Sisa-sisa kehangatan dari obrolan telepon semalam suntuk bersama Eron masih terasa menggelitik di dada Rhea keesokan harinya. Sepanjang siang, saat jemarinya sibuk menggeser pena digital di atas tablet untuk merevisi logo pesanan klien, pikirannya terus-menerus memutar kembali suara tawa rendah Eron di seberang telepon. Pria itu tidak lagi terdengar kaku. Di dunia nyata, Eron bisa terdengar begitu tulus, menyenangkan, dan sangat protektif.
Namun, semakin manis hubungan mereka berkembang di dunia nyata, semakin perih pula rasa bersalah yang mencengkeram ulu hati Rhea. Sore itu, gorden kamar nomor 12 bergoyang pelan ditiup angin yang membawa aroma tanah kering setelah hujan. Rhea duduk memeluk lututnya di atas kursi kerja, menatap dua ponsel yang tergeletak berdampingan di atas meja belajarnya. Ponsel pribadi berwarna merah muda dan ponsel rahasia Oracle R yang berwarna hitam legam. Di layar ponsel hitam, pesan terakhir dari SunWalker masih terpampang jelas, menuntut jawaban yang sejak semalam ia tunda.
"Menurut Anda, apakah saya sudah siap untuk menyatakan cinta padanya di dunia nyata?"
Rhea menyandarkan dahinya di atas lutut, mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat di keheningan kamarnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan perlahan-lahan lolos, membasahi kain piyamanya.
"Gue egois banget," bisik Rhea pada kesunyian ruangan. "Dia begitu percaya sama Oracle. Dia menyerahkan seluruh kelemahan, ketakutan, dan ketulusannya ke akun ini. Kalau dia tahu Oracle itu gue... dia pasti bakal merasa sangat dikhianati."
Rhea membayangkan wajah Eron jika kebenaran ini terbongkar. Eron adalah seorang eksekutif muda yang menjunjung tinggi integritas. Bagi pria seperti Eron, kebohongan ini bukan sekadar lelucon bertetangga, melainkan manipulasi emosional yang kejam. Jembatan manis yang baru saja mereka bangun di bawah hujan, di atas ayunan taman, dan lewat panggilan telepon semalam suntuk akan runtuh berkeping-keping tanpa sisa jika Eron tahu bahwa ia sedang dijadikan bahan eksperimen "dukun online" palsu.
Rhea mendongak, menghapus air matanya dengan punggung tangan. Sorot matanya yang sembap mendadak berubah menjadi tegas. Ia tahu, gelembung kebohongan ini harus dipecahkan sekarang juga, sebelum badai yang lebih besar menghancurkan mereka berdua.
"Gue harus matiin Oracle," gumam Rhea mantap. "Eron harus menyatakan perasaannya murni karena kemauannya sendiri, sebagai Leander Eron yang memiliki jiwa utuh, bukan karena disetir oleh instruksi dukun online."
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena menahan gejolak emosi di dadanya, Rhea mulai mengetik pesan terakhirnya sebagai Oracle R. Ia menyusun setiap kata dengan hati-hati, memastikan pesan ini menjadi penutup yang indah sekaligus mengembalikan seluruh kemandirian emosional ke tangan Eron.
Oracle R: “SunWalker, selamat malam. Malam ini, alam semesta tersenyum menatap Anda. Perjalanan spiritual Anda bersama saya telah mencapai garis khatulistiwa yang sempurna. Keberanian Anda untuk berdiri tegak membela tetangga Anda, serta ketulusan Anda untuk mendengarkan intuisinya adalah bukti mutlak bahwa jiwa Anda tidak lagi mati. Anda telah menemukan kembali getaran frekuensi sejati Anda.”
Rhea menelan ludah, dadanya terasa sesak saat mengetik baris berikutnya. Jantungnya berdenyut nyeri karena tahu bahwa setelah menekan tombol kirim nanti, ia tidak akan pernah lagi menerima pesan manis dari SunWalker di ponsel hitam ini.
Oracle R: “Karena jiwa Anda kini telah utuh dan mandiri, maka tugas saya sebagai pemandu Anda di dunia fana ini telah selesai. Alam semesta meminta Anda untuk melepaskan seluruh pegangan digital Anda. Mulai detik ini, Anda tidak lagi membutuhkan instruksi, bimbingan, atau ramalan dari Oracle R. Anda adalah nakhoda atas takdir Anda sendiri.
Misi terakhir Anda dari saya adalah Jangan pernah mencari Oracle lagi. Hapuslah aplikasi ini. Datangi tetangga Anda di dunia nyata. Tatap matanya, dan katakan apa yang ada di dalam dada Anda murni menggunakan suara Anda sendiri, bukan suara saya. Gerbang dimensi Oracle R akan ditutup secara permanen dalam waktu dua puluh empat jam. Selamat menempuh masa depan baru, SunWalker. Alam semesta selalu bersamamu.”