Arva menoleh perlahan, dan benar saja. Evan berdiri di sana, tangan disilangkan ke dada, alis terangkat menunggu jawaban.
“E-Evan?” Arva mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang.
“Kenapa kamu tadi lari? Yang di toko buku kemarin juga,” tanya Evan, nadanya datar. Tapi matanya menatap lekat, seolah tak mau kehilangan reaksi Arva sedikit pun.
“Aku … nggak lari kok,” jawab Arva asal, matanya bergerak liar mencari celah kabur.
“Terus tadi apa? Lari maraton?” balas Evan, satu sudut bibirnya sedikit terangkat.
Arva mendengus kesal, wajahnya makin memanas.
Belum sempat Arva membalas, Evan mengulurkan sesuatu ke depan. Buku bersampul biru muda, dengan judul emas yang berkilau di bawah cahaya pagi.
Mata Arva melebar.
Itu … buku yang ia incar. Buku yang tak sanggup ia raih di rak paling atas. Buku yang membuatnya sampai nekat pakai piyama keluar rumah.
“Ini ….” Arva menatap buku itu, lalu menatap Evan bergantian, tak percaya. “Kok bisa ada sama kamu?”
“Aku beli,” jawab Evan singkat, masih menyodorkan buku itu. “Buat kamu.”
Arva terdiam. Untuk sesaat, semua alasan untuk kabur menguap begitu saja dari kepalanya.
Tapi detik berikutnya, kesadaran menghantam balik. Wajahnya yang berantakan, rambutnya yang awut-awutan, dan piyama kartun yang masih melekat di badannya.
“M-makasih,” Arva menyambar buku itu secepat kilat, lalu tanpa aba-aba, berbalik dan berlari lagi.
Evan berdiri mematung, menatap sudut kosong tempat Arva menghilang. Tangannya yang tadi menyerahkan buku kini menggantung kaku di udara.
“Ternyata benar … dia ngehindarin aku.”
***
“Akhirnya berhasil kabur!” seru Arva tertahan, bersandar pada dinding koridor.
Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat. Ia menunduk, kedua tangan bertumpu di lutut, keringat menetes dari ujung dagunya.
“Dipikirin lagi, kenapa aku harus lari dari Evan?” gumam Arva pelan.