Bangsat! Gadis itu sudah menguncinya. Arva lekas bangkit berdiri, meraih gagang pintu dan menariknya keras-keras.
“WOI, BUKA GAK?” jerit Arva, menepuk-nepuk pintu dengan keras.
Gadis berkepang itu tertawa makin keras, “Kita liat, besok bakalan muncul gosip apa.”
“Sialan!” gumam Arva pelan.
“Eh? Kamu barusan ngumpat?” tanya gadis itu, merasa tersinggung.
“Iya, bangsat!” balas Arva, suaranya makin meninggi.
Gadis berkepang itu terkekeh geli, “Wahhh, aku takut bangettt,” ucapnya, nada suaranya melengking.
“Oh, iya! Aku harap kamu ingat ini, namaku, Sofia,” ucap Sofia pelan.
“Dan aku … pacar Ryan,” lanjutnya, terdengar nada intimidasi dari suaranya.
“Dan kamu! Gak akan bisa dan gak akan pernah ngerebut Ryan dari aku!” seru Sofia, suaranya meninggi.
Rahang Arva mengeras, giginya bergemeretak. Tangannya terkepal membentuk tinju. Gadis itu diam sesaat.
“Hm? Kenapa diam aj—"
BRAK!
Mata Sofia membelalak, tubuhnya sedikit tersentak ke belakang. Ia yakin itu adalah tinju yang menghantam pintu toilet dengan keras.
“Aku udah bilang. Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Ryan,” ucap Arva pelan, matanya melotot ke pintu.
Sofia menelan ludahnya sendiri sebelum melanjutkan, “Hah! Kamu kira aku akan percaya?”
Sofia menghela napas, “Udahlah, ayo kita pergi aja,” ucapnya mengibaskan tangan, melangkahkan kaki menjauh dari toilet.
Sebenarnya, Sofia sendiri takut jika terlalu lama di sana. Bagaimana jika Arva nekat mendobrak pintu itu dan begitu ia keluar, Sofia-lah yang akan dibunuhnya?
Derap langkah menjauh dari balik pintu. Sofia sudah pergi.
“Bangsat cewek itu!” umpat Arva, menyisir rambutnya frustasi.
Arva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu mencoba meredam amarahnya, karena terbawa emosi tidak akan menuntaskan masalah.
Ia membalikkan badan, matanya meneliti seluruh ruangan. Mencoba mencari jalan keluarnya sendiri.
Tak lama, derap langkah kaki lain mulai mendekat dan semakin mendekat. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.
Arva menolehkan kepalanya, tidak dengan badannya. Matanya memicing tajam, seolah sudah tahu apa yang hendak ia lakukan.
***
“Aku tidak mau,” tolak Evan, tanpa berpikir panjang.