Pukul empat sore lewat lima belas menit, dan kamar tidur nomor 12 telah berubah menjadi zona bencana mode. Rhea Calista berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang terbuka lebar, dikelilingi oleh tumpukan baju yang berserakan di atas kasur seperti habis diterpa angin puting beliung. Daster bergambar beruang madu andalannya sudah resmi dipensiunkan untuk sore ini. Masalahnya, Rhea mendadak kehilangan seluruh kemampuan kognitifnya untuk memilih pakaian.
"Kenapa baju gue isinya kaos oblong semua sih?!" gerutu Rhea panik, menepuk dahinya sendiri. "Ini dibilang kencan resmi, masa gue pakai kaos band grunge lagi? Nanti dikira mau nonton festival musik indie, bukan jalan sama CFO."
KLEK.
Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Ibu Andi Tenri melangkah masuk dengan keanggunan yang tidak pernah luntur, meskipun wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa kekesalan akibat perang mulut dengan Nyak Rodiah kemarin. Mata tajam Ibu Tenri menyapu kekacauan di kamar anaknya, lalu beralih menatap Rhea yang sedang frustrasi memegang gaun kasual berwarna kuning kunyit.
"Ya ampun, Rhea. Kau ini mau kencan atau mau pindah rumah? Berantakan sekali," komentar Ibu Tenri, melipat tangannya di depan dada. Namun, sedetik kemudian, ia melangkah mendekati lemari dan jemarinya yang lentik dengan lincah memilah gantungan baju Rhea. Ia menarik sebuah gaun terusan berbahan linen berwarna terakota lembut dengan potongan sederhana namun sangat manis.
"Pakai ini," perintah Ibu Tenri tegas. "Warnanya hangat, cocok untuk kulitmu. Dan ingat, dandan yang manis tapi jangan terlalu tebal. Biarkan anak sebelah itu tahu kalau perempuan Bugis itu cantik alami, ndak perlu riasan menor seperti sosialita kota."
Rhea menerima gaun itu dengan pipi yang mendadak memanas. "Ma... ini cuma jalan sore biasa kok. Lagian kenapa Mama jadi repot ikut pilihin baju?"
Ibu Tenri mengusap bahu Rhea dengan lembut, matanya melembut sesaat sebelum kembali menyipit kompetitif. "Tentu saja saya harus ikut campur. Ini soal harga diri, Rhea. Anak sebelah itu, si Eron, biar bagaimanapun dia laki-laki yang sopan karena berani datang meminta izin lewat pintu depan. Tapi kau juga harus ingat, jangan terlihat terlalu gampang luluh. Biarkan dia berusaha sedikit."
Sementara itu, di kamar nomor 11, suasana tidak kalah menegangkan. Eron baru saja selesai menyemprotkan parfum maskulinnya di sekitar kerah kemeja kasual berwarna abu-abu terang yang ia padukan dengan celana chino hitam.
"Eron!" suara melengking Nyak Rodiah menggelegar dari balik pintu kamar. Begitu pintu dibuka, Nyak Rodiah berdiri dengan daster merahnya, menatap anaknya dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam. "Busyet dah, wangi bener lu! Lu mau nyari janda herba apa mau nemuin si Rhea?"
"Mau jalan sama Rhea, Nyak," jawab Eron jujur, tidak ada lagi nada defensif atau penyangkalan di suaranya.
Nyak Rodiah mengembuskan napas kencang, berkacak pinggang. "Lu beneran ye, kerasukan apa sih sebenernya? Kemarin gembel-gembelan di balai warga, sekarang dandan rapi mau jalan ama anak sebelah. Tapi ya sudahlah, Nyak denger kemarin si Rhea juga belain lu pas di depan warga. Berarti itu anak sebenernya ada setianya juga."