Evan mengangkat gelas susu ke bibirnya, meminumnya perlahan. Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.
Adrian masuk. Tanpa menoleh, tanpa suara.
“Adrian,” panggil Evan.
Tidak ada jawaban. Adrian terus berjalan, seolah tak mendengar apa-apa.
“Adrian,” ulang Evan, kali ini meninggikan sedikit suaranya.
Langkahnya tetap sama. Cuek.
Ibu masuk ke dapur tepat saat itu. Ia melihat Adrian berlalu begitu saja, dan melihat gelas Evan yang masih setengah terisi.
Ibu menghela napas panjang. Kekesalan kemarin yang sempat mereda, kini muncul lagi.
“Anak itu benar-benar tidak bisa diatur!” wanita itu menggeleng-geleng kecil, tak sanggup melihat kelakuan Adrian.
Tiba-tiba wanita itu seakan mengingat sesuatu.
“Evan!” serunya, nada suaranya datar, tapi menyimpan sesuatu di baliknya, “Kamu sibuk?”
Evan menurunkan gelasnya. Diam sejenak.
“Aku … mau ke toko buku sih.”
Evan menelengkan kepala. Matanya menyipit sedikit, menatap wajah ibunya, “Ibu perlu sesuatu denganku?”
“Ah! Tidak! Tidak ada apa-apa,” balas ibunya, melambai-lambaikan tangan kanannya di depan dada.
“Kau pergi ke toko buku saja, kau perlu belajar dengan baik!”
Evan diam sejenak. Ganjil rasanya. Ibu yang biasa mendesaknya soal nilai, kini malah bertanya seperti ini.
Meskipun banyak pertanyaan yang ingin Evan utarakan. Tapi, ia memilih bungkam, dan mengangguk kecil.
***