Malam itu, kamar tidur nomor 12 berubah menjadi zona bahaya bagi kesehatan mental Rhea Calista. Rhea sedang berguling-guling di atas kasurnya dengan sangat brutal, memeluk gulingnya erat-erat seolah benda itu adalah pelampung darurat di tengah badai asmara. Wajahnya yang biasanya dihiasi ekspresi tenang khas desainer kini merah padam hingga ke ujung telinga. Ia menatap layar ponsel rahasia Oracle R yang menampilkan pesan terakhir dari SunWalker dengan pandangan mata yang tidak percaya.
"Saya rasa, saya benar-benar telah jatuh cinta padanya, Oracle. Saya ingin segera menyatakannya, tapi saya bingung bagaimana memulainya di dunia nyata. Tolong berikan panduan terakhir Anda."
"Aaaakkhhh!" Rhea menjerit tanpa suara ke dalam lipatan bantal gulingnya, kakinya menendang-nendang udara dengan gemas.
Ia benar-benar salting tingkat dewa. Mengetahui bahwa Eron,pria kaku yang selama ini selalu ia debati di depan pagar, ternyata menyimpan ketulusan yang begitu luar biasa dan kini sepenuhnya jatuh cinta padanya adalah sebuah hantaman emosional yang sangat dahsyat. Dada Rhea bergemuruh hebat, dipenuhi oleh kepuasan manis yang tak terbendung. Namun, di tengah-tengah rasa bahagianya yang meluap-luap, sebuah getaran notifikasi baru kembali masuk di layar ponselnya.
Bzzz.
SunWalker: “Sebagai informasi tambahan, Oracle. Tadi siang di kantor, rekan kerja saya dari divisi pemasaran, namanya Vanesha, tidak sengaja melihat saya sedang melamun. Ketika saya bercerita secara implisit tentang situasi saya dengan tetangga saya, Vanesha menyarankan agar saya membelikannya tas desainer atau mengajaknya makan malam romantis di restoran mewah lantai tertinggi di Jakarta Pusat.
Vanesha bahkan menawarkan diri untuk menemani saya memilih tas tersebut di mal akhir pekan ini karena menurutnya selera perempuan kreatif sangat spesifik. Bagaimana menurut penerawangan spiritual Anda? Apakah saran Vanesha ini selaras dengan frekuensi energi tetangga saya?”
Senyum manis di wajah Rhea seketika membeku. Matanya menyipit tajam menatap nama "Vanesha" yang tertulis di layar HPnya. "Vanesha?!" desis Rhea, mendadak bangkit dari posisi terlentangnya dan duduk tegak dengan aura yang berubah menjadi sangat dingin. "Siapa lagi ini Vanesha?! Berani-beraninya mau nemenin Eron belanja tas akhir pekan?!"
Rasa cemburu yang sangat tidak rasional dan sangat digital mendadak membakar dada Rhea. Sisi posesifnya sebagai perempuan langsung mengambil alih kendali atas karakter bijaksana Oracle R. Jemarinya yang mungil dengan cepat mengetik balasan dengan kecepatan penuh, menumpahkan seluruh kemarahannya dalam balutan jargon spiritual yang defensif.
Oracle R: “SunWalker, ketahuilah bahwa alam semesta sangat melarang adanya campur tangan dari energi pihak ketiga yang frekuensinya tidak murni.
Saran dari rekan kerja Anda, Vanesha, adalah bentuk energi materialistis yang sangat dangkal. Jika Anda menuruti sarannya, Anda akan kembali menjerumuskan diri Anda ke dalam cangkang 'pria tanpa jiwa' yang dinilai hanya berdasarkan materi. Selain itu, keterlibatan Vanesha dalam memilih barang tersebut akan meninggalkan jejak energi asing yang bisa merusak keselarasan frekuensi Anda dengan tetangga Anda. Singkirkan opsi tersebut segera jika Anda tidak ingin proses pembersihan aura Anda gagal total.”
