Matahari sore di atas Cluster Cendana mulai berwarna jingga kemerahan, memantulkan cahaya hangat di atas tenda-tenda bazaar yang berjajar sepanjang jalan utama kompleks. Pesta Rakyat sedang berada di puncak keramaiannya. Suara tawa anak-anak yang berlarian, denting sendok yang beradu dengan mangkok porselen, serta obrolan riuh emak-emak yang sedang berburu kuliner menciptakan atmosfer festival yang sangat hidup.
Namun, di antara dua tenda yang saling berhadapan langsung, ketegangan dingin masih belum sepenuhnya mencair. Di sebelah kiri, Nyak Rodiah sedang sibuk berteriak menggunakan pengeras suara portabelnya yang berwarna merah menyala. "Ayo, soto Betawi asli Rawabelong! Kuah santennya gurih, dagingnya empuk kagak pake bohong! Kagak kayak sup sebelah yang warnanya item kayak air selokan!"
Di seberangnya, Ibu Andi Tenri merapikan kebaya modernnya dengan gerakan yang sangat anggun sebelum menanggapi dengan mikrofon kecilnya yang bersuara jernih. "Mari dicoba Coto Makassar kami. Rempahnya murni dari tanah Sulawesi, disajikan dengan higienis dan berkelas. Sangat cocok untuk lidah yang mendambakan keaslian cita rasa Nusantara, bukan sekadar kuah santan instan yang bikin kolesterol naik seketika."
Di balik dandang besar milik Nyak Rodiah, Eron sedang memegang pisau dengan kaku, mengiris tumpukan tomat merah dengan presisi seorang akuntan. Kaus polo hitamnya sudah sedikit basah oleh keringat, namun fokusnya sesekali teralih. Setiap kali ada celah di antara lalu-lalang warga yang mengantre, mata hitamnya langsung melesat menyeberang jalan, tertambat pada sosok gadis yang mengenakan celemek hijau di tenda seberang.
Rhea sedang berdiri di dekat es balok, tangannya dengan lincah menyendok sirup merah ke atas mangkok berisi es pisang ijo. Rambutnya yang hitam lebat dikuncir kuda asal-asalan, menyisakan beberapa anak rambut yang basah menempel di pelipisnya.
Setiap kali mata mereka bertemu di sela-sela riuhnya asap sate dan uap kuah soto, Rhea akan melemparkan senyuman manis yang memperlihatkan lesung pipit tipisnya. Dan setiap kali itu terjadi, Eron akan membalasnya dengan senyuman tipis yang sangat lebar, membuat dadanya berdesir hangat oleh perasaan bahagia yang nyata. Ia tidak lagi membutuhkan instruksi Oracle. Ia hanya membutuhkan Rhea.
Namun, Rhea tidak menyadari satu kecerobohan fatal yang ia lakukan sore itu. Ponsel rahasia Oracle R yang berwarna hitam legam, yang biasanya ia simpan rapat di dalam laci meja belajarnya kini berada di dalam saku celemek bagian depannya. Rhea terburu-buru membawanya karena lupa mengeluarkannya setelah memeriksa draf pesan kemarin malam. Ponsel itu dalam kondisi aktif, dengan volume suara yang tidak sengaja tergeser ke tingkat maksimal saat ia berdesakan di pasar subuh tadi. Dan di dalam saku celana kargo Eron, ponsel rahasia SunWalker juga berada dalam kondisi aktif di bawah lipatan kain.
Pukul lima lewat lima belas menit. Antrean di kedua warung makan tersebut mulai sedikit lengang karena sebagian warga bergeser ke arah panggung utama untuk menonton lomba karaoke bapak-bapak. Eron mengusap dahi luarnya yang basah oleh keringat menggunakan handuk kecil. Di dalam dadanya, tiba-tiba ada gelombang rasa syukur dan haru yang sangat besar yang membuncah begitu saja. Ia menatap Rhea yang sedang mengelap meja kayu dengan sisa tenaga sorenya.
Eron merogoh saku celananya, mengambil ponsel rahasia SunWalker. Ia menatap ikon aplikasi chat Oracle R yang kini sudah berlabel "Offline" setelah pesan perpisahan emosional kemarin malam. Eron tahu Oracle sudah pergi. Gerbang dimensi itu sudah ditutup. Namun, Eron merasa ia berutang satu pesan terima kasih terakhir yang tulus sebelum ia benar-benar menghapus aplikasi tersebut selamanya. Ia menyandarkan tubuhnya ke tiang tenda, mengetik dengan satu tangan dengan dahi berkerut serius.
SunWalker: “Oracle, terima kasih untuk segalanya. Sore ini, saya sedang bersamanya di Pesta Rakyat komplek kami. Saya menatap wajahnya di seberang jalan, dan saya sadar bahwa saya benar-benar sangat mencintai perempuan ini. Tanpa bimbingan Anda, saya tidak akan pernah memiliki keberanian untuk merasakan kebahagiaan senyata ini. Selamat tinggal, Oracle. Semoga alam semesta selalu menjaga Anda.”
Eron menatap baris kalimat itu dengan senyum tulus, lalu menekan tombol kirim. Namun, tepat setelah tombol kirim ditekan, Nyak Rodiah mendadak menepuk pundak Eron dengan sangat keras dari belakang. "Eron! Itu pot soto yang kosong buruan angkat ke belakang, Nyak mau isi ulang kuahnya!"
"Eh, iya, Nyak!"