Sisa-sisa kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung malas di atas aspal jalanan Cluster Cendana ketika jam dinding baru saja menunjuk ke angka setengah enam pagi. Suasana kompleks masih sunyi senyap, hanya diinterupsi oleh kicauan burung liar di pohon mangga dan sapuan sapu lidi petugas kebersihan di kejauhan.
Di dalam kamar nomor 12, Rhea sudah terjaga sejak pukul lima pagi. Matanya yang sedikit sembap menatap kosong ke langit-langit. Semalam, ia hampir tidak bisa memejamkan mata setelah melihat dari balik gorden bagaimana Eron dengan tudung hoodie hitamnya yang konyol mengendap-endap menaruh satu ikat bunga Lily putih di pagarnya tepat pada dentang tengah malam.
"Gue jahat banget," bisik Rhea pada kesunyian kamarnya, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. “Gue bener-bener mempermainkan ketulusan dia.” Tiba-tiba, Rhea tersentak kaget dari lamunannya. Matanya melebar saat menyadari satu hal krusial. "Mampus! Bunganya masih ada di pagar!" teriak Rhea tanpa suara.
Jika Ibu Andi Tenri bangun dan melihat bunga Lily putih segar bertengger manis di atas pagar kayu mereka, radar interogasi khas Bugis nya akan langsung aktif dalam hitungan detik. Dan jika Nyak Rodiah melihatnya terlebih dahulu saat menyiram tanaman, gosip "kembang kuburan" akan langsung mengudara di grup WhatsApp warga sebelum tukang sayur sempat memarkir gerobaknya.
Tanpa membuang waktu, Rhea langsung menyambar cardigan abu-abunya, merapikan rambutnya yang masih berantakan menjadi kuncir kuda darurat, dan mengendap-endap turun ke lantai bawah. Ia membuka kunci pintu depan dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan decitan yang bisa membangunkan ibunya.
Udara pagi yang dingin langsung menusuk kulitnya saat Rhea melangkah ke halaman teras. Dengan gerakan cepat yang setengah berlari, ia menghampiri pagar kayu hitam rumahnya. Di sana, bersandar dengan anggun di sela-sela lekukan pagar, satu ikat besar bunga Lily putih menatapnya dengan kelopak yang masih dihiasi tetesan embun pagi segar. Aromanya yang harum, manis, dan menenangkan langsung menyeruak memenuhi rongga dada Rhea begitu ia mengangkat bunga tersebut ke dalam pelukannya. Rhea memejamkan mata, menghirup aroma Lily putih itu dalam-dalam dengan senyuman lembut yang tulus. "Makasih ya, Mas Eron..." bisiknya lirih, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
KREEEKK.
Suara engsel besi gerbang rumah nomor 11 yang bergeser tiba-tiba memecah keheningan fajar. Rhea langsung membeku di tempatnya berdiri, matanya membelalak lebar. Perlahan-lahan, ia menolehkan kepalanya ke arah kanan. Di sana, hanya terpisah jarak kurang dari dua meter, Eron sedang berdiri memegang botol air minum olahraganya. Ia mengenakan celana pendek hitam dan kaos jersey abu-abu, rupanya ia baru saja bersiap untuk melakukan lari pagi. Namun, langkah kakinya terhenti total begitu melihat Rhea sedang berdiri di balik pagar, memeluk erat satu ikat bunga Lily putih tepat di depan dadanya.
Mata mereka bertemu di tengah keheningan subuh Jakarta. Eron terpaku. Jantungnya mendadak melakukan lompatan dramatis yang membuat aliran darahnya berdesir hebat. Ia melihat Rhea yang masih berantakan dengan muka bantal, rambut acak-acakan, memakai piyama katun motif stroberi di balik cardigannya, namun terlihat sepuluh kali lipat lebih cantik daripada biasanya di bawah siraman cahaya fajar keemasan. Terutama karena Rhea sedang memeluk erat bunga yang semalam ia beli setengah mati di Rawabelong.
"Lo..." Eron membuka suara, suaranya terdengar sangat serak khas orang baru bangun tidur. "Lo ngapain pagi-pagi udah di pagar?"
Rhea menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya mendadak terasa sangat panas hingga ke ujung telinga. Ia mencoba memeluk Lily putih itu semakin erat, seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya di balik kelopak bunga yang harum.
"Gue... gue cuma lagi... menikmati udara pagi! Iya, hirup oksigen seger!" bohong Rhea dengan suara yang agak melengking karena gugup. "Lo sendiri ngapain keluar subuh-subuh gini? Mau pamer otot ya?"
Eron melangkah mendekati pagar pembatas mereka, matanya tidak lepas dari bunga di pelukan Rhea. Ada rasa puas dan bahagia yang luar biasa yang membuncah di dada Eron melihat Rhea memegang bunga darinya, meskipun ia harus tetap menjaga akal sehatnya agar tidak melanggar aturan Oracle tentang "jangan meminta penjelasan".
"Gue mau lari pagi," jawab Eron pelan, kini berdiri tepat di hadapan Rhea dengan hanya dibatasi jeruji pagar kayu. "Bunga itu... dari siapa? Bagus banget."
Pertanyaan konyol dari pria yang sebenarnya menaruh bunga itu semalam membuat Rhea hampir saja meledak menahan tawa sekaligus rasa gemas. Akting lo boleh juga, CFO! batin Rhea geregetan.
"Oh, ini?" Rhea mengangkat ikatan Lily putih itu sedikit. "Gue juga nggak tahu, Mas. Tiba-tiba ada di pagar gue pagi ini. Mungkin dari... penggemar rahasia gue yang tahu kalau gue ini perempuan berjiwa seni yang butuh pembersihan memori negatif." Rhea sengaja menggunakan frasa ‘pembersihan memori negatif’ jargon spesifik yang ia tulis di chat Oracle semalam, hanya untuk melihat reaksi Eron. Dan benar saja. Eron langsung tersentak kecil, matanya sedikit melebar dengan ekspresi terkejut yang sangat kentara sebelum akhirnya ia buru-buru berdehem untuk menguasai diri.