Di kamar sebelah, Eron yang sedang bersandar di kepala tempat tidurnya langsung tersentak kaget membaca balasan Oracle yang terkesan sangat defensif dan sedikit... galak? "Wah, Oracle sampai sebut 'energi asing yang merusak'," gumam Eron cemas, menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak menyangka bahwa meminta saran dari Vanesha bisa berakibat sefatal itu bagi masa depan asmaranya. Ia segera mengetik balasan darurat untuk menenangkan sang Oracle.
SunWalker: “Maaf, Oracle. Saya tidak tahu kalau dampaknya bisa seburuk itu. Saya akan membatalkan janji dengan Vanesha besok pagi. Saya tidak akan melibatkan pihak ketiga lagi.
Namun, jika demikian, tolong berikan saya petunjuk konkret. Berdasarkan getaran frekuensi yang Anda rasakan dari tetangga saya, apa sebenarnya yang paling ia sukai di dunia nyata? Bagaimana cara terbaik bagi saya untuk mendekatinya tanpa terlihat kaku atau memaksa?”
Rhea membaca balasan Eron dengan senyum kemenangan yang sangat puas di bibirnya. "Mampus lo, Vanesha. Rasakan kekuatan blokir energi dukun online!" tawa Rhea licik. Namun, saat matanya membaca pertanyaan Eron berikutnya tentang apa yang sebenarnya ia sukai, Rhea kembali dibuat kelabakan. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ini adalah kesempatan langka di mana ia bisa mendikte kencan impiannya sendiri langsung ke telinga pria yang ia sukai, tanpa pria itu tahu bahwa ia sedang ditipu secara manis.
Rhea menggigit bibir bawahnya, menatap langit-langit kamar sambil membayangkan kencan ideal yang selama ini ia impikan bersama Eron. Setelah merenung sejenak, ia mulai mengetik dengan perasaan yang bercampur aduk.
Oracle R: “Tetangga Anda adalah jiwa yang bebas dan tulus. Dia tidak membutuhkan restoran mewah yang kaku atau barang-barang desainer yang berisik. Energi sejatinya akan paling selaras dengan kesederhanaan.
Jika Anda ingin menyentuh hatinya, ajaklah dia melakukan hal-hal yang sederhana namun hangat di dunia nyata. Misalnya, mengajaknya makan ketoprak pinggir jalan di bawah pohon yang teduh saat sore hari, mengajaknya mengobrol santai tentang masa kecil sambil mendengarkan musik piringan hitam di ruangan yang sunyi, atau sekadar membelikannya camilan favoritnya secara tiba-tiba tanpa alasan.
Tunjukkan bahwa Anda melihat dirinya apa adanya, bukan sebagai proyek riset atau target pencapaian sosial Anda. Lakukan itu dengan ketulusan penuh dari dalam dada Anda, bukan dari buku panduan logika Anda. Alam semesta akan merestui setiap langkah Anda jika Anda memulainya dengan kesederhanaan.”
Rhea menekan tombol kirim, lalu langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang terasa sangat hangat. "Gue beneran nulis ketoprak pinggir jalan dong," bisik Rhea dengan tawa canggung yang gemas. "Tapi emang gue pengen banget makan ketoprak bareng dia..."
Keesokan sorenya, sekitar pukul lima, suasana Cluster Cendana tampak begitu damai di bawah siraman cahaya matahari senja yang keemasan. Rhea sedang duduk di teras depan rumahnya dengan mengenakan kaos oblong hitam longgar dan celana kulot santai, tangannya sibuk merapikan beberapa sketsa desain di tabletnya. Pintu pagar nomor 11 perlahan terbuka, dan Eron melangkah keluar.
Eron mengenakan kemeja linen tipis berwarna putih dengan lengan yang digulung kasar hingga ke siku, terlihat sangat segar dan santai. Ia berjalan perlahan menghampiri pagar pembatas rumah mereka, tangannya memegang sebuah bungkusan kantong plastik besar yang mengeluarkan aroma gurih bawang putih dan bumbu kacang yang sangat akrab di hidung Rhea.