Pengajian bulanan kaum ibu di Cluster Cendana seharusnya menjadi oase spiritual yang menyejukkan jiwa. Setidaknya, itulah harapan Ustaz Solihin yang sore itu baru saja selesai memberikan tausiyah singkat mengenai pentingnya menjaga tali silaturahmi di teras rumah Tante Maia yang asri. Namun, begitu Ustaz Solihin berpamitan dan melangkah keluar dari gerbang, suasana damai itu menguap secepat embun pagi yang tersengat matahari Jakarta.
Saat kotak-kotak dus berisi kue bolu pandan, risoles mayo, dan lemper ayam mulai dibagikan, radar ketegangan di antara para jemaah langsung menyala. Penyebabnya sudah sangat jelas, Nyak Rodiah dan Ibu Andi Tenri duduk berseberangan, dipisahkan oleh hamparan karpet beludru merah dan piring-piring saji yang penuh dengan sisa jajanan pasar.
Sejak insiden "Solidaritas Sandal Jepit" di balai warga tempo hari, kedua ibu ini belum pernah bertemu lagi secara tatap muka dalam forum resmi komplek. Pengakuan blak-blakan Rhea tentang pekerjaan "tukang gambar logo martabak" telah merobek benteng pertahanan Ibu Tenri, sementara pengakuan Eron tentang "tukang catat utang-piutang" sempat membuat Nyak Rodiah lemas tiga hari tiga malam. Namun kini, keduanya telah menyusun kembali strategi pertahanan masing-masing.
"Aduh, Jeng Maia," Nyak Rodiah membuka suara sambil mengunyah lemper dengan gerakan yang sengaja dikeras-keraskan. Matanya melirik tajam ke arah Ibu Tenri yang sedang merapikan lipatan jilbabnya. "Ini lempernya enak bener. Ketannya pulen, kagak kayak omongan orang yang manis di depan tapi aslinya kopong. Ngomong-ngomong soal ketan, Nyak jadi inget pantun nih."
Tante Maia yang sudah mencium aroma-aroma keributan langsung menelan ludahnya dengan susah payah. "Wah, Bu Rodiah mau berpantun ya? Silakan, silakan..."
Nyak Rodiah membetulkan posisi duduk bersilanya, menepuk lututnya sekali dengan telapak tangan, lalu bersuara lantang khas seniman lenong Betawi:
"Hari Minggu pergi ke Rawabelong, Membeli duku ditaruh di nampan. Biar kata anak situ kerjanya mentereng ke seberang, Eh pas dicek aslinya cuma tukang gambar martabak bulanan! Cakep!"
Beberapa ibu-ibu pengajian spontan menutup mulut mereka dengan tangan, menahan tawa sekaligus syok. Tante Althea yang sedang minum teh langsung tersedak pelan.
Ibu Andi Tenri tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang bagai permukaan danau di tengah malam, namun jemarinya yang sedang memegang gelas teh hangat tampak mencengkeram kaca lebih erat. Bagi seorang Bugis, dipermalukan di depan umum seperti ini adalah serangan langsung pada Siri', harga diri yang harus dibela sampai titik darah penghabisan.
Ibu Tenri meletakkan gelas tehnya dengan ketukan yang sangat pelan namun terasa begitu berbobot di atas meja kayu. Ia menatap Nyak Rodiah dengan senyuman yang begitu anggun, namun sorot matanya sedingin es di kutub utara.
"Tabe, Bu Rodiah," ucap Ibu Tenri, suaranya mengalun lembut namun sanggup mengheningkan seluruh ruangan yang tadinya berbisik-bisik. "Rhea memang menggambar logo martabak. Tapi dia menggambar dengan keahliannya sendiri, menggunakan tangannya yang jujur, bukan dari hasil meminta-minta atau menipu orang. Di Makassar, kami diajarkan untuk menghargai setiap tetes keringat hasil kerja keras. Berbeda mungkin dengan orang yang jabatannya tinggi sekali, katanya kepala keuangan, tapi kalau bicara di depan umum... bahasanya kasar sekali seperti orang tidak pernah sekolah."
"Ape lu kata?!" Nyak Rodiah langsung naik pitam, dadanya naik turun dengan cepat. "Heh, Bu Tenri! Anak Nyak si Eron mah beneran pinter sekolahnya! Dia kagak pernah bohongin Nyak! Lu nya aja yang dari kemarin pamer-pamer proyek luar negeri palsu biar dibilang paling elite se-Kecamatan! Nih, dengerin Nyak pantun lagi!"
Nyak Rodiah berdiri setengah berlutut, menunjuk ke arah Ibu Tenri dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin batu giok besar.
"Pergi ke pasar beli buah manggis, Manggisnya busuk dibuang ke selokan. Katanya orang Bugis paling punya siri' manis, Tapi gengsinya selangit ampe hobi bohongin warga sekampung!"
"Bu Rodiah!" Ibu Tenri langsung berdiri tegak, kaftan sutranya bergoyang dramatis. Wajahnya yang biasanya teduh kini memerah padam karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. "Kau sudah keterlaluan! Kau menyinggung suku saya! Menghina keluarga saya bisa saya maafkan, tapi kalau kau menghina adat dan harga diri leluhur saya, demi Allah saya tidak akan tinggal diam!"
"Emang kenapa kalau Nyak ngomong begitu?! Kenyataan kan?!" balas Nyak Rodiah tidak mau kalah, ikut berdiri sambil berkacak pinggang dengan sapu tangan merah yang ia kibas-kibaskan di udara.
Suasana teras rumah Tante Maia langsung berubah mencekam. Ibu-ibu pengajian lainnya panik, beberapa mulai merapikan tas mereka bersiap untuk kabur sebelum ada piring terbang yang melayang. Tepat di luar pagar rumah Tante Maia, dua sosok tinggi dan ramping baru saja tiba bersamaan. Eron, yang sore itu sengaja pulang cepat dari kantor karena diperintah Nyak Rodiah untuk menjemputnya, tertegun melihat deretan motor ibu-ibu yang parkir berantakan. Di sampingnya, Rhea yang baru saja turun dari ojek online juga menghentikan langkahnya. Ia membawa tas belanja kecil berisi titipan kue dari ibunya. Mereka berdua saling menatap, lalu telinga mereka menangkap suara teriakan histeris dari dalam rumah Tante Maia.