“Heh! Cewek murahan!” gadis berkepang itu mendengus.
“Aku tau kamu lagi dekat sama Evan! Tapi ….” Gadis itu mengepalkan tangan dengan kuat.
“Kamu sekarang bahkan ngincar Ryan juga?” lanjutnya, melotot pada Arva.
Arva tetap bergeming dan masih mencerna situasi. Kemudian, ia menatap tajam Naya yang di seberangnya. Tapi, Naya hanya tersenyum tipis seolah tahu ini akan terjadi.
Gadis berkepang itu mengikuti arah tatapan Arva, kemudian ia tersenyum sinis.
“Kamu berharap Naya bantuin?” gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.
Lalu, ia menyeka sudut matanya dan melanjutkan, “Ternyata gosip soal kamu ternyata bohong ya. Kamu cuman cewek manja yang berharap bantuan orang!”
Arva menundukkan kepala dalam-dalam, ia menggigit keras bibir bawahnya.
“Kenapa diam aja? Jawab aku kalo berani!” seru gadis berkepang itu mengulas senyum tipis di sudut bibirnya.
Tak lama, anyir darah mulai terasa di lidah Arva. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, lalu bergumam pelan.
“Naya … kamu nggak apa-apa kan, kalo makan tanpa minum?”
Naya yang masih mengunyah, mengangkat sebelah alisnya. Belum sempat merespons, Arva dengan cepat menyambar gelas Naya dan menumpahkannya tepat di wajah gadis berkepang itu.
Gadis itu tersentak, bahunya menegang saat air dingin menetes dari ujung rambut hingga ke pipinya.
Arva bangkit berdiri menghadap gadis itu, “Aku nggak tau kamu siapa dan punya masalah apa, tapi ….” ucap Arva menahan suara agar terdengar datar.
“Aku baru aja yakin, kalo semua yang keluar dari mulut kamu cuman omong kosong!” lanjut Arva, melotot pada gadis itu.
Tubuh gadis berkepang itu gemetar, entah karena takut atau marah. Tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.
“Beraninya kau—”
Tanpa peringatan, gadis itu melayangkan tangan kanannya hendak menampar Arva.
Arva sempat melihatnya, cukup jelas untuk mengelak. Tetapi ia memilih diam. Sedetik kemudian, telapak tangan itu mendarat telak. Perih menjalar pelan di pipi kirinya, menyebar seiring waktu berlalu.
“Heh! Jangan kira kalo kamu—”
Suara tamparan keras menggema. Gadis berkepang itu terhuyung ke samping sebelum ambruk ke lantai. Matanya membelalak tak percaya, tak menyangka tenaga Arva akan sebesar ini.
Tubuhnya gemetar hebat dan tak lama, cairan merah mulai menetes dari hidungnya. Ia mimisan.
“Beraninya kamu ngelakuin ini! Aku ini pacar Ryan!” jerit gadis itu dengan keras.
Naya yang sedari tadi menonton dengan seru, akhirnya membuka suara, “Eh? Setau aku, Ryan lagi gak pacaran sama siapa-siapa.”
“Aku—”
Belum selesai gadis itu bicara, Naya menyunggingkan senyum lebar padanya.