Dunia Cermin

Celyn
Chapter #1

Bab 1: Permulaan

Mata Arva menyusuri rak buku dengan cermat. Tetapi, pikirannya terus melayang ke kejadian-kejadian aneh yang belakangan ini menghantuinya.

Naya teman baiknya, mendadak berubah kasar dan membenci Arva.

Bahkan Papa dan Mama pun tak luput, Papa yang dulu tegas dan kuno kini jadi banyak bicara dan asyik diajak ngobrol, sementara Mama yang biasanya cerewet malah tenang, nyaris pendiam.

Sebenarnya apa yang terjadi? Dan lagi … untuk apa aku nyari di perpus gini? Emangnya aku bakalan temuin sesuatu? batinnya menghela napas lalu hendak berbalik pergi.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan, Ada di lorong rak sebelah ... tapi hari ini pengunjung cuman aku …. Arva melangkah pelan menuju lorong sebelah.

 

***

 

Lima hari yang lalu, Arva bertengkar dengan ayahnya lalu ia kabur menenangkan diri ke taman. Padahal banyak spot menarik di sana. Tapi, Arva hanya tertarik pada sebuah danau.

Tak disangka, Arva didorong. Ia jatuh ke danau, tapi tiba-tiba ia sudah tiba di air mancur kampus.

Apa ini? Aku teleport? Arva mengedarkan pandangannya. Terlihat, Naya berada di ujung air mancur. Tertawa puas.

“Naya ….” gumam Arva pelan, tetapi terdengar oleh Naya.

“Ngapain sebut-sebut nama aku?” Naya tersenyum meledek, “Orang miskin gak berhak nyebut-nyebut nama aku!”

Setelah hari itu, Arva terus mencoba bicara dengan Naya. Tapi, ia terus mendapat perlakuan merendahkan dari teman baiknya itu.

Sebenarnya apa yang udah terjadi di sini? batinnya bingung.

 

***

 

Arva tiba di lorong rak sebelah, Tuh kan! Bener, gak ada orang, jadi tadi itu apaan dong? batinnya takut lalu dengan cepat menenangkan diri.

“Pasti ulah iseng orang aja,” gumamnya pelan, lalu berbalik pergi.

Bugh!

Arva membalikkan badan kesal, “Siapa sih!”

Ia menghampiri sumber suara. Lalu menatap rak di depannya. Kosong. Tak ada siapa-siapa di sana. Padahal ia yakin baru saja mendengar seperti ada yang mendorong buku hingga jatuh.

Matanya turun ke lantai. Sebuah buku bersampul ungu tua bertekstur kulit, berukir emas dengan batu permata besar di tengahnya, pinggiran halaman menguning termakan usia.

Arva berjongkok, mengambilnya, ‘Dunia Cermin’ apa maksudnya? Buku fiksi ya? penasaran. Ia duduk di sana, lalu membuka buku itu dan membacanya.

Pukul 16:00, terdengar nada dering ponsel Arva. Gak nyadar udah jam segini, tapi …. ia kembali memandang buku itu.

Dunia ini sama kayak cerita di buku ini. Dunia Cermin yang dimana sifat-sifat orang berkebalikan dari dunia nyata, Arva melamun sebentar.

Lihat selengkapnya