Keributan terdengar dari luar kelas Arva. Terdengar para mahasiswi yang menjerit dan tak lama mendesah sedih.
Karena penasaran, gadis itu mencoba keluar dari kelas dan mendapati seseorang yang tak ia kenal memanggilnya.
“Arva!” seru laki-laki itu ceria.
Sekali lihat saja, Arva sudah mengetahui bahwa laki-laki inilah pemicu keributan tadi.
“Eh? Halo ….” Arva membalas dengan senyum canggung, meski dalam kepala panik mencari-cari: Siapa dia? Dari mana dia tahu namaku?
“Aku ke sini mencarimu,” ucap laki-laki itu seraya tersenyum lebar.
Arva mengerjap beberapa kali sebelum melanjutkan, “Maaf. Apa kita saling kenal? Aku tidak bisa mengingat kamu.”
Laki-laki itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Tidak, kita belum pernah bertemu.”
“Dan maaf, aku belum kenalin diri. Aku, Ryan,” ucap Ryan.
“Salam kenal, kalo gitu ….” gantung Arva, menatap tajam Ryan.
“Kenapa cari aku? Dan kenapa bisa tau nama aku?” lanjut gadis itu blak-blakan.
Ryan mendadak tertawa kecil, tapi cukup untuk membuat Arva dan para mahasiswi tersentak kaget.
Setelah puas tertawa, Ryan menyeka sudut matanya dan melanjutkan, “To the point ya, kalo gitu kita butuh privasi.”
Tak lama, Ryan meminta para mahasiswi itu memberinya dan Arva privasi. Tidak butuh waktu lama untuk mereka bubar. Hingga kini tersisa mereka berdua.
“Sebenarnya … aku udah tau soal kamu dari gosip orang-orang,” ucap Ryan.
“Dan menurut aku, kamu menarik. Jadi ….” lanjutnya, menggantung kalimatnya.
Arva mengecek jam tangan, lalu melipat kedua tangan di depan dada, “Hei … langsung aja.”
Ryan terkekeh geli sebelum melanjutkan, “Aku suka dengan kamu. Ayo kita pacaran.”
“Apa?” tanya Arva memastikan ia tidak salah dengar.
“Hm? Apa suara aku kekecilan?” tanya Ryan menelengkan kepala.
Ryan mencondongkan tubuh ke depan perlahan. Hingga, wajah mereka kini sejajar. Hanya berjarak beberapa senti.
“Ayo kita pacaran,” ulangnya, tersenyum lembut.
“Kamu tahu persis kita baru aja kenal,” ucap Arva, mengernyit bingung.
“Ya … aku tau,” ucapnya masih dengan senyum di wajahnya.
Tapi kali ini, ada yang aneh. Senyum Ryan terasa berbeda dari sebelumnya, hingga membuat Arva merasa tidak nyaman.
“Dan kamu pasti tau persis jawaban aku kan?” tanya Arva seraya tersenyum tipis.