Dunia Cermin

Celyn
Chapter #6

Bab 6: Keluarga Cemara

Arva mendongak, matanya menyapu ruangan sempit itu. Satu-satunya jalan keluar selain pintu adalah jendela kecil di ujung ruangan.

Lantai dua … tapi di bawah ada kanopi. Kalo aku hati-hati, harusnya bisa, pikirnya cepat.

Arva mengambil ancang-ancang. Sebelah kakinya ia tumpukan di wastafel, lalu melompat. Tangannya berhasil meraih bingkai jendela itu erat-erat.

Dari balik pintu terdengar seseorang mulai membuka kunci. Arva menahan napas.

“Sekarang atau nggak sama sekali,” gumamnya pelan, menoleh sekilas pada pintu di ujung.

Ia mendorong tubuhnya ke celah jendela. Sesaat, kepalanya sudah menyembul keluar, angin sore langsung menerpa wajahnya.

“Ini … lebih tinggi dari yang aku kira,” Arva menelan ludah, matanya tetap terfokus pada kanopi di bawah.

Arva menarik napas dalam, lalu mulai melompat.

Bruk!

Arva terjatuh, tapi anehnya ia tidak merasakan sakit yang seharusnya.

“Hei … apa kau bisa bangun?” suara tercekik keluar dari bawah, disusul erangan tertahan.

“Kau—”

Ryan mengulas senyum tipis, disusul kekehan kecil, “Bisa kau … bangun? Aku … sesak.”

Arva tersentak, baru sadar ternyata ia menimpa Ryan, “Maaf!” serunya, buru-buru berdiri.

Laki-laki itu akhirnya bisa menghela napas lega. Tapi tak lama, ia menyipitkan mata ke lokasi Arva melompat. Wc cowok ….

Ryan bangun dari posisi baring, tapi tak berniat berdiri sepenuhnya, “Hei … kenapa kamu loncat dari sana,” jarinya menunjuk ke atas, persis ke tempat Arva melompat tadi.

Arva tertegun sejenak, bingung harus menjawab bagaimana. Sekelabat bayangan melintas di benaknya. Jika dipikirkan lagi, semua masalah hari ini ia dapatkan karena laki-laki ini menembaknya tadi siang.

Seketika, Arva merasa jengkel. Bagaimana tidak? Seharian ini gadis itu sudah ditimpa kesialan bertubi-tubi yang tiada henti!

“Kamu pikir saja sendiri,” Arva menepuk-nepuk debu di sweaternya, lalu berbalik pergi.

Baru satu langkah, kaki Arva sudah berhenti. Sekumpulan orang mulai mengerumuni mereka.

“Apa ini?” tanya Arva, bingung.

“Jelas mereka penasaran,” balas Ryan, tangannya menumpu semen lalu mendorong tubuhnya berdiri.

Ini buruk … kalau begini keinginan Sofia benar-benar terjadi! batin Arva, dirinya masih diam mematung di tempat, pikirannya melayang ke bagaimana cara lepas dari kerumunan ini.

Tepat saat itu, Evan muncul dari balik kerumunan. Ia hendak memanggil Arva, “Arva—”

Belum sempat Evan menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu sudah ditarik pergi oleh Ryan.

Lihat selengkapnya