Sisa-sisa rasa manis dan debaran jantung dari insiden es teh manis di teras kemarin sore masih membekas jelas di benak Rhea. Sepanjang pagi, ia tidak bisa berhenti tersenyum sendiri menatap tangannya, membayangkan kembali bagaimana hangatnya telapak tangan Eron mengunci jemarinya. Namun, semesta tampaknya memiliki selera humor yang agak kejam. Kebahagiaan Rhea tidak bertahan lebih dari dua puluh empat jam.
Siang itu, sebuah mobil sedan sport mewah berwarna putih metalik berhenti tepat di depan gerbang nomor 11. Suara deru mesinnya yang halus namun bertenaga langsung memecah keheningan Cluster Cendana. Rhea yang sedang menyiram tanaman aglonema di teras rumahnya refleks menoleh. Pintu mobil terbuka, dan dari dalamnya keluar seorang wanita yang tampak seperti baru saja melangkah keluar dari halaman majalah fesyen kelas atas.
Itu Clarissa. Rambutnya dicat ash brown bergelombang sempurna, kacamata hitam desainer bertengger di hidung mancungnya, dan ia mengenakan gaun terusan satin berwarna krem yang dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk aspal komplek dengan bunyi klek-klek yang sangat intimidatif. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas bermerek internasional yang harganya setara dengan biaya renovasi rumah tipe 36.
"Eron!" panggil Clarissa dengan suara manja yang nyaring, melangkah anggun menuju pagar rumah nomor 11.
Pintu rumah Eron terbuka, dan sang CFO keluar dengan kaos polo kasual. Langkah kaki Eron mendadak melambat begitu melihat siapa yang berdiri di balik pagarnya. Saat itulah, dari sudut matanya, Eron melihat sosok Rhea yang sedang memegang selang air di halaman sebelah, menatap ke arah mereka dengan pandangan bingung.
Seketika, alarm darurat di kepala Eron berbunyi nyaring. Ia tidak mau Rhea melihat atau mendengar kekacauan dari masa lalunya ini. Ia tidak ingin Rhea salah paham. Dengan langkah cepat dan tegas, Eron membuka pintu gerbangnya. Sebelum Clarissa sempat mengucapkan kalimat berikutnya, Eron langsung menggenggam pergelangan tangan Clarissa dengan erat namun terkendali.
"Eron! Kamu apa-apaan sih, kok kasar—"
"Masuk," potong Eron dingin, langsung menarik Clarissa melewati halaman terasnya dan menggiring wanita itu masuk ke dalam rumah nomor 11 sebelum drama di luar pagar sempat ditonton oleh warga komplek, terutama oleh Rhea.
BRAK.
Eron menutup pintu jati rumahnya dengan rapat, mengunci kebisingan dunia luar. Ia melepaskan pegangan tangannya dan berdiri dengan jarak dua meter dari Clarissa, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi sedingin es.
"Ngapain kamu ke sini, Clarissa?" tanya Eron tanpa basa-basi.
Clarissa merengut, mengusap pergelangan tangannya dengan manja yang dibuat-buat sambil meletakkan tas mewahnya di atas meja ruang tamu. "Kamu kok gitu sih, Eron? Nomor aku diblock, email aku nggak dibalas, bahkan kamu nggak pernah masuk kantor pusat minggu ini. Aku sengaja ke sini karena aku kangen banget sama kamu. Kita perlu bicara soal kelanjutan hubungan kita. Papa aku juga nanyain kamu terus, dia heran kenapa proses persiapan pernikahan kita mendadak berhenti."
Eron tersenyum sinis, sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya. "Kelanjutan hubungan? Papa kamu nanyain aku?" Eron menatap Clarissa dengan pandangan mata yang sangat tajam. "Bukannya kamu sendiri yang memutuskan aku sebulan lalu? Kamu yang bilang aku ini kaku, dingin, dan tidak punya jiwa seperti spreadsheet Excel. Lalu sekarang, setelah kamu membuang aku, kamu datang ke sini dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa?"
Clarissa sedikit tersentak mendengar nada bicara Eron yang begitu tegas, sangat berbeda dari sosok Eron yang dulu selalu penurut dan mencoba memenuhi segala standar sosialnya. "Eron, waktu itu kan aku cuma emosi! Aku cuma butuh perhatian kamu! Masa kamu anggap serius sih? Kita kan sudah tiga tahun bersama. Kamu tahu kan level sosial kita itu setara, kita saling membutuhkan untuk reputasi keluarga kita."
"Hubungan bukan soal transaksi reputasi, Clarissa," balas Eron tegas, suaranya bariton dan penuh penekanan. "Dan keputusan aku sudah final. Hubungan kita sudah selesai sejak detik kamu mengirim pesan itu. Sekarang, silakan pergi dari rumah saya."
Clarissa merasa harga dirinya sebagai sosialita papan atas diinjak-injak. Wajah cantiknya berkerut jelek karena murka dan malu. Ia menyambar tas mewahnya dari meja dengan entakan kasar. "Kamu bakal nyesel ya, Eron! Kamu nggak akan pernah nemu cewek sesempurna aku di luar sana!"