Bagi seorang ahli strategi digital seperti Rhea Calista, mengubah arah sebuah kampanye yang hampir gagal adalah hal biasa. Namun, mengubah arah kampanye asmara di mana target utamanya adalah musuh bebuyutannya sendiri yang juga merupakan klien VIP rahasianya adalah tingkat kesulitan baru yang belum pernah diajarkan di seminar pemasaran mana pun di dunia. Pagi itu, setelah mengirimkan instruksi "misi terakhir" sebagai Oracle R, Rhea duduk di meja belajarnya dengan tatapan kosong. Kamarnya terasa lebih sunyi dari biasanya.
"Gue beneran gila," gumam Rhea sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. "Gue baru aja menyuruh cowok yang gue taksir untuk ngedeketin gue sendiri, pake identitas rahasia gue yang kalau ketahuan bisa bikin gue dituntut pasal penipuan online."
Strategi baru Rhea sebenarnya sangat sederhana tapi memiliki risiko sangat tinggi. Sebagai Oracle R, ia telah menyuruh SunWalker (Eron) untuk:
Dengan kata lain, Rhea sedang memaksa Eron untuk melepaskan jubah "klien dukun" dan mulai bergerak murni sebagai seorang pria yang sedang mengejar wanita yang disukainya. Masalahnya, Rhea harus bersiap menghadapi improvisasi apa pun yang akan dilakukan oleh pria sekaku Eron.
Di kamar sebelah, Eron sedang berdiri di depan cermin besar dengan dahi berkerut dalam. Di tangannya, ia memegang ponsel rahasianya yang menampilkan pesan terakhir dari Oracle R.
“Mulai hari ini, Anda harus belajar mendengarkan intuisi Anda sendiri saat bersamanya. Cobalah untuk lebih sering meluangkan waktu bersamanya di dunia nyata bukan sebagai proyek riset, tapi sebagai dua manusia yang saling membutuhkan.”
"Intuisi..." Eron mengeja kata itu dengan ragu.
Sebagai seorang akuntan dan CFO, "intuisi" adalah istilah haram dalam kamus profesionalnya. Di dunia keuangan, menebak sesuatu berdasarkan intuisi tanpa adanya data historis, analisis regresi linear, atau proyeksi arus kas adalah cara tercepat untuk membuat perusahaan bangkrut. Namun, Oracle memintanya untuk mengabaikan logika itu. Oracle memintanya untuk mendengarkan getaran energinya saat bersama Rhea.
Eron meletakkan ponselnya, lalu menghela napas panjang. "Oke. Kalau gue pake logika, mengundang cewek tetangga yang hobi adu mulut sama gue untuk jalan bareng di hari Sabtu adalah tindakan dengan tingkat keberhasilan di bawah dua puluh persen. Tapi kalau gue pake... intuisi..."
Eron memejamkan matanya sejenak. Bayangan Rhea yang tersenyum manis sambil memeluk vas bunga Lily putih kemarin pagi langsung melintas di kepalanya. Dadanya mendadak berdesir hangat.
"Oke. Intuisi gue bilang, dia nggak akan nolak kalau gue ajak makan siang," bisik Eron mantap. Ia segera mengambil ponsel pribadinya, membuka kontak WhatsApp bernama Rhea (Tetangga Sebelah), dan mulai mengetik pesan dengan dahi berkerut seolah-olah sedang menyusun laporan audit krusial.
Eron: “Rhea, selamat pagi. Apakah jadwal lo hari ini padat? Gue mau ajak lo untuk makan siang bersama di luar komplek. Ini murni... bukan bagian dari proyek riset UMKM buatan kita kemarin. Gue cuma mau ngajak lo ngobrol santai.”
Eron menekan tombol kirim, lalu langsung melempar ponselnya ke atas kasur seolah-olah benda itu baru saja berubah menjadi setrika panas. Ia mondar-mandir di kamarnya dengan kepanikan yang tidak masuk akal. "Gila. Gue beneran ngajak dia kencan tanpa bawa-bawa nama aplikasi martabak itu," desisnya panik.
Di kamar sebelah, HP pribadi Rhea bergetar. Begitu membaca pesan dari Eron, Rhea langsung melompat dari kursinya sampai menabrak kaki meja.
"Aduh!" Rhea meringis kesakitan sambil memegangi jempol kakinya, tapi matanya tidak lepas dari layar HP. Senyum lebar yang sangat puas langsung merekah di wajahnya.
"Gila, Mas Eron langsung mempraktikkan instruksi gue!" Rhea tertawa geli, sekaligus merasakan debaran kencang di dadanya. Pria itu benar-benar menulis “murni bukan bagian dari proyek riset”. Itu artinya, Eron sedang mencoba bergerak sebagai dirinya sendiri. Rhea buru-buru mengetik balasan dengan nada santai khas tetangga rese, agar Eron tidak curiga bahwa dia sebenarnya sudah tahu segalanya.