan tersebut. Laporkan hasilnya.”
Eron membaca pesan itu dengan mata membelalak. Logika CFOnya yang mengagungkan prestise dan reputasi profesional langsung menjerit histeris. Namun, mengingat bagaimana semua instruksi Oracle sebelumnya selalu "berhasil" membuatnya merasa lebih tenang, Eron menepis keraguannya.
Eron menatap jas pinstripe di atas kasurnya, lalu beralih menatap lemari pakaiannya. Ia menarik napas panjang. "Persetan dengan gengsi," bisik Eron mantap. "Gue mau jadi manusia biasa sore ini."
Pukul empat sore, balai warga Cluster Cendana sudah dipenuhi oleh kepulan asap dari aroma sate ayam dan bakso hangat. Meja-meja panjang diatur rapi, dipenuhi piring-piring berisi jajanan pasar.
Nyak Rodiah tampil mencolok dengan kebaya encim warna kuning terang lengkap dengan kain batik corak berani, sementara Ibu Andi Tenri terlihat sangat elegan dengan baju bodo modern berwarna hijau lumut khas Makassar, dilengkapi dengan bros emas besar di dadanya. Mereka berdua berdiri berdampingan di dekat meja konsumsi, namun atmosfer di sekitar mereka sedingin es kutub akibat perang dingin yang tak kunjung usai.
"Aduh, Jeng Tenri, itu si Rhea kok dari tadi megangin laptop mulu? Apa kagak pusing matanya?" sindir Nyak Rodiah sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas cendana. "Hari libur gini mah mestinya nyantai, nikmatin sate. Anak Nyak mah sebentar lagi dateng, dandanannya pasti rapi bener, maklum abis ada urusan penting ama kolega asing."
Ibu Tenri tersenyum tipis, mengetuk bros emasnya dengan anggun. "Rhea ini memang ndak bisa santai, Bu Rodiah. Tanggung jawabnya besar sekali. Koleganya di Singapura tidak mengenal hari libur. Sebagai pemimpin tim kreatif digital, dia harus selalu standby. Kalau ndak profesional, bisa-bisa proyek bernilai ratusan juta melayang."