Dukun Online VS Tetangga Rese

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #17

Dinner Dadakan

Gencatan senjata dalam sebuah peperangan sering kali tidak didasari oleh perdamaian yang tulus, melainkan karena kebutuhan taktis yang mendesak. Bagi Nyak Rodiah dan Ibu Andi Tenri, kebutuhan taktis itu bernama "kelancaran proyek aplikasi digital UMKM" milik anak-anak mereka.

Setelah syok berat pasca-kejadian balai warga tempo hari, kedua ibu itu akhirnya menyusun kesepakatan darurat. Mereka sepakat mengadakan "makan malam koordinasi" di rumah nomor 12 (kediaman Ibu Tenri) untuk memantau langsung proyek kolaborasi anak-anak mereka. Tentu saja, kata "koordinasi" di sini sebenarnya berarti "pengawasan ketat dengan bumbu persaingan kuliner".

Pukul tujuh malam tepat, pintu gerbang nomor 11 terbuka.

Eron berjalan di belakang ibunya dengan kemeja kasual berwarna putih gading dan celana chino cokelat. Sementara itu, Nyak Rodiah melangkah dengan gamis batik terbaiknya, kali ini berwarna ungu tua dengan motif burung merak dan tangannya menjinjing sebuah wadah kaca besar berisi Asinan Betawi andalannya.

"Eron, lu dengerin Nyak," bisik Nyak Rodiah, suaranya sangat lirih di antara hembusan angin malam komplek. "Nyak bawa asinan ini bukan karena Nyak mau ngasih makan mereka ye! Ini namanya taktik diplomasi kuliner! Biar itu orang Bugis tahu kalau sayuran mentah buatan Rawabelong kagak kalah berkelas dibanding sayur bersantan mereka!"

Eron hanya bisa memijat pangkal hidungnya. "Iya, Nyak. Terserah Nyak aja."

Pintu utama rumah nomor 12 terbuka bahkan sebelum Nyak Rodiah sempat mengetuknya. Ibu Andi Tenri berdiri di sana dengan keanggunan yang luar biasa. Ia mengenakan kaftan sutra berwarna krem, rambutnya disanggul rendah dengan tusuk konde perak, memancarkan aura nyonya besar yang sangat mengintimidasi.

"Tabe, Bu Rodiah. Mari silakan masuk," sapa Ibu Tenri dengan nada suara yang sangat tenang dan manis, namun sorot matanya tetap tajam menyapu wadah asinan di tangan Nyak Rodiah. "Ya ampun, bawa apa ini? Ndak usah repot-repot padahal. Di dalam saya sudah siapkan menu makan malam yang cukup berlimpah."

“Aduh, Jeng Tenri! Kagak repot sama sekali kok! Ini asinan legendaris keluarga Nyak! Biar seger aja mulut kita abis makan yang berat-berat. Maklum, anak Nyak si Eron kan biasa makan makanan steril, jadi Nyak kudu pastiin ada serat alami!" balas Nyak Rodiah dengan tawa yang sengaja dikeras-keraskan.

Di dalam ruang makan, Rhea sudah duduk di salah satu kursi kayu jati. Begitu melihat Eron masuk, jantung Rhea mendadak melakukan lompatan dramatis. Ia mengenakan gaun kasual berwarna biru muda dengan rambut yang diikat setengah, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah manisnya. Mata mereka bertemu di tengah ruangan. Eron tertegun selama beberapa detik melihat penampilan Rhea yang terlihat begitu segar dan cantik di bawah temaram lampu gantung ruang makan.

"Pagi... eh, malam, Mas CFO," sapa Rhea jenaka, mencoba meredakan kegugupannya sendiri.

"Malam, Rhea," jawab Eron, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. Ia segera menarik kursi di hadapan Rhea dan duduk dengan kaku, sementara kedua ibu mereka mengambil posisi di ujung meja makan seperti dua jenderal perang yang siap menandatangani perjanjian damai darurat.

Lihat selengkapnya