Arva membatu. Wajahnya memucat. Buku itu masih tergantung di udara, tak ada yang mengambilnya. Tangan Evan pun ikut kaku, terpaku pada wajah di depannya.
“Arva?” panggil Evan pelan, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Arva tersentak. Secepat kilat, ia menarik hoodie-nya kembali menutupi kepala, menyembunyikan wajahnya yang kini memerah.
Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari.
“Eh—Arva! Tunggu!” seru Evan, kebingungan melihat reaksi Arva yang tiba-tiba.
Ia buru-buru mengejar, melewati rak demi rak, membuat beberapa pengunjung menoleh heran.
Kenapa dia lari? Apa aku salah ngomong? batin Evan, sama sekali tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Arva terus berlari, menyusup di antara rak-rak buku, menabrak bahu seorang pengunjung tanpa sempat minta maaf. Ia hanya fokus pada satu hal. Kabur secepat mungkin.
“Arva!” suara Evan masih terdengar, tapi semakin jauh di belakangnya.
Ia berbelok, keluar dari toko buku, terus berlari hingga napasnya tersengal. Baru setelah merasa cukup jauh, langkahnya melambat, lalu berhenti di sudut sepi sebuah gang kecil.
“Syukur … lah,” gadis itu menghela napas lega, hampir tersenyum karena berhasil kabur. Tapi kelegaan itu tak bertahan lama.
Matanya menangkap pantulannya sendiri di kaca etalase toko di seberang gang.
Rambutnya awut-awutan, berantakan ke segala arah. Lalu bajunya ….
Astaga ….
Ia baru sadar, dari tadi ia masih mengenakan piyama tidurnya. Kaus longgar bermotif kartun, celana pendek yang jelas bukan untuk keluar rumah, dan hoodie asal sambar yang ia pakai buru-buru tadi.
“Bagus sekali, Arva. Ketemu Evan setelah sekian lama dan penampilanmu kayak habis bangun tidur.”
Evan berjalan kembali ke arah kasir, napasnya masih sedikit tersengal, keningnya berkeringat tipis.
Max yang melihatnya mendekat langsung menegakkan badan, alisnya terangkat.
“Ada apa? Kenapa kelihatan capek banget?” tanya Max, melirik ke pintu masuk, mencari sosok berhoodie tadi. “Evan, tadi cewek hoodie itu tiba-tiba lari keluar, nggak tahu kenapa.”
Evan tidak langsung menjawab. Ia masih mengatur napasnya sebelum bicara. Tapi, belum sempat ia bicara, Max sudah membekap mulutnya sendiri seakan melihat sebuah keajaiban di depan matanya.
“Kau … jangan-jangan—”