“Tungguuuuuu!” jerit Arva dari jauh. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun, keringat menetes di pelipisnya.
Sialan! Tau gini aku sering olahraga! Arva membatin menyesal.
Tak lama, kaki Arva bersilang sendiri tanpa perintah. Tubuhnya sudah oleng, lalu aspal kasar itu menyambut telapak tangan dan sikunya dengan perih menjalar cepat.
“Ahhhh!” Arva meringis pelan.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan membantu gadis itu. Tanpa pikir panjang, Arva menyambut uluran tangan itu.
“Nggak apa-apa?” tanya laki-laki itu dengan suara berat khasnya.
Arva mengernyit kesal, “Nggak apa-apa gimana? Liat nih!” tunjuknya memperlihatkan lukanya.
“Lagian ngapain sih pake—” Arva terlonjak kaget, tangan laki-laki itu menarik cepat tangannya menuju bangku terdekat di sana.
“Tunggu di sini!” perintah laki-laki itu tegas, lalu pergi begitu saja.
Arva menghela napas berat, gadis itu tidak bisa menebak apa yang laki-laki itu pikirkan. Sudah seminggu Arva mencoba mengajak Evan bicara. Tapi, laki-laki itu terus menghindarinya.
Lalu hari ini, Arva mencoba mendekatinya seperti biasa. Tapi, gadis itu tidak memperkirakan kalau laki-laki itu akan lari. Hingga, Arva bisa di sini sekarang.
Tak lama, Evan kembali dengan obat dan plester di tangannya. Kemudian laki-laki itu mengobati siku dan telapak tangan Arva.
“Hei ….” panggil gadis itu pelan. Tetapi, laki-laki di sampingnya ini tetap bergeming.
“Hei!” ulang Arva sedikit meninggikan nadanya.
Evan akhirnya menoleh, “Apa?”
Benar-benar pertanyaan bodoh! Laki-laki itu jelas tahu apa yang ingin dibicarakan Arva.
“Kamu kenapa tadi lari?” tanya gadis itu jengkel.
Evan terdiam sejenak menyusun kata-kata di dalam otaknya agar tidak menyakiti Arva.
“Aku menganggap kamu … bukan orang baik-baik,” ucap Evan, menahan setiap kata agar terdengar datar.
“Apa?” tanya Arva mengernyit bingung.
Evan menghela napas, tidak ada jalan lain lagi selain menceritakan semua yang ia rasakan selama ini.
“Kamu udah ngejar aku selama seminggu ini, bukannya wajar kalo aku waspada? Lalu, aku juga liat kamu ngalahin Naya dan ….” Evan menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Kamu nggak miskin, tapi dari keluarga berada. Kenapa kamu nyembunyiin itu? Kenapa pura-pura lemah? Dan apa yang kamu inginkan dari aku?” sambung Evan, matanya menatap tajam Arva.
Arva mengerjapkan matanya beberapa kali, gadis itu tidak marah. Ia justru menghela napas lega. Akhirnya, ia mengetahui kenapa laki-laki itu terus menghindarinya dan menurutnya alasan itu wajar.
“Aku nggak tau kamu akan percaya atau tidak, tapi ….” gantung Arva, lalu ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan.