Dukun Online VS Tetangga Rese

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #15

Dilema Oracle

Aroma harum, manis, dan menenangkan dari satu ikat bunga Lily putih kini telah menguasai seluruh sudut ruang tamu rumah nomor 12. Ibu Andi Tenri meletakkan vas kaca itu tepat di tengah-tengah meja kayu jati dengan presisi yang luar biasa, seolah-olah sedang menata barang pajangan langka di museum nasional.

"Lihat ini, Rhea," ucap Ibu Tenri sambil melangkah mundur dua langkah, melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyum puas. "Bunga ini memang berkelas sekali. Kelopaknya tebal, potongannya rapi. Biarpun si Eron bilang ini untuk properti riset aplikasimu, insting Mamamu ini ndak bisa dibohongi. Laki-laki kaku seperti dia tidak akan repot-repot mencari bunga seindah ini hanya untuk ditaruh di atas pagar kayu kalau ndak ada maksud lain."

Rhea yang sedang duduk di sofa sambil berpura-pura memeriksa berkas di tabletnya, menelan ludah dengan susah payah. "Aduh, Ma. Kan tadi Mas Eron sudah jelasin panjang lebar pake jargon-jargon kantornya. Itu murni buat estetika visual aplikasi kuliner kita. Jangan mulai deh gosipnya, ntar kedengeran Nyak Rodiah malah dituduh kita yang minta-minta kembang."

"Heh! Siapa juga yang minta?" Ibu Tenri langsung melotot kecil, harga diri Bugisnya langsung terusik. "Keluarga kita ndak kekurangan uang untuk beli bunga satu kebun, Rhea. Tapi kalau anak sebelah memang punya niat baik, dia harus datang lewat pintu depan dengan cara yang terhormat. Di Makassar, laki-laki yang sungguh-sungguh itu mendatangi orang tua perempuan, bukan mengendap-endap subuh-subuh di pagar seperti pasang sesajen!"

Rhea hanya bisa meringis pasrah. Di dalam hatinya, ia berteriak histeris. Ma, yang nyuruh dia mengendap-endap subuh-subuh itu anak Mama sendiri lewat HP rahasia!

Setelah berhasil meyakinkan ibunya untuk masuk ke dapur guna melanjutkan memasak barongko, Rhea langsung berlari cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Ia mengunci pintu rapat-rapat, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang berantakan, dan buru-buru merogoh saku cardigannya untuk mengambil ponsel rahasia Oracle R. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah pesan panjang dari SunWalker yang masuk beberapa jam lalu, tepat setelah kejadian "maling tertangkap basah" di depan pagar.

SunWalker: “Oracle, saya rasa takdir sedang bermain-main dengan saya hari ini. Pagi ini, saat saya bersiap lari pagi, saya memergoki tetangga saya sedang memeluk erat bunga Lily putih yang semalam saya letakkan di pagarnya. Wajahnya... dia terlihat sangat cantik pagi ini, bahkan dengan rambut acak-acakan dan piyama stroberinya. Dia tersenyum sangat tulus sambil memeluk bunga itu.”

Rhea membaca baris kalimat tersebut dengan jantung yang berdegup kencang. Ia refleks meraba pipinya sendiri yang mendadak terasa sangat panas.

SunWalker: “Lalu, situasi berubah menjadi sangat kacau. Ibu saya dan ibunya keluar rumah bersamaan dan langsung menuduh saya yang bukan-bukan. Tapi anehnya, Oracle... tetangga saya itu dengan sangat luar biasa langsung mengarang alibi yang sangat cerdas di depan ibu-ibu kami. Dia menyelamatkan harga diri saya lagi untuk kesekian kalinya. Saat kami berdiri sedekat itu di hadapan ibu kami, saya menyadari satu hal yang mutlak.”

Rhea menahan napasnya, jemarinya mencengkeram erat bantal gulingnya.

Lihat selengkapnya