Malam setelah "Pemberontakan Sandal Jepit" di balai warga, suasana di Cluster Cendana sunyi senyap seperti komplek pekuburan kuno. Di rumah nomor 11, Nyak Rodiah mengunci diri di kamar sambil memutar lagu keroncong Betawi dengan volume kecil, sesekali terdengar desah napas berat tanda harga dirinya terluka parah. Sementara di rumah nomor 12, Ibu Andi Tenri melakukan aksi mogok bicara sambil terus merapikan koleksi piring pajangannya dengan entakan yang sengaja dikeraskan.
Namun, di kamar Eron, suasananya justru sebaliknya. Eron berbaring di kasurnya dengan tangan kanan mengalasi kepala. Matanya menatap langit-langit kamar, sementara senyuman tipis yang sejak sore tadi enggan pergi masih melekat erat di wajah tampannya. Kejadian di ayunan balai warga tadi sore terus berputar di kepalanya seperti pita film yang rusak.
"Dia belain gue," bisik Eron pelan.
Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya setiap kali ia mengingat bagaimana Rhea melipat laptopnya dengan keras dan mengaku di depan seluruh warga bahwa pekerjaannya hanya "tukang gambar logo martabak recehan" demi menemaninya merendahkan diri. Solidaritas gila macam apa itu? Selama ini, tidak pernah ada satu orang pun yang rela membuang harga dirinya di depan umum hanya untuk menemani Eron terlihat bodoh. Bahkan Clarissa pun pasti akan langsung pura-pura tidak mengenalnya jika Eron datang memakai sandal jepit ke acara sosial. Eron bangkit, duduk di tepi kasur. Ia merasa sangat bersyukur. Perubahan energi yang dikatakan Oracle R ternyata benar-benar nyata. Ia merasa "jiwanya" yang dulu mati kini mulai bernapas kembali.
"Gue harus laporan ke Oracle," gumam Eron mantap.
Ia mengambil ponselnya. Sebelum berangkat ke balai warga sore tadi, Eron sempat mengambil satu foto selfie di depan cermin lemari pakaiannya sebagai bukti komitmennya kepada Oracle. Foto itu memperlihatkan dirinya yang tampak sangat kasual, hampir mendekati gembel menurut standar ibunya dengan kaos oblong putih polos longgar, celana pendek, sandal jepit karet hijau putih, dan rambut yang acak-acakan.
Ia membuka galeri foto, menatap foto selfie itu. "Gue keliatan aneh banget di sini, tapi... ya sudahlah. Demi transparansi laporan spiritual," pikirnya.
Eron menekan tombol share. Di daftar kontak cepatnya, ada dua ruang obrolan yang posisinya berdekatan karena baru saja aktif, chat WhatsApp pribadi dengan Rhea (Tetangga Sebelah), yang sempat mengirim pesan singkat menanyakan kondisi Nyak Rodiah pasca kejadian balai warga dan aplikasi khusus Oracle R. Nahasnya, jempol Eron yang biasanya sangat presisi saat mengetik angka-angka laporan keuangan, malam ini mendadak mengalami distorsi koordinasi akibat terlalu banyak memikirkan lesung pipit Rhea.
TUK.
Jempolnya mengetuk kontak Rhea (Tetangga Sebelah). Tanpa melihat kembali nama penerima di bagian atas layar karena terburu-buru, Eron langsung mengetik baris kalimat laporan spiritualnya dengan cepat:
“Oracle, ini foto saya sebelum dekonstruksi status tadi sore. Saya beneran melakukannya demi meruntuhkan kesombongan profesional saya. Rasanya sangat membebaskan, terutama saat tetangga saya itu ikut-ikutan menemani saya di bawah. Terima kasih atas bimbingannya.”
SEND.
Suara desingan khas pesan terkirim berbunyi nyaring di keheningan malam. Eron meletakkan ponselnya di atas kasur, berniat pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Namun, baru dua langkah ia berjalan, ponselnya bergetar bertubi-tubi. Ia berbalik, mengambil ponselnya kembali, dan seketika itu juga seluruh aliran darah di tubuh Eron seolah berhenti mengalir. Wajahnya berubah seputih kertas HVS. Jantungnya berdetak liar dengan kecepatan 180 kali per menit.
Di bagian atas layar ruang obrolan tertulis dengan huruf tebal yang sangat jelas: Rhea (Tetangga Sebelah). Dan di bawahnya, foto dirinya yang memakai kaos oblong gembel beserta teks panjang yang diawali dengan kata "Oracle..." terpampang dengan sangat nyata.